09 August 2019, 08:35 WIB

Jemaah Haji Indonesia Mulai Bergerak ke Arafah


Sitria Hamid, Laporan dari Arab Saudi | Haji

AFP/Fayez Nureldine
 AFP/Fayez Nureldine
Sumber: Saudimedia, CDC, Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi, Pertahanan Sipil, Maps4news.com 

HARI ini secara bertahap je­maah haji Indonesia dibe­rang­katkan menuju Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Ar­muz­d­na) untuk melaksanakan puncak haji pada 9-13 Zul­hi­­jah. Mereka diminta mem­­per­­siapkan stamina.

Menteri Agama Lukman Ha­kim Saifuddin menyampai­­kan hal itu seusai menghadiri acara silaturahim Nahdlatul Ulama XVIII Sedunia di Mekah, kemarin (Kamis, 8/8/2019).

“Besok bertahap jemaah kita sudah mulai bergerak. Semua jemaah mempersiapkan diri, ti­dak perlu lagi memforsir sta­mina,” ujarnya.

Menag berharap pelaksana­an puncak haji tidak diwarnai dengan hal-hal yang tak diinginkan. “Mudah-mudahan berjalan lancar.’’

Kepala Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan Eka Yusuf Singka mengatakan tim kesehatan sudah membagi tugas dan melakukan semua persiapan untuk melayani jemaah di Armuzdna. “Kita punya tim promotif preventif, tim gerak cepat, dan tim kuratif rehabilitatif yang terus berjalan,” kata Eka di Klinik Kesehatan Haji Indonesia Mekah.

Selain itu, ada tim ambulans yang juga dipersiapkan untuk melakukan evakuasi bila diperlukan. Obat-obatan dan alat-alat kesehatan pun sudah masuk semua ke tenda di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.

Eka mengingatkan, selama rangkaian puncak haji biasa­nya banyak jemaah yang mengalami dehidrasi. Untuk itu, jemaah terus diimbau agar minum air bersama-sa­­ma pada pukul 10.00, 12.00 ser­­ta pukul 14.00 dan 16.00. “Di Arafah itu habis Azar bia­­­­sanya jadi persoalan, banyak sekali jemaah haji yang dehidrasi. Ada yang namanya minum air berprogram ini terus kita galakkan.’’

Soal safari wukuf (meng­an­tarkan jemaah haji yang sa­kit ke Arafah untuk wukuf), menurut Eka, ada beberapa kriteria pertimbangan medik, antara lain tidak boleh dalam kondisi menularkan penyakit dan bisa dibawa dengan aman. Bila tidak, dia akan di­badalkan (digantikan hajinya oleh petugas haji).

“Kita bisa badalkan, misalnya kalau ada trauma tulang be­­­lakang, tuh enggak bisa ki­­­­­ta bawa seenaknya sampai ke Arafah. Kemudian dalam ke­­­­­adaan yang tidak sadar, stro­­ke akut juga tidak bisa,” jelas Eka.

Dia menyebutkan, untuk 2019 ini ada sekitar 57 jemaah yang akan diusulkan untuk di­­­badalkan hajinya. Seluruh je­­maah haji juga tetap diimbau untuk menjaga asupan air minum, makan buah-buahan, mencegah sengatan matahari langsung, dan menghindari kelelahan yang berlebihan. (X-8)

BERITA TERKAIT