13 August 2019, 20:08 WIB

Ketenangan Ibu Kunci Keberhasilan Menyusui


Eni Kartinah | Humaniora

MI/Eni Kartinah
 MI/Eni Kartinah
 Seminar bertajuk Peranan ASI Eksklusif dalam Menyiapkan Generasi Z yang digelar Rumah Sakit Premier Bintaro (RSPB), Tangerang Selatan.

Seorang ibu menyusui bayi memang sesuatu yang alami. Namun, proses itu belum tentu mudah dilakukan, terlebih untuk para ibu baru. Dukungan dari suami, keluarga, dan orang-orang sekitar sangat menentukan keberhasilan ibu dalam menyusui bayinya.

“Proses keluarnya ASI dari payudara ibu melibatkan kerja sejumlah hormon dalam tubuh ibu. Antara lain hormon oksitosin,” papar dokter konselor laktasi dr Indri N Advani pada seminar bertajuk Peranan ASI Eksklusif dalam Menyiapkan Generasi Z yang digelar Rumah Sakit Premier Bintaro (RSPB), Tangerang Selatan, pekan lalu.

Jika produksi hormon oksitosin minim, ASI tidak akan bisa keluar maksimal. Produksi  hormon oksitosin ini sangat bergantung pada kondisi psikologis ibu. Kalau ibu tenang, nyaman, produksi hormon oksitosin meningkat. Sebaliknya, bila ibu gelisah, cemas, produksi hormon oksitosin terhambat.

Karena itulah, orang-orang sekitar ibu, terutama suami, harus mampu menciptakan kenyamanan bagi si ibu menyusui.

“Tidak perlu yang mewah-mewah, cukup beri perhatian tulus sudah sangat berarti bagi ibu. Bantuan-bantuan ringan seperti membuatkan minuman, memijat punggung atau kaki saat ibu kelelahan, sangat bermanfaat bagi kenyamanan ibu,” terang dokter yang berpraktik di Klinik Laktasi RSPB itu.

Orangtua, mertua, dan anggota keluarga lainnya juga perlu ikut mendukung. Yang terpenting, jangan mematahkan semangat ibu dalam menyusui bayi.

“Misal, ketika bayi menangis, jangan sampai ada komentar ‘itu ASI-mu kurang, nggak bagus, bayinya nangis-nangis kelaparan’. Komentar seperti itu pasti membuat ibu down. Lagi pula, bayi menangis kan belum tentu karena lapar,” kata dr Indri.

Persiapkan sejak kehamilan

 Dokter Indri menambahkan, pengetahuan ibu seputar laktasi juga sangat menentukan keberhasilannya dalam menyusui. Ibu harus banyak-banyak belajar, idealnys sejak kehamilan. Seperti, bagaimana proses produksi ASI, bagaimana posisi menyusui yang benar, bagaimana mengatasi masalah-masalah yang terjadi misalnya puting tenggelam, juga cara menyetok ASI perah dan langkah pemberiannya ASI perah kepada bayi.

“Untuk menambah pengetahuan itu bisa dilakukan dengan banyak membaca, mengikuti seminar, bergabung di kelas-kelas prenatal seperti yang rutin digelar RSPB atau berkonsultasi dengan konselor laktasi di Klinik Laktasi,” saran dr Indri.

Konsultasi dengan konselor laktasi, lanjutnya, tidak hanya bermanfaat menambah pengetahuan ibu tetapi juga mendeteksi potensi masalah dan mengatasinya. Misal, pada sebagian ibu yang puting susunya tenggelam, bisa mulai diterapi agar saat menyusui bayinya kelak bisa lancar. (OL-09)

BERITA TERKAIT