07 August 2019, 19:02 WIB

Pemerintah Disarankan Dorong Startup Lokal Ikut Dongkrak Ekspor


Andhika prasetyo | Ekonomi

ANTARA FOTO/Andika Wahyu
 ANTARA FOTO/Andika Wahyu
Ketua Lembaga Pengkajian, Penelitian dan Pengembangan Ekonomi (LP3E) Kadin Indonesia Didik Rachbini

INVESTASI asing yang disuntikan kepada perusahaan-perusahaan rintisan (startup) Tanah Air, memiliki dampak positif dan negatif.

"Positifnya, aliran dana tersebut bisa membuat pasokan dolar AS di Indonesia meningkat dan menguatkan nilai tukar rupiah," ujar Ketua Lembaga Pengkajian, Penelitian dan Pengembangan Ekonomi (LP3E) Kadin Indonesia Didik Rachbini dalam diskusi di Jakarta, kemarin.

Namun, kata dia, dalam jangka panjang investasi itu bisa menyebabkan transaksi berjalan defisit. Sebab dana-dana yang digelontorkan akan kembali ke negara pemodal dalam bentuk dividen sebagai bagian dari keuntungan.

"Saya perkirakan sepuluh tahun lagi baru akan terlihat defisitnya setelah unicorn-unicorn itu untung," ujar Didik di Jakarta, Rabu (7/8). Unicorn adalah istilah untuk perusahaan rintisan milik swasta yang nilai kapitalisasinya lebih dari $1 miliar.

Oleh karena itu, Didik menyarakan pemerintah untuk bisa mendorong startup-startup lokal menggenjot ekspor, baik barang maupun jasa. Hal itu bisa dihitung sebagai kompensasi sebelum dana asing yang masuk kembali lagi ke negara asalnya.

Pelaksana Tugas Deputi Bidang Pengembangan Iklim Penanaman Modal BKPM Yuliot mengatakan, sejauh ini banyak startup masih sangat bergantung pada pendanaan dari pemain global. Hal itu lantaran sulitnya mendapatkan permodalan dari dalam negeri.

Untuk mendapat pinjaman dari dalam negeri, lanjutnya, persyaratan yang harus dipenuhi sangat ketat ditambah tingkat suku bunga yang tinggi.

"Padahal ada sekitar dua ribu startup muncul setiap tahun di Indonesia. Kalau mereka tidak bisa dapat pendanaan lokal, ya mereka cari investor dari luar negeri. Jadi ada dinamika dari kegiatan seperti ini,” tandasnya. (A-2)

BERITA TERKAIT