13 August 2019, 20:03 WIB

Mayoritas Ibu Menilai Salah, Susu Kental Manis Sebagai Susu


Eni Kartinah | Humaniora

Istimewa
 Istimewa
Banyak ibu yang salah persepsi bahwa susu kental manis adalah susu di Lebak, Banten. 

EDUKASI gizi sehat yang dilakukan bersama Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) dan PW Aisyiyah Banten di Lebak, Banten, menemukan fakta miris tentang kuatnya persepsi masyarakat yang masih menilai susu kental manis (SKM) sebagai susu.

Karena itu, sosialisasi intensif tentang kandungan gula berlebihan pada SKM  perlu digalakkan. Jika tidak ada sosialisasi tentang SKM, banyak ibu-ibu  yang tetap memberi SKM kepada bayi dan balita mereka.

"Selama ini kami tahuunya kalau susu kental manis (SKM) itu ya susu. Jadi kalau ditanya mengapa beli SKM karena menurut kami SKM memang produk susu," kata seorang warga Baduy pada  acara sosialisasi Gerakan Aisyiyah Sehat (Grass) dan Edukasi Gizi Kerja Sama YAICI dan Majelis Kesehatan PWA Banten di Kecamatan Leuwidamar, Lebak, Banten, (13/8).

Pernyataan ibu Baduy tersebut ternyata dilakukan sebagian besar ibu yang hadir pada acara sosialisasi tersebut.

"Ya pak, selama ini kami tahunya SKM ya produk susu. Kan namanya juga susu kental manis," kata seorang ibu lainnya yang datang bersama balitanya.  

Terkait persepsi ibu-ibu soal SKM tersebut, Ketua Harian YAICI, Arif Hidayat mengatakan, "Wajar mengapa bapak dan ibu berpendapat demikian. Karena memang selama seratus tahun masyarakat dicecoki iklan di televisi yang menyatakan SKM adalah susu," ujarnya.

Di sisi lain, YAICI mengungkapkan hasil peneltian soal SKM di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Penelitian mengungkapkan bahwa 97% dari anggota menilai SKM adalah susu. Sementara itu, penelitian di kota Batam, sebanyak 78% dari masyarakat percaya bahwa SKM adalah susu.

Arif menambahkan, akibat kepercayaan yang tinggi bahwa SKM produk susu, menyebabkan intensitas pemberian SKM di Kota Kendari sangat besar.

Para orang tua yang memberikan SKM setiap hari kepada anak mencapai 55%. Sebanyak 31%  memberikan SKM dua hari sekali. Sebanyak 12% orang tua yang memberikan SKM per pekan sekali kepada anak mereka.

Dengan kondisi tersebut, YAICI berusaha meluruskan persepsi  yang salah  di masyarakat terkait SKM. Pengubahan persepsi tentang SKM dilakukan dengan kegiatan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat bahwa SKM bukanlah susu.

Dalam kegiatan sosialisasi tentang SKM bukan susu, YAICI juga menggandeng PP Aisyiyah  di Provinsi  Jawa Barat, Banten, dan Nusa Tenggara Barat.

"Ini adalah kelanjutan dari kerja sama Yaici dengan Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) Banten. D imana sosialisasi kali ini digerakkan oleh kader PWA Banten," kata Arif.

Sementara itu, ketua Majelis Kesehatan PWA Banten, Maryama Husni, menyatakan bahwa sosialisasi Gerakan Aisyiyah Sehat (Grass) di Desa Bojongmenteng dan Sangkanwang, Kecamatan Leuwidamar,  Kabupaten Lebak, Banten. (OL-09)

BERITA TERKAIT