14 August 2019, 07:00 WIB

Deteksi Dini Cegah Hepatitis


(Nik/H-2) | Humaniora

ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo/
 ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo/
DETEKSI DINI PENYAKIT HEPATITIS

Hari Hepatitis Sedunia diperingati setiap 28 Juli. Tahun ini tema yang diangkat ialah Find the missing millions, temukan jutaan yang hilang, yang didasari fakta banyak pengidap hepatitis yang tidak terdeteksi.

Dari berbagai tipe hepatitis, hepatitis B dan C perlu mendapat perhatian lebih karena bisa berkembang menjadi penyakit kronis (menahun) menular dengan komplikasi berat berupa, sirosis (kematian jaringan) dan kanker hati.

"Data penelitian menyebutkan, 25%-30% penderita hepatitis kronis berakhir dengan sirosis dan kanker hati," terang Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia, dr Irsan Hasan SpPD-KGEH, pada edukasi kesehatan terkait dengan Hari Hepatitis Sedunia yang digelar PT Kalbe Farma Tbk di Jakarta, belum lama ini.

Sayangnya, lanjut Irsan, yang terdeteksi sedikit sekali. Ia mencontohkan hasil program pengobatan gratis hepatitis C yang diselenggarakan Kementerian Kesehatan. Selama 2017 sampai Mei 2019, penderita yang terobati 'hanya' 3.818 orang. Padahal, prevalensinya 1%, yang artinya ada 2,5 jutaan orang pengidap hepatitis C di Indonesia.

Sebagian besar kasus hepatitis B dan C tidak menimbulkan gejala mengganggu sehingga pengidapnya tidak terdorong untuk memeriksakan diri. Karena itulah, rata-rata usia harapan hidup pasien kanker hati di Indonesia hanya 5-6 bulan setelah terdeteksi.

"Rata-rata, mulai terinfeksi hingga timbul sirosis atau kanker hati diperlukan waktu 20-30 tahun. Bahkan, ketika penderita hepatitis sudah sampai di tahap kanker hati pun, tidak serta-merta menimbulkan gejala. Gejala timbul ketika kankernya sudah di stadium lanjut," bebernya.

Pentingnya screening

Irsan pun menekankan pentingnya tes screening dengan pemeriksaan darah. Screening juga penting untuk mereka yang sudah diketahui sakit hepatitis untuk mendeteksi dini kanker hati.

"Kanker hati kalau ukurannya masih di bawah 3 sentimeter, bisa disembuhkan. Bagaimana cara mendeteksi kanker yang masih kecil itu? Lewat USG liver," imbuh Irsan.

Ketika seseorang terdeteksi terinfeksi virus hepatitis C, dokter akan memberikan obat. Adapun untuk hepatitis B, dokter akan mempertimbangkan apakah pasien perlu diberi obat atau tidak.

"Pengobatan hepatitis B bersifat jangka panjang, bisa seumur hidup," tambah dr Rino A Ghani SpPD-KGEH, spesialis penyakit dalam dari FKUI-RSCM itu.

Terkait dengan pengobatan jangka panjang itu, Marketing Director PT Kalbe Farma Tbk, Ridwan Ong, menjelaskan Kalbe berupaya memroduksi obat dengan nama generik entecavir yang harganya 40% lebih murah dari originator-nya (obat paten sejenis yang ditiru).

"Obat ini sudah masuk daftar Formularium Nasional, tapi belum masuk jaminan BPJS Kesehatan. Kami sedang mengupayakan ke arah sana," ucap Ridwan.

Rino menambahkan, penularan hepatitis B dan C tidak semudah penularan flu. Hepatitis B dan C menular saat terjadi kontak dengan darah dan cairan tubuh penderita.

Hal ini ditekankannya karena masih ada diskriminasi terhadap penderita hepatitis. Salah satu pasien Rino, nyaris batal menikah karena hasil pemeriksaan kesehatan pranikah menunjukkan dirinya mengidap hepatitis B.

"Untuk hepatitis B memang belum ada obat yang bisa membasmi tutas, tapi sudah ada vaksinnya untuk mencegah penularan," jelas Rino. (Nik/H-2)

BERITA TERKAIT