14 August 2019, 06:40 WIB

Dampak Polusi, Paru-paru Menua Lebih Awal


Indriyani astuti indriyani@mediaindonesia.com | Humaniora

WHO/Kemenkes/Tim riset MI grafis Seno
 WHO/Kemenkes/Tim riset MI grafis Seno
Penyebab dan Dampak Polusi Udara


POLUSI udara menyebabkan paru-paru menua lebih dini. Demikian salah satu temuan peneliti dari Sekolah Ilmu Kesehatan dan Lingkungan Kependudukan di Inggris, seperti dilansir dari King’s College.

Tim peneliti mempelajari data Biobank Inggris pada lebih dari 300.000 orang berusia 40-69 dan menguji fungsi paru-paru mereka. Dari hasil penelitian, pada warga Inggris, peneliti menemukan penuaan paru-paru empat tahun lebih cepat secara rata-rata selama masa hidupnya akibat polusi.

Dua pertiga populasi di Inggris tinggal di daerah yang mengandung 10 mikrogram partikulat kecil per meter kubik sehingga mereka terpapar polusi dalam jangka waktu lama. Jika manusia terpapar udara yang mengandung lima mikrogram polusi partikulat kecil per meter kubik dalam jangka panjang maka paru-paru mereka mengalami penuaan dini hingga dua tahun.

Polusi partikel ialah campuran dari tetesan padat dan cair di udara dan dapat datang dalam bentuk kotoran, debu, jelaga, atau asap, berasal dari tambang batu bara dan gas alam, mobil, pertanian, jalan yang tidak beraspal, dan lokasi konstruksi.

Di Indonesia, polusi udara disebabkan polusi kendaraan bermotor, kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), dan emisi pabrik. Karhutla di sejumlah daerah bahkan menimbulkan kabut asap yang cukup parah.

Dokter spesialis paru Rumah Sakit Universitas Indonesia, Gatut Priyonugroho mengatakan, dampak polusi udara bisa dirasakan dalam jangka pendek, menengah, dan jangka panjang. "Dalam jangka pendek, bisa dia bronkitis, dahaknya banyak, kemudian pasien batuk-batuk," terangnya.

Jika terpapar polusi dalam jangka lebih lama lagi, dampak yang terjadi adalah menurunnya kekebalan tubuh sehingga kuman mudah menyerang. Jika keluhan tidak segera diatasi, hal itu akan memicu munculnya infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), Tuberculosis (TBC) yang kasusnya kini cukup banyak diderita masyarakat. "Per 100.000 penduduk ada 647 orang yang sakit. Nah itu kalau kekebalan tubuhnya rendah jadi mudah sakit," kata Gatut.    

Pada jangka panjang, lanjutnya, paparan polusi udara akan menyebabkan penyakit berat seperti kanker paru dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).   "Kalau sudah jatuh ke kondisi PPOK, dianggap sudah tidak bisa sembuh. Pasien harus pengobatan rutin untuk meningkatkan kualitas hidup agar kondisinya bagus, namun paru-parunya tetap rusak," cetusnya.

Untuk kanker paru, kata Gatut, diagnosis harus segera ditegakkan. Pasien harus segera berobat agar mengetahui jenis kankernya seperti apa dan harus segera pula diobati. "Karena kalau sudah stadium empat, kalau tidak diobati, harapan hidupnya sekitar lima bulan sejak didiagnosis. Kalau stadium satu masih bisa sembuh," pungkasnya.

 

Kelompok rentan

Ketua Departemen Paru Fakultas Kedokteran UI RSUP Persahabatan DR dr Agus Dwi Susanto SpP(K), FAPSR, FISR menyatakan ISPA merupakan kasus penyakit yang paling sering muncul apabila kadar polutan di udara sudah sangat buruk. "Selain ISPA, bisa juga laringitis, faringitis, dan iritasi mata," tambahnya.

Agus menyatakan, anak-anak dan ibu hamil paling rentan terkena penyakit karena polusi. “Pada anak, bisa meningkatkan risiko ISPA. Karena kalau terjadi iritasi, tenggorokan mengalami peradangan, infeksi,” jelas Agus.

Ia mencontohkan, kasus ISPA dalam jumlah besar menimpa anak-anak saat terjadi karhutla di Riau pada 2015. Ibu hamil, menurut Agus, juga rentan terpapar. Polutan yang masuk ke tubuh ibu hamil bisa memengaruhi kesehatan janin.

Orang-orang yang bekerja di luar ruangan, lanjut Agus, juga cenderung mengalami penuruan fungsi paru. “Pada polisi lalu lintas, penya-pu jalan, petugas jalan tol, penjual koran, terlihat penurunan fungsi paru yang signifikan,” ujarnya.

Mengutip data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), polusi udara di seluruh dunia berkontribusi 25% pada seluruh penyakit dan kematian akibat kanker paru, ISPA 17%, stroke 16%, jantung iskemik 15% dan PPOK 8%.

 

Tiga pencegahan

Pencegahan primer terhadap dampak polusi udara bisa dilakukan dengan meningkatkan gaya hidup sehat, menghindari asap rokok, dan sebagainya. Sedangkan pencegahan sekunder seperti memakai masker, bisa dilakukan untuk meminimalisir dampak akibat polusi, jika sudah ditemukan agen penyebab sakitnya.

Terakhir, pencegahan dilakukan ketika penyakit sudah muncul dan dijaga agar tidak bertambah parah. "Itu namanya pencegahan tersier. Misalnya pasien yang sudah PPOK menghentikan kebiasaan merokok. Sudah sakit sih, tapi untuk menghindari penyebab sakitnya, merokoknya berhenti," tandas Gatut.

Imbauan pencegahan sekunder dengan memakai masker diberikan Kementerian Kesehatan pada wilayah terdampak kabut asap akibat karhutla. Warga setempat, khususnya kelompok rentan diminta untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan.

“Masker yang digunakan bukan masker yang biasa digunakan tenaga medis di ruang operasi. Masker yang dibutuhkan yang bisa menyaring partikel polutan yang berukuran kecil. Terutama saat jam-jam sibuk kendaraan membuat polusi semakin berat,” jelas Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Imran Agus Nurali.

Pemerintah daerah telah diberikan panduan jika bencana kabut asap semakin memburuk, dengan menyediakan rumah singgah dan menaati prosedur. Tersedianya rumah singgah atau shelter akan membuat masyarakat tetap bisa beraktivitas. Selain itu, ada prosedur agar polutan dari luar tidak masuk ke ruangan yakni dengan menutup jendela, menyediakan penjernih udara (air purifier), dan kebutuhan seperti bahan makanan sehingga masyarakat tidak perlu keluar rumah atau tempat singgah. (Ant/H-3)

BERITA TERKAIT