12 August 2019, 07:20 WIB

3 Juta Jemaah Haji Prosesi Lontar Jamrah


Sitria Hamid Laporan dari Arab Saudi | Haji

MI/ADAM DWI
 MI/ADAM DWI
Ribuan jamaah haji melakukan prosesi melontar Jumrah di Jamarat, Mina, Mekkah. 

JEMAAH haji Indonesia dan jemaah haji dari seluruh dunia  yang berjumlah sekitar 3 juta memulai prosesi melontar jamrah aqabah di Mina, kemarin.

Jemaah haji Indonesia berangsur-angsur telah menuju jamarat untuk melontar jamrah aqabah sejak Minggu (11/8) dini hari waktu Arab Saudi.

“Sampai saat ini masih banyak (jemaah haji) yang bergerak menuju jamarat untuk melontar jamrah aqabah,” jelas Kepala Daerah Kerja Madinah Akhmad Jauhari saat memantau pergerakan jemaah haji di Mina, kemarin.

Menurut dia,  batas waktu lontar jamrah aqabah sampai terbenamnya matahari. “Jemaah uzur bisa sampai malam sebelum terbit fajar tanggal 11 Zulhijah,” katanya lagi.

Sekitar 215 ribu jemaah haji telah  berada di Mina untuk melontar jamrah aqabah. Mereka terbagi dalam 73 maktab. “Alhamdulillah  Minggu (11/8) semua jemaah sudah masuk maktab semua, yang jelas terbagi dalam 73 maktab,” katanya.

Lempar jamarat ialah bagian dari prosesi haji yang mencerminkan­ perlawanan terhadap setan. Hal ini merupakan tindakan yang mencontoh Nabi Ibrahim ketika dia dan putranya, Nabi Ismail, ketika mendapatkan godaan setan.

Kemarin sore, jutaan jemaah haji dari seluruh dunia terus bergerak menuju Mina. Gerimis mengiringi perjalanan tamu Allah itu dengan suhu sekitar 35 derajat Celsius.

Para jemaah haji Indonesia yang telah berada di Mina mengatakan sore hari itu lontar jamrah tidak terlalu padat dan prosesi berjalan dengan lancar.

“Alhamdulillah padat hanya di terowongan, di jamarat lengang sehingga bisa melempar dengan lancar,” kata jemaah asal Palembang, John Redo, 49.

Hal yang sama juga disampaikan dua jemaah lainnya asal Embarkasi Aceh, Iya Rosdiana, 49, dan Bustami 63.

Lontar jamrah dilakukan dengan melempari batu ke tiang-tiang jamarat.

Setelah melontar jamrah, jemaah bisa kembali ke tenda di Mina atau ke hotel. John memilih pulang berjalan kaki ke hotelnya di daerah Shisha karena jaraknya dengan tenda hampir sama, sekitar 5 kilometer.

Jemaah asal Palembang lainnya, Aldi Tama, 29, juga memilih berjalan ke hotel. “Di hotel lebih enak, terutama bagi perempuan yang butuh toilet,” kata Aldi. (X-10)

BERITA TERKAIT