13 August 2019, 09:10 WIB

KPK Geledah Ruangan di Gedung Parlemen


M ILham Ramadhan Avisena | Politik dan Hukum

MI/ROMMY PUJIANTO
 MI/ROMMY PUJIANTO
Logo KPK.

PENYIDIK Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), kemarin, menggeledah sejumlah tempat terkait dengan kasus suap izin impor bawang putih. Dalam kasus itu, KPK telah menetapkan enam tersangka, termasuk anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan I Nyoman Dharmantra.

Salah satu lokasi yang digeledah ialah ruang kerja Nyoman Dharmantra, di lantai 6 Gedung Nusantara I DPR, Senayan, Jakarta. Penggeledahan juga dilakukan di ruang Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Dalam Negeri dan ruang Dirjen Holtikultura Kementerian Pertanian.

“Sejauh ini diamankan sejumlah dokumen terkait dengan impor yang jadi kewenangan Kementan dan Kemendag,” kata Kepala Biro Hubungan Masyarakat KPK Chrystelina GS saat diminta konfirmasi, kemarin.

Berdasarkan pantauan, terlihat pintu masuk untuk menuju ruang kerja Nyoman dengan nomor 0628 dijaga ketat beberapa petugas keamanan. Beberapa kali penyidik KPK keluar masuk pintu ruangan mengenakan masker, sarung tangan, dan identitas pengenal KPK.Penggeledahan ruang kerja INY dimulai sejak sekitar pukul 15.00 WIB.

Selain Nyoman Dharmantra, KPK juga menetapkan Chandry Suanda alias Afung dari pihak swasta, Doddy Wahyudi (swasta), Zulfikar (swasta), dan Mirawati Basri yang orang kepercayaan Nyoman, dan Elviyanto (swasta).

Chandry merupakan pemilik PT Cahaya Sakti Agro (PT CSA) yang bergerak di bidang pertanian. Perusahaan itu diduga berkepentingan dalam mendapatkan kuota impor bawang putih.

Chandry dan Doddy diduga bekerja sama untuk mengurus izin impor bawang putih. Doddy sebelumnya menawarkan bantuan dan menyampaikan memiliki ‘jalur lain’ untuk mengurus rekomendasi impor produk hortikultura (RIPH) dari Kementerian Pertanian dan surat persetujuan impor (SPI) dari Kementerian Perdagangan.

Namun, proses pengurus-an urung selesai, Doddy kemudian berkenalan dengan Zulfikar. Zulfikar memiliki koneksi dengan Mirawati dan Elviyanto yang diketahui dekat dengan Nyoman. Kemudian, mereka beberapa kali bertemu guna membahas pengurusan izin.

Kesepakatan fee
Dari pertemuan-pertemuan tersebut muncul permintaan fee dari Nyoman melalui Miranti. Angka yang disepakati pada awalnya adalah Rp3,6 miliar dan fee ­komitmen Rp1.700 sampai dengan Rp1.800 dari setiap kilogram bawang putih yang diimpor.

Fee Rp3,6 miliar akan digunakan untuk mengurus peri-zinan kuota impor 20.000 ton bawang putih untuk beberapa perusahaan termasuk perusahaan yang dimiliki Chandry alias Afung.

Namun, Chandry tidak memiliki uang untuk membayar fee tersebut lalu meminta bantuan Zulfikar untuk memberi pinjaman. Zulfikar diduga akan mendapatkan bunga dari pinjaman yang diberikan, yaitu Rp100 juta per bulan dan nanti jika impor terealisasi, Zulfikar akan mendapatkan bagian Rp50 untuk setiap kilogram bawang putih yang diimpor.

Saat ini semua rekening mereka dalam kondisi diblokir KPK. Penyidik juga menemukan uang asing US$50 ribu dalam perkara ini. (Uca/P-2)

BERITA TERKAIT