12 August 2019, 20:10 WIB

Pertumbuhan Sektor Manufaktur Bergantung pada Regulasi


Atalya Puspa | Ekonomi

Antara Foto
 Antara Foto
Suasana aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta

PERTUMBUHAN sektor manufaktur dinilai memiliki potensi besar untuk mendorong ekonomi Indonesia tumbuh lebih tinggi dan berkelanjutan. Alhasil Indonesia dapat terlepas dari middle income trap dan bertransformasi menjadi negara maju berpendapatan tinggi (high income country).

Masalahnya adalah, untuk mendorong industri manufaktur tersebut, investor membutuhkan dukungan dari sisi regulasi yang dihadirkan oleh pemerintah.

Kepala Pusat Kebijakan Pendapatan Negara Kementerian Keuangan Rofyanto Kurniawan mengungkapkan, Pemerintah akan secara konsisten mendukung peningkatan ekspor, investasi, dan daya saing industri melalui pemberian insentif fiskal dan skema inisiatif pajak.  Salah satunya adalah bagi industri yang mendukung pendidikan vokasi serta penelitian dan pengembangan.

Untuk menarik investor pada industri manufaktur, pihaknya melakukan upaya dengan merevisi tax holiday pada 2018.

"Dalam regulasi sebelumnya Tax Holiday itu direvisi soal untuk bisa approval perlu rapat antarkementerian dan lembaga atau komite. Sekarang sudah tidak ada,"  kata Rofyanto di Gedung BI, Jakarta Pusat, Senin (12/8).

Baca juga: Industri Manufaktur Indonesia Semakin Menggeliat

Ia mengungkapkan, proses verifikasi yang tadinya memakan waktu kurang lebih delapan bulan kini dapat dipangkas hanya dalam hitungan jam lewat online single submission (OSS).

"Kita harapkan kalau itu disiapkan dengan baik itu akan menarik investor untuk datang ke Indoesia. Kita perbaiki iklim investasi," tuturnya.

Hingga kini, ia mencatat terdapat sebanyak 27 wajib pajak (WP) yang telah diverifikasi untuk mendapatkan tax holiday.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional Kementerian Perindustrian, Doddy Rahadi mengungkapkan, dengan diberikannya insentif fiskal, salah satunya super deduction tax, hal itu akan medorong pertumbuhan industri manufaktur.

"Dengan mendapatkan insentif fiskal 200% saja, investor itu sudah beruntung," ucapnya.

Asisten Deputi Moneter dan Neraca Pembayaran dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Raden Edi Prio Pambudi menambahkan, untuk mendorong sektor manufaktur di Indonesia, diperlukan sinergi dan sinkronisasi antar pemangku kebijakan dalam menyusun strategi kebijakan penguatan industri manufaktur melalui picking the winner sektor prioritas, perbaikan iklim investasi, pembangunan infrastruktur dan konektivitas, serta perbaikan SDM.

"Saya sudah sangat merasakan kerjasama antara BI, pemerintah pusat, pemerintah daerah selama lima tahun terakhir itu ada hasilnya. Kita akan semakin tahu pokok masalah yang harus kita hadapi di mana dan apa yang yang harus kita lakukan selanjutnya," tuturnya. (Ata/A-3)

BERITA TERKAIT