09 August 2019, 01:20 WIB

Kontekstualisasi Ibadah Kurban


Ali Usman Dosen Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga dan STAI Sunan Pandanaran Yogyakarta | Opini

MI/Seno
 MI/Seno
Ilustrasi

IDUL Adha atau ibadah kurban merupakan tapak tilas dari pengalaman keagamaan Nabi Ibrahim dan putra kinasihnya, Ismail. Karena rasa cintanya yang amat sangat kepada Tuhannya, Ibrahim berani mengambil risiko dengan mengorbankan anaknya untuk disembelih setelah mendapat titah dari-Nya lewat mimpi. Padahal, Ismail terlahir di dunia lantaran panjatan doa Ibrahim yang dikabulkan Tuhan setelah sekian lama istrinya, Siti Hajar, yang tak jua hamil.

Kendati pun kemudian Tuhan memberikan perintah lanjutan agar Ibrahim menggantikan kurban atas Ismail dengan seekor domba, langkah pengabdian Ibrahim dan Ismail itu sungguh merupakan ibadah dan pengorbanan yang syarat dengan risiko. Dengannya, kita dituntut untuk meneladan dengan memberikan sepenuhnya rasa cinta kita kepada sang Khalik, mengalahi rasa cinta kepada harta, bahkan jiwa sekalipun.

Tak heran bila Alquran mengabadikan peristiwa bersejarah itu dalam penggambaran dialog yang sangat demokratis antara seorang bapak dan anaknya. Dikisahkan Alquran, ketika Ibrahim berkata kepada anaknya, "Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi dalam tidur bahwa aku menyembelih engkau, bagaimana pendapatmu?" Ismail yang masih muda belia, menunjukkan kepasrahan serupa. "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang bersabar" (QS As Shoffat: 102).

Itu sebabnya penyelenggaran ibadah haji ke Tanah Suci merupakan pelembagaan tradisi keagamaan Ibrahim yang memiliki 'kesakralan sejarah'. Menurut Azyumardi Azra (2001), Kabah dan Arafah ialah dua simbol yang turut mengaitkan Islam dengan agama monoteis sebelumnya. Kabah dibangun atas perintah Tuhan kepada Nabi Ibrahim yang merupakan nabi dari agama-agama monoteis (QS Al Haj: 78) yang oleh banyak ahli sosiologi dan perbandingan agama sekarang disebut sebagai western religions, yakni agama Yahudi, Kristen, dan Islam.

Sementara itu, Arafah merupakan simbol dari pertemuan kembali Adam dan Hawa setelah mereka terlempar dari surga karena tergoda bisikan iblis. Ritual-ritual utama haji bermula dan berakhir dengan tawaf mengelilingi Kabah sebanyak tujuh kali. Di antara tawaf-tawaf itu para jemaah haji wajib melakukan wukuf (diam) di Arafah pada tanggal 9 sampai terbit fajar tanggal 10 bulan haji.

Wukuf di Arafah yang telah dilakukan para jemaah haji dengan demikian sebenarnya merupakan simbolisasi dari penyatuan kembali nenek moyang manusia dan keturunannya di bawah naungan bukit kasih sayang (Jabal Rahmah). Dari sini, tampaklah kalau ibadah kurban menekankan dimensi vertikal, hubungan antarseorang hamba dengan Tuhannya (hablu min Allah) dan sekaligus dimensi horizontal, hubungan antarmanusia (hablu min an-nas), yang merupakan penyeimbang dari konsekuensi agama yang diturunkan dari langit.

Kontekstualisasi kurban
Namun, pemaknaan tentang ibadah haji dan kurban sejatinya tidak dipahami secara sempit dan tekstual. Penafsiran kaku yang membuat wilayah ketuhanan semakin sempit dengan mudah dapat dilihat dari perilaku manusia dalam ritual haji. Hal ini berkaitan dengan titik-titik spesifik yang diyakini sebagai tempat Tuhan, seperti Kabah, Multazam, Hajar Aswad, tugu tempat lontar jamrah, dan tempat-tempat suci lainnya.

Padahal, mestinya firman Tuhan perlu ditafsir ulang dengan pendekatan kemanusiaan, seperti pendapat ulama 'pascamodernis' Aljazair, Malik bin Nabi, yang menyatakan bahwa kebenaran tafsir firman Tuhan diukur dari manfaat praktis dan fungsionalnya bagi penyelesaian problem kemanusiaan, seperti kemiskinan dalam arti luas.

Selama ini aksi-aksi kemanusiaan dari ajaran agama, seperti zakat harta, fitrah, dan kurban lebih bersifat fisikal dan cenderung beredar dalam kelompok internal agamanya secara eksklusif. Akibatnya, ibadah berdimensi sosial ini kurang menyentuh akar kemanusiaan, makna substansial, dan fungsional ajaran itu sendiri (Mulkhan, 2007).

Karena itu, ibadah kurban yang merupakan mata rantai dari ibadah haji, berasal dari kata dasar qurban, yang secara harfiah berarti mendekatkan diri kepada Tuhan, merupakan bentuk peribadatan yang tidak bisa menafikan peran sosial untuk orang lain. Ia bukan semata-mata ibadah individual si pelaku kurban kepada Tuhan, melainkan juga terdapat unsur kepentingannya bagi si pelaku dan lebih luas lagi untuk sesama manusia.

Artinya, seorang muslim hanya dapat dikatakan dekat kepada Tuhan jika senantiasa dekat dengan sesamanya yang berkekurangan dalam hidup. Jika seorang muslim memiliki kenikmatan, dia membagikan kenikmatan itu kepada orang lain, terutama yang berkekurangan. Misalnya, usaha menuju ke arah sana dapat ditempuh dengan berkurban (yang daging hewannya dan juga tenaga pemberi kurban) untuk membantu para korban kemanusiaan atau gempa bumi.

Seekor hewan kurban hanyalah representasi dari keharusan berkurban yang lebih besar dari yang kita miliki bagi kepentingan orang banyak yang membutuhkan, sebagai wujud kecintaan kepada Tuhan yang teraktualisasikan dalam kecintaan terhadap sesama umat manusia (Nashir, 1997).

Jadi, jika sekiranya masih ada seorang muslim yang kaya dan berkuasa membiarkan ketimpangan sosial ekonomi berlangsung, sedangkan rakyat kebanyakan masih hidup dalam kekurangan dan banyak terugikan sistem yang kini berkembang, tak ada salahnya bila meninjau ulang kembali 'kualitas' ibadah-ibadah ritual keagamaannya.

Semangat ibadah kurban, sejatinya dapat menggerakkan dan mengembangkan kesadaran sosial setiap orang yang memiliki aset ekonomi dan kekuasaan berlebihan untuk melakukan pemerataan sosial ekonomi yang lahir dari kesadaran internal (moral). Dari kesadaran moral dan sosial yang demikian diharapkan dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi proses pembangunan keadilan sosial dalam kehidupan sosial ekonomi masyarakat.

BERITA TERKAIT