14 August 2019, 07:20 WIB

Obat Penyembuh Kanker Kayu Bajakah Segera Dipatenkan


mediaindonesia | Humaniora

 MI/sriyanti
  MI/sriyanti
Guru pembimbing kedua peneliti kayu bajakahtunggal obat penyembuh kanker

TEMUAN obat penyembuh kanker dari kayu bajakah tunggal hasil karya ilmiah siswa SMAN 2 Palangkaraya, Kalimantan Tengah, akan dipatenkan. Penelitian itu dilakukan selama dua tahun dan berhasil meraih medali emas dalam World Invention Creati-vity Olympic (WICO) di Seoul, Korea Selatan, pada 28 Juli 2019.

"Kita segera mematenkan hak kekayaan intelektual ( HKI) mengenai karya ilmiahnya," ucap Herlita Gusran, guru pembimbing siswa tersebut.

Dijelaskan Herlita, penelitian itu dilakukan anak didiknya, Anggina Rafitri dan Aysa Aurealya Maharani sejak 2017 lalu, didasari oleh kearifan lokal. Selama ini, bajakah merupakan obat turun temurun suku Dayak.

"Sejak tahun 2017 itulah anak didik kami melakukan penelitian dan kami juga melakukan penelitian di Universitas Lambung Mangkurat, Kalsel, untuk melihat senyawa aktif yang ada di dalamnya," bebernya.

Setelah pengujian laboratorium, tanaman bajakah terbukti mengandung 40 macam zat penyembuh kanker, di antaranya saponin, fenolik, steroid, terpenoid, tannin, alkonoid, dan terpenoid.

Sebagai pembuktian, pengujian dilakukan pada tikus putih kecil yang mengidap tumor. Setelah diuji dengan memberikan minum air kayu bajakah tunggal selama dua pekan ternyata tumor yang ada didalam tubuh tikus kecil itu hilang dan sembuh. "Bahkan tikus itu berkembang biak," sahutnya.

Untuk mengolah tanaman bajakah menjadi obat kanker, prosesnya dilakukan melalui pengeringan dengan bantuan matahari. Tanaman yang telah mengering dicacah, ditumbuk hingga menjadi bubuk dan direbus.

Satu gram bubuk bajakah direbus dengan air selama 30 menit dan minum air rebusan tersebut sebagai pengganti air minum setiap hari. Untuk rasa, rebusan air bajakah memiliki warna seperti teh dan rasa yang hambar.

Sebelum mewakili Indonesia di Korea Selatan, Pada 12 Mei 2019 karya ilmiah tentang tanaman bajakah dilombakan di Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, dan meraih medali emas dan keluar sebagai juara nasional.

Dikutip dari Antara, selain bajakah, suku Dayak masih memiliki puluhan jenis tanaman hutan yang sudah diidentifikasi berpotensi sebagai bahan obat yang memerlukan penelitian saksama. Mulai dari manggis hutan, sangeh, lali, kayu busi atau sisik saluang, paku bukit, suli, hingga kayu kamal atau pupuk sutera.

Puluhan tanaman tersebut sering digunakan penduduk Suku Dayak yang hidup terpencil untuk menjaga kesehatan maupun menyembuhkan penyakitnya secara tradisional. (SS/H-2)

BERITA TERKAIT