14 August 2019, 02:20 WIB

Kebaya antara Nasionalisme dan Seni Berbusana


Ketut Nina Mastra Pekerja Seni dan Dosen FDSK UMB | Opini

 ANTARA FOTO/Budi Candra Setya
  ANTARA FOTO/Budi Candra Setya
 Model memperagakan busana Kebaya pada Festival kebaya

BEBERAPA waktu lalu, media sosial (medsos) ramai dengan cicitan gerakan Indonesia Berkebaya, sebuah gerakan yang diinisiasi komunitas perempuan sebagai kampanye penyadaran pemakaian busana kebaya khas Nusantara. Kampanye ini tidak bertujuan mengabaikan busana adat lainnya yang juga hidup di alam Indonesia.

Cicitan Indonesia Berkebaya yang menggunakan tagar #SelasaBerkebaya berbuah respons beragam. Ada yang menilai kebaya sebagai pakaian yang santun dan mewakili pribadi perempuan Indonesia. Ada pula yang menyebut hal itu tidak bisa mewakili busana perempuan Indonesia.

Terlepas dari itu semua, perlu rasanya kita menoleh busana perempuan dari negeri-negeri tetangga. Tiongkok misalnya. Di ‘Negeri Tirai Bambu’ itu entitas budayanya begitu mendunia, mulai kuliner, arsitektur, peralatan, bahasa, metode bercocok tanam, sampai pada model busana.

Dalam model busana perempuan populer dengan sebutan cheongsam, telah menginspirasi banyak perancang busana internasional. Apalagi, busana tradisional Tiongkok itu kerap hadir dalam berbagai kesempatan.

Beda negara, beda pula busananya. India yang memiliki berbagai suku itu juga punya busana perempuan yang popular, dikenal dengan sari (baca; saree). Banyak literatur menjelaskan busana perempuan India juga bervariasi, mulai model, motif, maupun cara mengenakannya. Hal itu sebagai bukti begitu beragamanya suku-suku di India. 

Catatan menarik dua busana perempuan dari dua negara itu terletak pada kemampuannya tetap bertahan dalam dinamika modernitas. Lantas, bagaimana dengan kebaya, apakah bisa mendunia? Apakah bisa menjadi simbol busana perempuan Indonesia? 

Kebaya dan peradabannya
Julukan Indonesia sebagai negara adidaya kebudayaan bukanlah sesuatu yang berlebihan. Julukan yang pertama kali dilontarkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) cukup beralasan karena profil negara yang berbentuk kepulauan ini tumbuh dalam keragaman suku dan budayanya, dari kuliner, busana, hingga bahasa.

Data Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa mencatat ada 652 bahasa daerah, sedangkan Badan Pusat Statistik mencatat Indonesia memiliki lebih dari 300 kelompok etnik atau suku bangsa, dengan total 1.340 suku bangsa.

Dengan jumlah sukunya, sudah pasti juga berlimpah gaya busananya. Busana ialah bagian dari kekayaan budaya bangsa ini. Antropolog Prof Harsojo (1977) memaknai budaya dari sifat-sifat dan kemampuan manusia. 

Misalkan sifat homo sapiens, yakni manusia sebagai mahluk yang dapat berpikir, sifat homo faber sebagai makhluk yang pandai membuat alat dan mempergunakannya, sifat homo loquens sebagai makhluk yang dapat berbicara untuk mengadakan komunikasi sosial, sifat homo socialis sebagai makhluk yang dapat hidup bermasyarakat, sifat homo economicus sebagai makhluk yang dapat mengorganisasikan segenap usahanya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, sifat homo religiousus sebagai makhluk yang berpikir mengenai tempatnya di dunia dan menyadari akan adanya kekuatan gaib yang lebih tinggi, dan banyak lagi.

Berpijak pada pandangan Prof Harsojo itu dapat menempatkan busana sebagai bagian dari sifat homo sapiens dan homo faber karena manusia dengan hasil pemikiran dan keterampilannya membuat busana pada periode tertentu. Manusia sebagai makhluk homo faber menyempurnakan busana yang sangat primitif melalui alat tenun sederhana dan menenunnya menjadi kain.

Kehadiran kebaya dalam khazanah sejarah juga banyak terlihat. Sejarawan dan penulis Ria Pentasari dalam buku Chic in Kebaya mengungkapkan kebaya merupakan busana yang dikenakan perempuan Jawa sejak abad ke-15. Kata kebaya juga diperkirakan merupakan serapan dari bahasa asing. Perkiraan tersebut dibenarkan sejarawan Denys Lombard yang menilai kebaya berasal dari bahasa Arab kaba, yang artinya pakaian. Hal ini dapat diterima kebenarannya karena pada abad ke-15 wilayah Jawa merupakan daerah yang banyak dikunjungi bangsa-bangsa asing.

Sejalan dalam prosesnya pada abad ke-18, mulai hadir dua jenis kebaya, yakni kebaya encim, busana yang dikenakan perempuan Tiongkok peranakan di Indonesia, dan kebaya putu baru, busana bergaya tunik pendek berwarna-warni dengan motif cantik. Kemudian abad ke-19, kebaya dikenakan semua kelas sosial setiap hari, baik perempuan Jawa maupun perempuan peranakan Belanda. Bahkan, kebaya sempat menjadi busana wajib bagi perempuan Belanda yang hijrah ke Indonesia.

Menurut perancang busana Ferry Setiawan, pada era 1940-an, kebaya dipilih Presiden Soekarno sebagai busana perempuan nasional. Alasannya, kebaya menjadi simbol emansipasi kaum perempuan yang ditunjukkan tokoh kebangkitan perempuan Indonesia, Raden Ajeng Kartini dan Dewi Sartika.

Perspektif kebijakan
Kebaya sebagai produk kebudayaan bangsa Indonesia memiliki masa depan yang baik. Mengingat pemerintah pada dua tahun lalu telah menerbitkan UU No 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, sebuah regulasi yang menyimpan empat upaya, yakni; pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan kebudayaan. 

Keempat upaya tersebut bukan tanpa arah. Dalam regulasi tersebut pemerintah menyebut arahnya bagi 10 tujuan, antara lain; memperteguh jati diri, persatuan dan kesatuan bangsa, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan mempengaruhi arah perkembangan peradaban dunia. Maka dari itu, busana kebaya memiliki ruang yang tepat untuk berkembang lebih baik (Pasal 4 UU No 5 Tahun 2017). 

Regulasi juga menempatkan peran pemerintah daerah dan masyarakat sebagai bagian dari upaya pemajuan kebudayaan. Artinya, busana kebaya diharapkan lebih berkembang pada masa mendatang. Wujud partisipasi pemerintah daerah tentang kebaya terlihat pada Peraturan Gubernur Bali No 79 Tahun 2018 tentang Hari Penggunaan Busana Adat Bali. Dalam aturan ini memerintahkan aparatur sipil negara dan masyarakat di Bali mengenakan busana adat Bali pada waktu yang telah ditetapkan, yakni pada jam kerja setiap Kamis, hari Purnama, Tilem, dan Hari Jadi Provinsi pada 14 Agustus (Pasal 5 Pergub No 79 Tahun 2018).

Lebih menariknya, Pergub ini menyebut kata kebaya sebagai bagian dari busana adat bagi perempuan, sedangkan Perpres No 71 Tahun 2018 tentang Tata Pakaian Pada Acara Kenegaraan dan Acara Resmi memang tidak menyebutkan tegas busana kebaya. Hanya memberikan sinyal kebaya sebagai busana yang layak digunakan. Hal itu tersirat pada Pasal 4 angka (4) yang menyebutkan pakaian nasional berupa pakaian dari berbagai daerah di Indonesia yang penggunaannya ditetapkan panitia.

Sebagai satu perempuan Indonesia tentu bangga jika kebaya bisa mendunia, seperti busana cheongsam dan sari yang lebih dikenal masyarakat dunia. 

BERITA TERKAIT