12 August 2019, 23:10 WIB

Jumlah Jemaah Haji Indonesia Meninggal Tahun Ini Menurun


Sitria Hamid dari Arab Saudi | Haji

Antara
 Antara
 Petugas memberikan perawatan kepada jamaah haji Indonesia yang sebagian besar akibat kelelahan dan dehidrasi di Posko Kesehatan Mekkah

JUMLAH jemaah haji Indonesia yang dirawat dan yang meninggal dalam pelaksanaan lontar jumrah di Mina tahun ini menurun, jika dibandingkan dengan 2018 di waktu yang sama.

Kepala Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan RI, Eka Yusuf Singka, menyampaikan hal itu di tenda kesehatan Mina, Minggu (11/8), menjelang tengah malam waktu Arab Saudi.

"Tahun lalu full (tendanya) , (yang sekarang) saya dapat informasi saat ini yang dirawat sekitar 9 orang waktu saya tadi di mina jadid," kata Eka seperti dilaporkan wartawan Media Indonesia, Sitria Hamid, dari Mina.

Menurut dia, jumlah jemaah haji yang dirawat di tenda memang tidak terlalu banyak dibandingkan tahun lalu. Dia mengaku mendapatkan informasi sekitar 9 orang, dan telah melakukan koordinasi dengan RS Mina Al Wadi Arab Saud, bila ada jemaah yang tidak bisa ditangani di tenda Kesehatan Indonesia, maka akan langsung dikirim ke RS Arab Saudi.

Menurut Eka, penyakit yang mendominasi jemaah haji 2019 hampir sama.

"Memang yang menjadi kambuh itu penyakit jantung, lalu paru-paru itu muncul lagi karena cuaca panas, dan sekarang angka kesakitan dan kematian bisa kita tekan karena tidak lain tidak bukan jemaah haji Indonesia sudah bagus, dan seluruh penyelenggara seperti kemenag sangat mendukung kami sehingga ini bisa berjalan jauh lebih baik lagi," katanya.

Kepala Seksi Kesehatan Madinah yang membawahi satuan tugas wilayah Mina, Edi Supriyatna, menyebutkan bahwa data siskohatkes tahun lalu (2018) ada 25 jemaah haji yang meninggal di hari yang sama saat melontar jumrah aqabah Minggu (11/8). Namun, untuk 2019 jumlah yang meninggal di Mina dengan hari yang sama turun menjadi 13 jemaah haji.

KKHI Mina, lanjut Edi, buka sejak 9 Dzulhijjah atau Sabtu (10/8) hingga 13 Dzulhijjah atau Rabu (14/8). Sehingga, jemaah haji yang mengambil nafar tsani bisa tenang karena KKHI masih akan buka hingga akhir masa lempar jumrah.

"Perlengkapan di KKHI Madinah untuk keperluan emergency medis. Semua alat pertolongan pertama ada," kata Edi.


Baca juga: Menag Minta Arab Saudi Percepat Renovasi Mina


Serangan panas (heatstroke) menjadi penyakit yang paling banyak ditangani KKHI. Heatstroke terjadi karena pasien terpapar panas di Mina yang suhunya mencapai 40 derajat Celcius.

Eka menambahkan, pihaknya terus meminta jemaah haji yang masih akan melempar jumrah pada hari tasrik 11, 12, dan 13 agar terus menjaga kesehatan. Dan bila ingin melontar jumrah, sebaiknya hindari saat terik matahari.

Selain itu, lanjut Eka, karena beberapa hari ini di Makkah turun hujan, jemaah disarankan untuk selalu tetap waspada, membawa payung, masker, semprotan air, dan tetap minum air yang cukup.

"Ini juga masih ada pendapat kalau pakai masker tidak boleh padahal itu masker untuk melindungi jemaah haji supaya sehat saya yakin semua akan berperan aktif menjaga keluarganya dan jemaah kita semoga bisa pulang menjadi haji mabrur," kata Eka.

Lebih lanjut dia menegaskan bahwa pihaknya selalu minta kepada jemaah haji yang tua dan sakit agar dibadalkan dalam melontar jumrah. Bahkan sejak di Indonesia sudah sering disampaikan.

"Banyak yang masih muda kuat sehat itu bisa menggantikan jemaah haji yang dalam keadaan sakit. Keluarga di Tanah Air yang punya keluarga jadi jemaah haji tahun ini minta dibadalkan saran supaya bisa dibadalkan (digantikan) saja melontarnya dan minum air, oralit selalu pakai payung," katanya.

Sementara itu, jam larangan melontar jumrah bagi jemaah Indonesia dan Asia Tenggara adalah sebagai berikut:
1. Tanggal 10 Dzulhijjah pukul 04.00-10.00 dilarang
2. Tanggal 11 Dzulhijjah bebas sepanjang hari
3. Tanggal 12 Dzulhijjah pukul 10.00-14.00 dilarang
4. Tanggal 13 Dzulhijjah bebas. (OL-1)

BERITA TERKAIT