11 August 2019, 17:18 WIB

Industri Mobil Listrik Perlu Disiapkan dengan Matang


Nur Aivanni | Ekonomi

INDUSTRI mobil listrik memiliki potensi yang besar di masa mendatang, karena itu peneliti nstitute for Development of Economics and Finance (INDEF) Andry Satrio Nugroho menegaskan, perlu kesiapan matang mengimplementasikan mobil listrik baik di hulu maupun hilir.

Bentuk kesiapan yang perlu diperhatikan, lanjut Andry ialah soal ketersediaan baterai sebagai komponen utama penggerak mobil listrik dan Stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU). Saat di SPKLU, perlu diperhatikan juga soal mekanisme pengisian, melalui charger atau justru ganti baterai.

"Wacana tentang penggantian baterai. Itu tidak terlalu efisien, kita maunya memang charge baterai, 10 menit bisa jalan kembali. Itu lebih efisien," katanya saat dihubungi Media Indonesia, Minggu (11/8).

Selain itu, sambung Andry, pemerintah juga harus memikirkan terkait limbah baterai mobil listrik ke depannya.

Hal itu, menurutnya, menjadi krusial agar penanganan limbah baterai nantinya tidak menjadi masalah seperti halnya penanganan sampah plastik.

Baca juga : Pemerintah Siapkan Beragam Insentif Fiskal untuk Mobil Listrik

"Pertanyaannya apakah sudah ada proses untuk menguraikan kembali limbah baterai atau nanti buangnya harus kemana," ujarnya.

Dari sisi pasokan listrik pun, sambungnya, pemerintah harus bisa menyiapkannya secara merata jika ingin menyasar pasar di beberapa daerah di Jawa ataupun luar Jawa.

"Tantangannya bagaimana kita bisa meningkatkan permintaan yang ada di luar Jawa, sehingga supply-nya mengikuti," ujarnya.

Terkait fasilitas insentif fiskal yang akan diberikan dalam industri mobil listrik nantinya, Andry mengatakan bahwa itu juga harus diikuti dengan upaya untuk mengurangi mobil-mobil konvensional.

"Kalau ke depan kita mau mobil listrik, harus diterapkan juga ke mobil konvensional, regulasi seperti apa nih agar orang pindah ke mobil listrik," ucapnya.

Ia pun menyarankan kepada pemerintah mengimplementasikan penerapan mobil listrik di kota-kota besar terlebih dahulu, seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Makasar dan Medan.

Ketika kota-kota besar sudah cukup mendukung infrastrukturnya dengan pemberian fasilitas insentif untuk mobil listrik maupun disinsentif bagi mobil konvensional, penerapan tersebut bisa disebarluaskan ke daerah-daerah lainnya.

"Tanpa adanya rencana tersebut, (penerapan mobil listrik) itu tidak bisa dilakukan secara masif," tandasnya. (OL-7)

BERITA TERKAIT