12 August 2019, 23:20 WIB

Atasi Neuropati, Cegah Kelumpuhan


Eni Kartinah | Humaniora

MI/Eni
 MI/Eni
Dokter menjelaskan manfaat kombinasi vitamin B dalam mengatasi kerusakan saraf tepi.

IBARAT kabel dalam rangkaian elektronik, fungsi saraf tepi sangatlah penting. Yakni sebagai penghubung antara otak dan organ-organ tubuh.

Perintah otak, misal agar kaki bergerak, disampaikan melalui saraf tepi ke organ kaki. Pun demikian dengan berbagai sensasi yang diterima panca indera, misalnya kulit merasakan panas atau dingin, disampaikan melalui saraf tepi ke otak.

Menurut dokter spesialis saraf dr Manfaluthy Hakim SpS(K), sejumlah faktor bisa merusak saraf tepi. Misalnya, penyakit diabetes.
Selain itu, postur tubuh dan gerakan keliru yang dilakukan berulang-ulang dalam jangka panjang juga bisa merusak saraf tepi. Gangguan pada saraf tepi itu disebut neuropati.

Gejalanya antara lain kesemutan, kebas, nyeri, kram, dan rasa terbakar. Jika dibiarkan, kerusakan saraf yang terjadi bisa semakin parah hingga menyebabkan kelemahan otot dan kelumpuhan.

"Kaum perempuan, baik ibu rumah tangga maupun pekerja kantoran, juga tidak luput dari ancaman neuropati," ujar Manfaluthy pada seminar yang digelar oleh Neurobion pada rangkaian kegiatan Women's Health Expo, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Ibu rumah tangga, lanjut Manfaluthy, berisiko gejala neuropati dengan mengerjakan aktivitas rutin rumah tangga yang berulang seperti mencuci, memasak, menyapu, mengepel, dan sebagainya yang bila dilakukan dengan posisi yang tidak benar dapat menyebabkan trauma pada saraf.

Perempuan pekerja kantor yang sehari-hari banyak mengetik tanpa mengubah posisi duduk dalam waktu lama dan posisi tangan yang keliru juga rentan terkena neuropati, ditambah lagi dengan penggunaan high heels terlalu lama yang dapat menyebabkan perubahan pada bagian telapak kaki dan akhirnya memicu gangguan saraf.


Baca juga: Sambut HUT RI, Pendaki Cilik asal Tangerang Siap Jelajahi Merbabu


"Karena itu, penting untuk memelihara saraf dengan menjaga postur tubuh tetap baik, melakukan peregangan di sela-sela bekerja, melakukan olahraga teratur agar peredaran darah ke organ saraf lancar, juga mencukupi kebutuhan vitamin neurotropik (vitamin B1, B6, B12) yang sangat penting untuk memelihara kesehatan saraf," terang Manfaluthy.

Studi Nenoin
Pada kesempatan sama, Associate Medical Manager Consumer Health, P&G Health, drg Swasty Dwirayunita menjelaskan hasil studi Non-intervensi dengan Vitamin Neurotropik (Nenoin) yang dilakukan pada 2018 di sembilan kota besar di Indonesia untuk menguji manfaat vitamin neurotropik dalam penanganan neuropati.

Studi itu melibatkan 411 responden penderita neuropati usia 18–65 tahun dengan etiologi (jenis gangguan) berbeda dan mengalami gejala neuropati ringan sampai sedang. Etiologi responden antara lain, diabetes (104 orang), carpal tunnel syndrome (44 orang), idiopatik (112 orang), penyebab lain (25 orang), dan kombinasi (126 orang).

Selama masa penelitian, responden mengonsumsi satu tablet vitamin neurotropik sekali sehari setelah makan. Kombinasi vitamin yang digunakan adalah vitamin B1 (100mg), B6 (100mg) and B12 (5000μg) dari Neurobion Forte.  Berdasarkan data yang diperoleh setelah 12 minggu, secara keseluruhan gejala neuropati berkurang sebanyak 62,9%.

"Rinciannya, rasa sakit berkurang 64,7%, rasa terbakar berkurang 80,6%, kesemutan berkurang 61,3%, dan rasa baal/kebas berkurang 55,9%," ujar Swasty. (OL-1)

 

 

BERITA TERKAIT