13 August 2019, 15:36 WIB

Carrie Lam Hampir Menangis Saat Dicecar Wartawan


Ihfa Firdausya | Internasional

AFP/Philip Fong
 AFP/Philip Fong
Dua demonstrans memegang lembaran kertas bertuliskan 'Hati Nurani' (kiri) dan 'Keadilan' (kanan) di Bandara Internasional Hong Kong.

Pemimpin Hong Kong Carrie Lam pada Selasa (13/8) memperingatkan tentang konsekuensi berbahaya yang dihadapi kota itu jika kekerasan yang meningkat dalam demonstrasi tidak dihentikan. Lam menyebut Hong Kong berada dalam 'jalur yang tidak dapat kembali.'

"Kekerasan, tidak peduli apakah itu penggunaan kekerasan atau pembenaran kekerasan, akan mendorong Hong Kong ke jalur yang tidak bisa kembali dan akan menjerumuskan masyarakat ke dalam situasi yang sangat mengkhawatirkan dan berbahaya," kata Lam.

"Situasi di Hong Kong dalam seminggu terakhir telah membuat saya sangat khawatir bahwa kita telah mencapai situasi berbahaya ini,” tambahnya.

Saat menghadapi pertanyaan sengit dari wartawan, Lam tampak hampir menangis dan meminta ketenangan.

"Luangkan waktu sebentar untuk berpikir, lihat kota kami, rumah kami, apakah Anda semua benar-benar ingin melihatnya didorong ke dalam jurang," kata Lam yang kembali menolak memberikan konsesi kepada para pengunjuk rasa.

Pemimpin Hong Kong itu semakin khawatir saat demonstrasi menyebabkan penutupan bandara. Hal itu belum pernah terjadi sebelumnya.

Di sisi lain, para demonstran memiliki pandangan yang berbeda. Kelompok prodemokrasi menilai aparat kepolisian Hong Kong telah bertindak brutal dengan melakukan pemukulan dan menembakkan pelaru karet terhadap para demonstran.

Mereka semakin marah dan menyebut polisi sebagai 'pembunuh'. Dengan ditangkapnya sekitar 400 demonstran, demonstran prodemokrasi menuntut Lam mengundurkan diri dan meminta penyelenggaraan pemilu yang independen. 

Namun pada Selasa (13/8) pagi, Bandara Internasional Hong Kong mulai beroperasi kembali.

Otoritas setempat menyebut kekacauan akibat penutupan kemarin masih jauh dari selesai. Tumpukan jadwal penerbangan masih harus harus diselesaikan.

Maskapai penerbangan utama Hong Kong, Cathay Pacific, pada Selasa (13/8) pagi mendaftarkan lebih dari 200 yang pembatalan penerbangan. Mereka mendesak pelanggan untuk menunda perjalanan yang tidak penting dari Hong Kong.

Seorang calon penumpang bernama Frank Filser, 53, sedang berjuang untuk menjadwal ulang penerbangan ke Jerman. Ia hendak mengunjungi ayahnya yang menderita kanker stadium akhir.

Namun, Frank menyatakan simpati terhadap para pengunjuk rasa meskipun membuat keberangkatannya terganggu.

"Mereka berjuang untuk Hong Kong dan itulah pandangan mereka," kata Frank.

Frank menambahkan bahwa "Kapan saja aku bisa kembali ke Jerman, tetapi bagaimana dengan orang-orang yang tumbuh di sini? Ini adalah rumah mereka."

Hanya segelintir pengunjuk rasa yang tersisa di bandara. Mereka tidak menghiraukan seruan di media sosial untuk kembali pulang. (AFP/OL-09)

BERITA TERKAIT