13 August 2019, 03:40 WIB

Penurunan Lanjutan Tunggu Timing        


Atalya Puspa | Ekonomi

 ANTARA FOTO/Rosa Panggabean
  ANTARA FOTO/Rosa Panggabean
Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI) Dody Budi Waluyo 

Bank Indonesia (BI) kembali memberikan sinyal untuk menurunkan tingkat suku bunga acuannya yang saat ini berada di level 5,75%. 

Hal itu diungkapkan Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo.

Dirinya mengungkapkan, pihak­nya selalu melihat kemungkinan yang ada untuk kembali menurun­kan suku bunga acuan guna memberikan kebijakan makroprudensial yang longgar.

“Kita masih akan liat lagi ke de­pan. Kita sebentar lagi akan lakukan RDG. Pak Gubernur BI (Perry Warjiyo) telah katakan ruang (untuk turunkan suku bunga) ada. Jadi tinggal timing-nya,” kata Dody di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, kemarin.

Dirinya mengungkapkan, pihak BI tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menurunkan tingkat suku bunganya. 

Hal itu akan dilihat dari kondisi perekonomian domestik dan global, khususnya perang dagang antara AS dan Tiogkok.

“Timing jadi penting sebab bagaimana risiko yang harus dilihat ke depannya. Risiko tentu lebih banyak pasar global bagaimana trade war masih akan berlanjut sedalam permasalahannya,” tuturnya.

Di sisi lain, dari segi kebijakan akomodatif, Dody mengungkapkan pelonggaran kebijakan makropru­densial akan dilakukan dengan mendorong sejumlah sektor prio­ritas.

Selain itu, pihaknya juga memberikan dukungan pada kemudahan sistem pembayaran dengan melibatkan financial technology guna menciptakan ekonomi yang lebih efisien.

Sejauh ini baru Bank Rakyat In­donesia (BRI) yang merespons pe­nurunan suku bunga acuan BI dengan menurunkan suku bunga kredit. Bank-bank lain baru pada tahap menurunkan suku bunga simpanan. 
Pekan lalu, BRI mengumumkan bahwa pihaknya menurunkan su­ku bunga 50 basis poin untuk  segmen kredit mikro, ritel, dan konsumer.

Nasib rupiah
Untuk diketahui, BI umumnya juga melihat dampak penurunan suku bunga acuannya kepada pergerakan nilai tukar rupiah. Penurunan suku bunga oleh BI ti­­dak boleh membuat daya tarik investasi di pasar keuangan indone­sia terganggu. 

Oleh karena itu BI juga memantau pergerakan suku bunga di negara-negara yang menjadi peer group Indonesia.

Kemarin  nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta melemah seiring masih tingginya permintaan valuta asing (valas). Rupiah melemah 56 poin atau 0,39% menjadi 14.250 per dolar AS dari sebelumnya 14.194 per dolar AS.    

Analis pasar uang dari Bank Man­diri Rully Arya Wisnubroto mengatakan, pelemahan rupiah dipicu kombinasi faktor eksternal dan domestik.  

“Rupiah terdepresiasi karena memang selain faktor eksternal, ada faktor internal juga. Permintaan valas masih besar setelah kemarin data current account deficit (CAD) kuartal II keluar, ujar Rully.    

Dari eksternal, tensi perang da­gang kembali meninggi setelah Amerika Serikat dan China kembali saling balas dalam menerapkan kebijakan perdagangan luar nege­rinya.

“Sampai dengan kuartal III, kemungkinan demand  untuk perusahaan dalam membayar utang dan pembayaran dividen masih tinggi,” kata Rully.    

Berdasarkan penjelasan faktor pelemahan rupiah itu, kemungkin­an BI tidak akan memasukkannya dalam pertimbangan utama memutuskan penurunan suku bunga. (E-1)

BERITA TERKAIT