16 August 2019, 00:00 WIB

Pendidikan di Kaltara Perlu Sentuhan Ekstra


EKO RAHMAWANTOeko@mediaindonesia.com | HUT RI

ANTARA/FACHRURROZI
 ANTARA/FACHRURROZI
 Sejumlah siswa Sekolah Tapal Batas Ibtidaiyah Ar-Rasyid mengikuti upacara bendera di dekat wilayah perbatasan di Desa Sungai Limau, Sebatik

Standar kompetensi lulusan SMA ialah seberapa banyak lulusan yang diterima di perguruan tinggi. Kalau SMK, seberapa banyak bisa ditampung di dunia kerja.

KEPALA Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) Sigit Muryono mengatakan pembangunan sarana dan prasarana pendidikan perlu mendapat sentuhan dari pemerintah pusat.

"Mulai 12 Januari 2017, saat mulai menjabat, kita mampu merehabilitasi SMA Negeri 1 Nunukan dan SMK Negeri 2 Tanjung Selor. Dan perlu diyakini untuk didukung pemerintah pusat untuk dapat sentuhan," kata Sigit.

Untuk standar nasional pendidikan itu ada delapan, yakni standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses, standar pendidikan dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan pendidikan, dan standar penilaian pendidikan.

"Jadi ujungnya, standar kompetensi lulusan. Kalau lulusan SMA, seberapa banyak lulusan SMA yang diterima di perguruan tinggi. Kalau SMK, seberapa banyak bisa ditampung di dunia kerja," kata Sigit.

Sementara itu, kalau bicara sarana dan prasarana, menurutnya baru 1/8 dan sarana prasarana tidak menjadi kendala karena ujungnya mutu lulusan. "Sebelum mutu lulusan harus bagaimana pengendalian dan kualitas lembaga pendidikannya. Buktinya dengan akreditas dari delapan standar nasional pendidikan dan bila lulus akreditas minimal B." Namun, soal alokasi APBD Kaltara untuk bidang pendidikan apakah sudah mencapai 20%, Sigit enggan untuk menjawabnya karena dievaluasi tiap tahun.

Sementara itu, untuk pembangun sekolah baru ada di wilayah Tanjung Palang

Tengah, dari SMA swasta menjadi negeri diupayakan membangun dengan

menggunakan APBD. Jika tidak ada, diupayakan unit sekolah baru menggunakan APBN. "Pembangunan sekolah baru diupayakan di kawasan zona PPDB (penerimaan peserta didik baru) untuk menampung siswa," katanya.

Nusantara

Di sisi lain, sebanyak 23 pelajar SMA dan SMK di Kalimantan Utara

mengikuti program Siswa Mengenal Nusantara Tahun 2019 ke Tanjung

Pinang, Kepulauan Riau.

Mereka yang terpilih ialah siswa berprestasi dan kurang mampu, juga belum pernah naik pesawat. Para siswa tersebut dilepas Sigit Muryono di Gedung Serbaguna Pemkot Tarakan.

"Sebanyak 23 siswa, di antaranya ada tiga siswa luar biasa (SLB). Semuanya mewakili lima kabupaten/kota di Kaltara. Paling banyak siswa dari Tarakan, yakni sembilan orang. Para siswa akan mengikuti program

Mengenal Nusantara selama 7-10 hari, dan mengenalkan budaya khas

Kaltara," kata Sigit.

Menurut Sigit, dengan program Siswa Mengenal Nusantara 2019, berarti siswa tidak hanya belajar dan membaca dari buku, tetapi juga melihat langsung daerah lain.

"Sebelumnya, mereka (para siswa) sudah mempelajari tentang Kepri, untuk

dapat beradaptasi dan mengadopsi karena mereka calon pemimpin 15 tahun

mendatang."

Sementara itu, salah satu siswa yang mendapat kesempatan mengikuti program itu, yakni Gusti Prasetyo, siswa SMA Negeri 2 Tarakan yang duduk di kelas 11.

Dia mengatakan seleksi yang dilakukan mengenai kemampuan dan prestasi termasuk budaya. Para siswa akan mempromosikan budaya dan pariwisata, di antaranya wisata kuliner. Di Tarakan ini paling terkenal kuliner kepiting soka yang cangkangnya lunak sehingga bisa dimakan. (X-3)

BERITA TERKAIT