13 August 2019, 04:30 WIB

Idul Adha di Kashmir dalam Bingkai Ketakutan


AFP/Ihfa Firdausya/I-1 | Internasional

Sajjad HUSSAIN / AFP
 Sajjad HUSSAIN / AFP
Para penjual hewan kurban menunggu pembeli di bawah pengawasan ketat pihak keamanan jelang Hari Raya Idul Adha di Srinagar, Minggu (11/8).

PASUKAN India melakukan pembatasan ketat terhadap masjid-masjid di seluruh Kashmir untuk merayakan hari besar Idul Adha, takut akan protes antipemerintah terkait dengan penghapusan otonomi khusus di daerah yang mayoritas berpenduduk muslim itu.

Masjid terbesar di wilayah Himalaya, Masjid Jama, ditutup dan orang-orang hanya diperbolehkan salat di masjid-masjid lokal yang lebih kecil.

Kashmir telah dikurung dalam keamanan selama delapan hari ketika pemerintah nasionalis Hindu di New Delhi berusaha untuk membasmi oposisi terhadap langkahnya untuk memaksakan kontrol pusat yang lebih ketat.

Internet dan komunikasi telepon telah terputus dan puluhan ribu pasukan tambahan telah membanjiri kota utama Srinagar dan kota-kota serta desa-desa Lembah Kashmir lainnya.

Di luar kantor pemerintah Kashmir yang dijaga ketat, antrean panjang mengular setiap harinya. Orang-orang yang mengantre itu sedang menanti kesempatan yang sangat berharga, panggilan telepon selama 2 menit ke dunia luar.

Seorang perempuan berusia 56 tahun yang telah berjalan bermil-mil dan dihentikan di berbagai pos pemeriksaan terlibat pertengkaran dengan pasukan keamanan di luar kantor.  Ia berharap dapat menghubungi kedua anaknya yang belajar di luar negeri.

“Aku khawatir dengan putri-putriku, tetapi mereka pasti akan lebih mengkhawatirkan kita,” tambah perempuan yang menolak disebutkan namanya.

Menurut Software Freedom Law Center, sebuah kelompok pemantau di New Delhi, ada belasan penutupan internet sepanjang tahun ini. “Kita benar-benar didorong ke zaman batu. Memotong komunikasi adalah pelanggaran hak asasi manusia,” kata Hussain.

Pihak berwenang telah melonggarkan pembatasan sementara pada hari Minggu untuk membiarkan penduduk membeli makanan dan pasokan saat Idul Adha. “Saya tidak percaya kita dipaksa berada di rumah kita di festival ini. Ini adalah festival kegembiraan dan kebahagiaan,” kata Shanawaz Shah, warga Kashmir.

Seorang pedagang domba di pasar Srinagar mengatakan jumlah orang yang membeli hewan untuk pesta tradisional jauh lebih rendah. Dia pun merasakan dari meraih untung besar tahun lalu menjadi kerugian besar kali ini.

Dalam tweet-nya pada Minggu (11/8), PM Pakistan Imran Khan membandingkan taktik India di Kashmir dengan taktik Nazi. Khan mengatakan, “Ideologi supremasi Hindu, seperti supremasi Arya Nazi, tidak akan berhenti di Kashmir.”

Dia juga membandingkan langkah otonomi sebagai versi Hindu Supremasi Hitler’s Lebensraum. (AFP/Ihfa Firdausya/I-1)

BERITA TERKAIT