13 August 2019, 05:15 WIB

Polisi Hong Kong Kerahkan Meriam Air


Ihfa Firdausya | Internasional

Manan VATSYAYANA / AFP
 Manan VATSYAYANA / AFP
Ribuan pengunjuk rasa prodemokrasi menduduki Bandara Internasional Hong Kong.

POLISI Hong Kong pada Senin (12/8) meluncurkan truk meriam air sebagai cara baru menghalau demonstran prodemokrasi di Hong Kong. Alat tersebut dikerahkan setelah gas air mata dan peluru karet gagal menghentikan demonstrasi yang telah berlangsung selama lebih dari dua bulan itu.

Truk-truk itu dilengkapi dengan kamera pengintai realtime dan beberapa semprotan pipa. Aparat terlihat mendemonstrasikan semburan air dari truk yang diarahkan kepada beberapa boneka orang-orangan.

Tiga kendaraan truk air itu ditaksir berbiaya 27 juta dolar Hong Kong (US$3,4 juta). Polisi menolak untuk mengonfirmasi harga pasti dari kendaraan-kendaraan tersebut. Sebelumnya, metode melawan demonstran dengan meriam air belum digunakan selama krisis melanda Hong Kong.

Pengawas Senior Chan Kin-kwok dalam pertemuan di parlemen, Senin (12/8), mengatakan polisi hanya akan menggunakan truk tersebut jika terjadi gangguan publik besar-besaran, yakni gangguan yang mengarah pada jatuhnya korban jiwa, harta benda yang dihancurkan secara ceroboh, atau ancaman serius terhadap ketertiban umum dan keselamatan publik.

Dalam pertemuan parlemen itu, para anggota parlemen prodemokrasi berseteru dengan anggota parlemen pro-Beijing. Mereka membawa pam-flet-pamflet bertuliskan ‘Pembunuh­an-pembunuhan (oleh) Polisi HK’.

Polisi sehari sebelumnya bentrok dengan pengunjuk rasa. Polisi me­nembakkan gas air mata kepada pengunjuk rasa di sebuah stasiun kereta api tertutup untuk pertama kalinya.

Menurut otoritas rumah sakit, pada Minggu, pukul 23.30 waktu setempat, 13 orang yang terdiri atas 9 pria dan 4 wanita terluka dalam protes dan dikirim ke rumah sakit di seluruh kota. Sembilan telah dipulangkan, sedangkan seorang pria dan wanita masih dalam kondisi serius.

Rekaman video menunjukkan para petugas memukul para pengunjuk rasa, sementara gas air mata memenuhi udara.

Terancam dipecat

Di sisi lain, perusahaan penerbangan Hong Kong Cathay Pacific memperingatkan stafnya pada Senin bahwa mereka dapat dipecat jika mendukung atau berpartisipasi dalam protes ilegal karena maskapai ini mendapat tekanan dari Beijing.

Peringatan itu mengikuti ­peraturan baru yang diberlakukan regulator penerbangan Tiongkok yang mewajibkan Cathay Pacific untuk menyerahkan manifes staf pada penerbangan ke daratan atau melalui wilayah udaranya.

Kepala eksekutif Rupert Hogg menegaskan bahwa karyawan Cathay Pacific akan menghadapi konsekuen­si disiplin jika mereka terlibat dalam protes prodemokrasi.

Otoritas Bandara Internasional Hong Kong, kemarin sore, membatalkan semua keberangkatan penerbangan yang belum melakukan proses check-in.

Hal itu disebabkan ribuan demonstran prodemokrasi membanjiri bandara. Mereka mengacung-acungkan papan bertuliskan ‘Hong Kong tidak Aman’ dan ‘Malu kepada Polisi’.

“Selain penerbangan keberangkatan yang telah menyelesaikan proses check-in dan penerbangan kedatangan yang sudah menuju ke Hong Kong, semua penerbangan lainnya telah dibatalkan,” kata pihak berwenang.

Pelaksana Tugas (Plt) Konsul Jenderal Republik Indonesia di Hong Kong, Mandala Purba, mengimbau para WNI untuk segera mencari alternatif tempat tinggal atau akomodasi sementara di Hong Kong sampai mendapatkan kepastian mengenai jadwal penerbangan. (AFP/SouthChinaMorningPost/I-1)

BERITA TERKAIT