14 August 2019, 05:00 WIB

Woodstock, Puncak Mimpi Kaum Hippie


(Bangkokpost/Tesa Oktiana Surbakti/I-1) | Internasional

Photo by Annie BIRCH / Annie BIRCH personal collection / AFP)
 Photo by Annie BIRCH / Annie BIRCH personal collection / AFP)
Dalam foto tak bertanggal ini, orang-orang beristirahat di perkemahan Festival Musik Woodstock selama akhir pekan 15 hingga 18 Agustus,

SEBUAH akhir pekan dengan kesenangan tanpa batas. Area peternakan di New York pun diubah sekelompok pemuda menjadi kota berukuran sedang. Sebuah perayaan musik rock dan impian utopis.

Woodstock mencakup banyak hal. Namun, satu yang pasti, perayaan itu dipuja banyak orang sebagai batu ujian budaya suatu generasi. Festival perdamaian, cinta, dan musik, yang dimulai pada 1969, mencapai usia 50 tahun pada akhir pekan ini.

Diperkirakan, sekitar 400 ribu-500 ribu orang mengikuti festival di area Max Yasgur, New York, pada 15-18 Agustus mendatang. Mereka akan memulai perjalanan nostalgia dengan menikmati suguhan karya ikonik dari Janis Joplin, Jimi Hendrix, dan Santana.

Awalnya, pihak panitia mengenakan biaya sebesar US$18 kepada pengunjung festival yang mulai menampilkan sejumlah kelompok musik rock legendaris seperti Creedence Clearwater Revival, The Who, Crosby, Stills, dan Nash and Young.

Ketika kabar konser rock perdesaan berkembang luas, banyak orang rela menelusuri jalan desa yang berliku ke lokasi festival di White Lake, sebuah dusun di kota kecil Betel, sekitar 100 kilometer (km) barat daya Kota Woodstock.

Sri Swami Satchidananda, seorang guru yoga dari India, membuka festival dengan pidato yang menggaungkan belas kasih. Woodstock diharapkan menjadi aktualisasi budaya tanpa kekerasan. "Saya sungguh bahagia melihat seluruh pemuda Amerika berkumpul di sini, atas nama seni musik yang sangat baik," ucap pria berjanggut yang duduk bersila di depan kerumunan massa.

Setelahnya, Country Joe McDonald dari kelompok musik rock psikedelik, Country Joe & the Fish, memainkan lagu protes antiperang I-Feel-Like-I'm-Fixin'-to-Die Rag. Ketika Hendrix mencabik lagu The Star-Spangled Banner dengan aliran listrik yang abstrak, penonton kembali terbawa ke dunia nyata.

Danny Goldberg, seorang pewarta industri musik Billboard yang sudah meliput festival sejak 19 tahun, mengingat momen akhir pekan dengan banyak senyuman di wajah penonton.

"Gagasan sangat indah dari sesama hippie dan persaudaraan yang terbilang langka pada saat itu," tuturnya.

Pepatah menyatakan, jika Anda tidak bisa mengingat Woodstock, berarti Anda tidak benar-benar ada di sana. Banyak cerita akhir pekan yang menyandera ingatan, terutama penonton yang kecanduan obat-obatan. Meski kabar angin tidak hilang, masih ada misteri kelahiran bayi di Woodstock.

Di lain sisi, Annie Birch, yang mengikuti festival bersama sekelompok teman pada usia 20-an, mengingat sebuah perayaan yang damai dan membawa pesan kemanusiaan.

"Festival itu sangat legendaris. Walau hujan deras, kami seperti mengalami kebakaran hebat yang sulit padam. Semua pertunjukan musik seperti mengajak berkumpul secara besar-besaran," kenangnya.(Bangkokpost/Tesa Oktiana Surbakti/I-1)

BERITA TERKAIT