13 August 2019, 08:55 WIB

Panglima TNI Diminta Lebih Waspada


Akmal Fauzi | Politik dan Hukum

MI/ROMMY PUJIANTO
 MI/ROMMY PUJIANTO
Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko.

KEPALA Staf Kepresidenan Moeldoko meminta Panglima TNI lebih mewaspadai proses seleksi calon taruna akademi militer (Akmil). Hal itu terkait ramainya isu Taruna Akmil Magelang bernama Enzo Zenz Allie, yang dikaitkan dengan jaringan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). “Saya belum koordinasi lagi sama Panglima TNI. Saya akan sampaikan ke ­Panglima agar diwaspadai lagi,” kata Moeldoko di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, kemarin.

Namun demikian, Moeldoko membantah apabila TNI disebut kecolongan dalam penerimaan calon taruna tersebut. Moeldoko menegaskan, TNI melakukan pemeriksaan terhadap calon prajurit akademi TNI. “TNI itu penilaian terus-menerus, sangat ketat. Pasti akan ketahuan nanti kalau muncul penyimpangan perilaku,” ujarnya.

Menurut Moeldoko, pihak TNI pasti melakukan seleksi yang ketat dalam menerima siswa untuk masuk ke dalam sekolah militer, dengan melakukan serangkaian tes yang harus dilalui. “TNI punya baterai untuk menyeleksi seseorang, psikologi ada ­baterainya,” ucap mantan Panglima TNI itu.

Sebelumnya, viral di media sosial foto Enzo sedang memegang bendera bertuliskan kalimat tauhid. Bendera itu identik dengan HTI yang sudah dibubarkan pemerintah dua tahun lalu. Enzo bersama ibunya pun disebut-sebut simpatisan HTI dan pendukung khilafah.

Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjen Sisriadi sudah membantah tudingan tersebut dan memastikan Enzo bersih. Seleksi ketat sebelum menjadi taruna Akmil membuktikan tudingan Enzo condong ke ideologi radikal salah.

“Tidak (benar). Kita kan ada sistem seleksi yang berbeda dengan seleksi orang mau kerja sif siang, sif malam. Ini untuk megang senjata dia. Jadi sudah selektif,” ujar Sisriadi.

Menurut Sisriadi, seleksi ketat yang dilakukan termasuk memonitor aktivitas calon ­taruna di media sosial. (Mal/P-4)

BERITA TERKAIT