14 August 2019, 01:00 WIB

Emma Watson: Dukung Korban Pelecehan


Indrastuti | Hiburan

 AFP PHOTO / CHRIS DELMAS
  AFP PHOTO / CHRIS DELMAS
Aktris Emma Watson yang dikenal dalam film The Perks of Being A Wallflower ialah salah satu donatur gerakan Time

AKTRIS Emma Watson, 29, bersama gerakan Time’s Up meluncurkan layanan hotline bantuan hukum bagi karyawan yang mengalami pelecehan seksual di tempat kerja. Layanan tersebut tersedia cuma-cuma bagi pekerja perempuan di wilayah Inggris dan Wales. 

“Sangat disayangkan jika layanan ini menjadi satu-satunya yang tersedia. Masyarakat harus menyadari bahwa (pelecehan seksual) ini merupakan masalah besar,” ujarnya seperti dilansir dari The Independent. Emma mengutip hasil penelitian Trades Union Congress bahwa di Inggris, perempuan usia 18-24 tahun rawan mengalami pelecehan seksual di tempat kerja. Bahkan disebutkan, satu dari dua perempuan menjadi korban. 

Pemeran Hermione Granger dalam film seri Harry Potter itu menyatakan layanan hotline bertujuan membantu perempuan korban pelechan seksual agar dapat memahami dan mendapatkan hak-haknya. 

“Jika Anda pernah mengalami (pelecehan seksual), Anda akan sadar betapa pentingnya menciptakan tempat kerja yang aman bagi semua karyawan,” imbuh Emma yang berakting sebagai Belle dalam film remake Beauty and the Beast itu.

Layanan hotline tersebut, lanjut Emma, juga menjadi langkah besar untuk memastikan bahwa perempuan, di mana pun mereka bekerja, akan mendapatkan dukungan. Pengelola layanan ialah Rosa, yayasan amal untuk perempuan dan anak-anak di Inggris dengan dukungan dana dari Time's Up UK Justice and Equality Fund. 

Emma yang bermain dalam film The Perks of Being A Wallflower ialah salah satu donatur gerakan Time's Up. Tahun lalu, ia menyumbang Rp19 miliar untuk pendirian Justice and Equality Fund. Ia memang dikenal sebagai aktivis yang vokal menentang pelecehan terhadap perempuan. Belakangan, ia mengaku pernah mengalami hal yang serupa ketika berada di Hollywood.

Deeby Ssyed, penasihat hukum dari Rights of Women yang menyediakan saran dan bantuan hukum menyatakan hotline ini bertujuan memberdayakan perempuan sekaligus menginformasi dan mengedukasi mereka mengenai pilihan hukum yang bisa dilakukan korban. 

Aktris yang aktivis
Nama Emma Watson melambung setelah film Harry Potter merajai box office mulai 2001-2011. Tak hanya menjadi aktris, ia juga melebarkan sayap ke dunia fesyen. Debutnya sebagai model ialah menjadi wajah rumah mode Burberry pada 2009. 

Perhatian Emma Watson terhadap hak-hak perempuan bukan baru kali pertama terjadi. Aktris yang lahir di Paris, 15 April 1990, itu telah lama berkecimpung dalam usaha-usaha memperjuangkan hak perempuan dalam kesetaraan gender.

Lulus dari jurusan Sastra Inggris Brown University, Inggris, pada 2014, Emma didapuk menjadi Women Goodwill Ambassador untuk PBB dan menjadi ikon untuk gerakan kesetaraan gender PBB, He For She. 

“Saya tidak menyangka atas kesempatan tersebut, kesempatan untuk melakukan sesuatu yang berguna. Setiap orang punya peluang berkontribusi dan saya punya niat untuk melakukannya dari hal yang ringan,” ujar pemilik nama asli Emma Charlotte Duerre Watson. 

“Saya memutuskan untuk menjadi feminis dan hal ini terasa kurang lengkap bagi saya. Kita ingin mengakhiri ketidaksetaraan gender, untuk mewujudkannya, kita memerlukan keterlibatan semua orang,” tegasnya. 

Meskipun sibuk berkeliling dunia menjalani aktivitasnya sebagai Duta PBB, Emma tetap bermain film. Film terakhirnya ialah Little Woman yang rencananya ditayangkan pada libur Natal 2019. 

Film yang disutradarai Greta Gerwig merupakan adapatasi dari novel klasik karya Louisa May Alcott yang terbit pada 1868. Dalam film itu, Emma beradu akting dengan Meryl Streep, Saoirse Ronan, dan Timothee Chalamet.

Emma yang berpacaran dengan mantan CEO Oculus Brendan Iribe ini juga ikut dalam pemotretan proyek seni tahunan fotografer Paolo Roversi bertema Shakespeare bersama aktris Claire Foy dan Kristen Steward. (H-1)

BERITA TERKAIT