16 August 2019, 01:00 WIB

Pesona Kayutangan dalam Sentuhan Heritage


(*/BN/S1-25) | HUT RI

DOK HUMAS PEMKOT MALANG
 DOK HUMAS PEMKOT MALANG
KAMPUNG HERITAGE KAYUTANGAN KOTA MALANG

KAMPUNG Kayutangan yang berada di Kota Malang, Jawa timur, dalam beberapa tahun terakhir menjadi destinasi wisata. Lokasi kampung cukup mudah ditemukan karena tak jauh dengan Stadion Gajaya-na dan Alun-Alun Merdeka.

Kampung wisata terse-but setidaknya ada 30 objek yang menarik, di antaranya rumah galeri antik, masjid tua, rumah punden, kuburan tandak, pintu 1870, rumah jengki, rumah kartini, rumah tua, rumah cerobong, dan tangga 1000 Belanda.

Kampung Kayutangan me-rupakan kampung eksotis dan bernilai sejarah lintas masa. Pada masa pemerin-tah kolonial, Belanda mem-bagi kawasan permukiman menjadi tiga bagian, yakni kawasan warga Eropa di ba-rat daya Alun-Alun Merdeka, yaitu Talon, Kayutangan, Oro-oro Dowo, Claket, Klojen Lor, dan Rampal.

Peruma-han berasitektur Eropa ber-cirikan kubus membentang dari ujung kantor PT PLN (Persero) sampai Alun-Alun Merdeka.Wilayah warga Tiongkok di Pecinan, kawasan Pasar Be-sar Malang, sekitar kelenteng di sebelah Pasar Kebalen, sedangkan penduduk lokal tersebar di kawasan Kebalen, Temenggungan, Jodipan, Tal-on, dan Klojen.

Ada dua versi mengapa ka-wasan itu disebut Kajoetan-gan. Pertama, sebelum 1914, di pinggir jalan itu terdapat papan penunjuk arah yang dibuat Belanda berbentuk menyerupai tangan.

Kedua, di ujung alun-alun kota terdapat pohon menyerupai tangan. Entah mana yang benar, tapi sejarawan Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono, sedang menggarap sejarah komplet Kayutangan.

Yang jelas pada periode 1914-1939, tata kota sudah teratur dan modern, jalan-jalan protokol di pusat Kota Malang berlampu listrik. Namun, local wisdom di kam-pung Kayutangan tak luntur sampai sekarang.

Sepanjang mata meman-dang di gang-gang dengan lebar sekitar 1 meter sampai 3 meter di kawasan Kayutangan terlihat sangat bersih. Kondisi lingkungan itu menunjukkan masyarakat peduli penting-nya hidup sehat.

Saluran air pun tertata rapi dan bersih. Tanaman hias dan tanaman toga berada di sepanjang gang menun-jukkan urban farming yang sempurna. Barang-barang antik pun dipajang di hala-man rumah menambah daya tarik bagi pariwisata.

Uniknya, setiap rumah warga terpampang papan bertuliskan identitas pemilik, tahun rumah dibangun, luas bangunan, pemilik pertama, dan tipe arsitektur. Di rumah milik Rudi Haris, misalnya, terpasang papan identitas bertuliskan 'Rumah Mbah Ndut, Jalan Basuki Rahmad Gang 4 No 938, dibangun pada 1923.

Pemilik pertama kelu-arga Mardikyah. Bangunan berukuran 148 meter persegi tersebut merupakan rumah Saadiyah mempunyai tipe atap pelana.Sepanjang kaki melangkah di kampung Kayutangan tak ada bosannya. Wisatawan bisa memilih tempat beristi-rahat di kedai kudapan dan minuman yang didesain tem-po dulu sembari swafoto.

Wisatawan dari Cibubur, Jakarta Timur, Titik Sunarsih, dan putrinya, Gumpita Windy Destiyanti, menyatakan ber-wisata di Kayutangan sangat mengasyikkan. "Kampungnya bagus dan bersih," ujar Titik, Kamis (8/8). Selama tiga hari di Kota Malang, ia juga su-dah mengunjungi Kampung Warna-Warni di Jodipan. "Di Jakarta belum ada kampung seperti Kayutangan. Harus-nya bisa dibikin seperti ini di Jatinegara," imbuhnya.

Bangun kampungKetua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kayu-tangan, Rizal Fahmi menga-takan, kunjungan wisata sudah mencapai 1.800 orang per pekan.

Pokdarwis terdiri atas tiga rukun warga (RW), yaitu RW 9, RW 1, dan RW 10 terus membenahi kampung sembari meningkatkan ka-pasitas sumber daya manusia (SDM).

Setelah menata ruang ling-kup kawasan, kini Pokdarwis menyiapkan SDM seiring dengan kunjungan wisata yang terus meningkat. "Kami menyiapkan guide, mereka dilatih dan dibekali kemam-puan berbahasa Inggris kerja sama dengan Universitas Brawijaya," kata Rizal.

Penasihat Pokdarwis Kayu-tangan, Rudi Haris, mengung-kapkan sepanjang pinggir sungai di Kayutangan pernah jadi pusat rombengan (pasar barang bekas) Talun sejak 1960 sampai 1970-an. Akhirnya, kesadaran warga mulai tumbuh untuk mengu-bah wajah kota dari kumuh menjadi destinasi wisata.

Upaya itu berhasil sejalan dengan program Pemerintah Kota (Pemkot) Malang da-lam memperluas kampung tematik. Semula Kayutangan dide-sain sebagai kampung religi karena ada makam sesepuh Kayutangan, Mbah Honggo Kusumo, dianggap sebagai pepunden. Keberlanjutan sebagai kampung wisata sem-pat vakum hingga 2017.

Ma-syarakat mulai meningkatkan kembali semangat memba-ngun kota setahun kemudian dengan mengubah konsep menjadi kampung heritage. Tujuan akhirnya menjadikan kampung wisata dengan ling-kungan yang bersih, sehat, serta warganya hidup aman dan sejahtera.Sejak 2018, warga kian getol berkumpul, menggelar rapat, berdiskusi, mening-katkan kapasitas hingga studi banding ke Surabaya.

Parti-sipasi aktif warga bermodal awal patungan Rp50 ribu per kepala keluarga. Modal itu digunakan untuk membenahi lingkungan.Pemkot Malang, Ikatan Ar-sitek Indonesia (IAI), perguru-an tinggi, dan Bank Indonesia di Malang turut mendukung penataan kampung heritage.

Rudi mengatakan, beberapa tahun lalu sempat membuka usaha warung serbaada. Kini ia beralih usaha kafe kopi karena dinilai lebih mengun-tungkan lantaran Kayutangan jadi destinasi pariwisata. Rezeki mengalir dari kedai kopi miliknya yang ramai dikunjungi wisatawan. Ia dan warga lainnya menyongsong perubahan kampung dengan membuka kedai makanan, minuman, dan kudapan sete-lah kampung setempat makin banyak dikunjungi wisatawan domestik dan mancanegara.

Kios barang antik milik warga juga menemukan pasarnya, menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Perekono-mian warga setempat mulai tumbuh sejalan dengan pari-wisata baru heritage.

Sementara itu, Dinas Ling-kungan Hidup Pemkot Ma-lang terus mengawal pem-bangunan, turut membenahi penghijauan, konservasi air, pemberdayaan masyarakat, pengelolaan sampah lengkap dengan sarana dan prasara-nanya.

Kebersihan lingkun-gan tumbuh dengan sangat baik menunjukkan kesadaran warganya yang serius dalam melestarikan lingkungan de-ngan menonjolkan heritage.

Ibu kota heritageWali Kota Malang, Drs H Sutiaji, dan Wakil Wali Kota Malang, Ir H Sofyan Edi Jar-woko, segera menetapkan Kayutangan sebagai ibu kota heritage Kota Malang."Sebentar lagi kami akan menetapkan Kayutangan sebagai ibu kota heritageKota Malang karena Kayu-tangan merupakan nama daerah yang tidak dimiliki oleh daerah lain sekaligus dalam rangka menjaga arsip sejarah dari Kota Malang ini," tegas Wali Kota Malang dalam sambutannya di acara Sosialisasi Perlindungan dan Penyelamatan Arsip Sejarah 2019.

Selain kampung heritage, Pemkot Malang juga mengem-bangkan smart city dan smart government sehingga masya-rakat dapat terlayani dengan baik. "Di saat legitimasi ma-syarakat terhadap pemerin-tahan tinggi, secara otomatis program-program pemerin-tah nanti akan diedukasi, di-publish, dan didukung oleh masyarakat.

Rasa me-miliki masyarakat terhadap government-nya tinggi."Smart city menuju smart government ini akan berjalan pada 2020. Pemerintah juga akan membentuk Dewan Smart City yang terdiri atas akademisi, pebisnis, per-bankan, komunitas, peme-rintah, dan media. Smart cityialah salah satu alat untuk terwujudnya good govern-ment.Pemkot Malang dan seluruh elemen di dalamnya bertekad terus berupaya mewujud-kan Malang Digital Creative City.

Futuristis, humanis, dan mendunia akan menjadi visi kreatif yang dirumuskan Kota Malang setelah terpilih sebagai salah satu dari empat role model kabupaten/kota kreatif oleh Bekraf pada Juni 2019. "Kami menilai bahwa ekonomi kreatif mampu me-lipatgandakan nilai ekono-mis berbagai produk lokal sehingga harapannya dapat mempercepat upaya pening-katan kesejahteraan," ujar Sutiaji.

Subsektor gim dan aplikasi menjadi subsektor prioritas pada arah ekonomi kreatif di Kota Malang. Selain itu, sub-sektor kuliner dan subsektor film, video, serta animasi juga menjadi subsektor unggulan yang dapat berkembang pe-sat di Kota Malang.Sekarang, kampung wisa-ta heritage makin mena-sional, bahkan mendunia.

Agenda wisata uklam-uklam(mlaku-mlaku/jalan-jalan) Kayutangan dan gelaran Malang Tempo Dulu menjadi spirit pengembangan wisata heritage Kota Malang yang eksotis. (*/BN/S1-25)

BERITA TERKAIT