01 August 2019, 07:00 WIB

Agan Harahap Jokowi Punk Merupakan Karya Wow


Ardi Teristi ardi | Humaniora

Dari keterbatasan karena tidak memiliki kamera, dia justru menemukan jalan dengan memanfaatkan teknologi digital imaging.

SEBUAH kaus hitam dengan foto mirip Jokowi dikenakan Agan Harahap ketika Media Indonesia menemuinya di sebuah galeri seni rupa yang sedang direnovasi di Jalan Mangkuyudan, Yogyakarta. Foto itu sekitar Agustus 2018 sangat fenomenal karena menghadirkan wajah orang nomor satu Indonesia dengan rambut bergaya punk.

Respons yang beragam pun bermunculan, dari mulai menganggapnya sebagai lucu-lucuan hingga menganggapnya serius dan menjadikannya sebagai komoditas politik. "Ini salah satu karya wow saya, karya sukses saya," kata dia.

Narasi yang saya bikin dianggap sebagai kebenaran membuat Presiden Joko Widodo merespons karya tersebut. Presiden Jokowi dengan gaya santai sempat mengklarifikasi lewat akun Instagram-nya, foto tersebut bukanlah foto dirinya. Namun, karya Agan tersebut tidak berhenti sampai di situ.

Puncaknya, karya Agan Harahap yang diberi judul I Was a Punk Before You tersebut terpampang pada Art Bali dengan ukuran sekitar 100x160 sentimeter. Art Bali merupakan pameran seni rupa kontemporer yang bagian dari pertemuan tahunan IMF-World Bank pada Oktober 2019. Sebelum dipajang, kurator pameran sempat agak khawatir dengan karya tersebut. Namun, Agan meyakinkan, karyanya merupakan monumental dalam dunia perpolitikan di dunia digital saat itu.

"Akhirnya mereka pamerin karya saya itu, tetapi jika pihak Istana (kepresidenan) minta turunin karya ini, kita turunin tidak apa-apa ya," kata Agan menuturkan kembali apa yang ditanyakan kurator Art Bali kala itu. Agan pun setuju.

Akhirnya, karya tersebut dipamerkan dan mendapat sambutan hangat. Karya tersebut mencuri perhatian karena dipajang di bagian depan. Banyak pejabat dan artis yang tertarik dengan karya tersebut dan berfoto bersama karya tersebut seperti Luhut Binsar Panjaitan, Rudiantara, Triawan Munaf, dan Anggun hingga tokoh-tokoh luar negeri. Akhirnya, karya tersebut pun sah. Karya itu semakin hits. Dan kemudian turut melambungkan nama pembuatnya dan apa maksud dari karya tersebut.

Dalam dunia seni rupa, karya-karya yang dihasilkan Agan termasuk appropriation atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan apropriasi. Ada yang berpendapat, apropriasi dalam penciptaan karya seni bisa diartikan sebagai kecenderungan menggunakan atau meminjam karya orang lain sebagai pijakan. Meminjam elemen-elemen suatu karya untuk menciptakan karya baru. Seni ini tidak hanya dilakukan Agan Harahap, tetapi banyak seniman luar negeri juga mengadopsi teknik ini.

Kenal digital imaging

Agan mengaku, dirinya bisa berkecimpung di dunia seni fotografi kontemporer sejak masih duduk di bangku kuliah. Dalam mata kuliah fotografi di jurusan desain komunikasi visual, ia mulai belajar teknik editing lantaran keterbatasan yang dialaminya.

"Dulu saya tidak suka dan tidak senang fotografi karena saya tidak punya kamera dan kalau pinjam juga susah," kenang dia mengingat masa-masa itu. Agan kemudian memutar otak guna mengatasi kesulitan yang dihadapi dan bisa lulus mata kuliah fotografi. Cara yang dilakukannya ialah meminta foto-foto yang tidak dipakai temannya lalu mengeditnya sedikit sebelum dipresentasikan di depan kelas. Dari situ pula sekitar 1999, Agan mulai mengenal digital imaging.

Walau tidak pernah belajar fotografi secara serius, dunia fotografilah yang menjadi dunia kerjanya setelah lulus kuliah. Saat dites fotografer dan pemimpin redaksi majalah Trax kala itu, Agan berhasil mejawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dan meyakinkan mereka tentang keahliannya sehingga diterima.

Dulu waktu selesai memotret, orang mau lihat fotonya, Agan tidak memperbolehkannya karena tidak percaya diri. Selepas memotret, Agan selalu mengeditnya agar foto yang dihasilkan memuaskan. Seusai mengedit itulah, ia sempatkan diri untuk belajar tutorial fotografi.

"Saya sudah jadi fotografer baru belajar motret, dulu motret di studio, lampu banyak, tetapi tidak ada yang nyala. Pakai inflash saja," kata lelaki yang menggeluti dunia foto jurnalistik di majalah sejak 2006 hingga 2012.

Di saat yang bersamaan, Agan juga memperdalam seni fotografinya. Ia memahami, dengan digital imaging yang dikuasai, ia mampu membawa fotografi ke tingkatan yang lain.

Tinggalkan uang bulanan

Sejak 2007, di sela-sela kesibukan sebagai fotografer di majalah Trax, Agan juga mulai produktif berkarya dengan teknik digital imaging. Karya-karyanya disebar di internet, seperti Flicker, Friendster, Facebook, dan jejaring sosial yang lain. Tanpa disadari, ada kurator yang tertarik dengan karyanya dan mengajaknya pameran tunggal foto di Portugal. Itulah pameran pertamanya di luar negeri.

Pada 2012, Agan memutuskan benar-benar menjadi seniman dan meninggalkan dunia fotografer jurnalistik. Saat itu, Agan mengaku dirinya mendapat teguran dari kantornya karena sering pameran ke luar negeri. "Saat itu saya memutuskan keluar dari Trax karena pekerjaan utama sebagai fotografer majalah mulai terganggu dengan side jobku sebagai seniman. Selamat tinggal duit bulanan," kata dia sambari tertawa.

Keterlibatannya dalam dunia seni fotografi kontemporer semakin jauh ketika pada 2009, Angki Purbandono, yang juga seniornya di fotografer majalah Trax, menawarinya pameran tunggal di kelompok MES56. Itulah tonggak bersejarah bagi Agan di dunia seni fotografi kontemporer. "Ketika diajak pameran di MES56, saya semakin terbuka, sebetulnya fotografi masih satu dunia dengan seni yang lainnya, hanya dengan mediumnya yang berbeda," kata dia.

Agan mengatakan, setelah pameran di Mes56, ia sempat harus kembali ke dunia fotografer majalah Trax. Ia harus kembali mengumpulkan uang untuk membiayai hidupnya. Pasalnya, pameran di Mes56 membuat isi kantongnya banyak terkuras karena untuk mencetak dan memajang karya-karyanya.

Setelah itu, Agan mendapat ide untuk membuat karya lagi berupa Superhero series. Ada lebih dari 20 karya yang menghadirkan sosok superhero di tengah-tengah foto-foto bersejarah. Agan menghadirkan Superhero yang selama ini hidup dalam dunia imajinasi seolah benar-benar ada.

"Seperti biasa, saya taruh karya itu di mana-mana dan responsnya luar biasa. Berbagai media mengekspose karya saya ini, termasuk dari luar negeri, seperti Telegraph," cerita dia. Karya-karya itulah kemudian yang ia bawa untuk dipamerkan di Daegu Photo Biennale di Korea pada 2010.

Tangkap fenomena

Tidak berhenti di situ, kejelian Agan dalam menangkap fenomena sosial membuat ia terus produktif. Pada 2011, ia menangkap fenomena mulai berkembangnya kamera telepon seluler. Saat itulah seolah fotogarafi tidak lagi menjadi hal yang ekslusif. Orang tinggal beli ponsel dan bisa menggunakan fotografi.

Waktu buka-buka Facebook, ia melihat ada teman yang suka foto bareng selebritas dengan handphone dia dan mengunggahnya ke media sosial dan ditempatkan di album Teman-Teman Selebriti. "Padahal, dia kerjaannya juga tidak jelas, numpang sana-numpang sini. Tapi, karena foto-foto itu, status sosialnya jadi naik di kampung karena dianggap bisa temanan sama para selebritas," kata dia.

Agan pun membuat karya dengan judul Teman-Teman Selebriti pada 2012. Bedanya, jika temannya memajang foto dengan para selebritas dari dalam negeri, Agan memajang fotonya dengan para selebritas dunia, dari Celine Dion, Katy Perry, hingga Snoop Dogg. Foto barengnya hasil digital imaging bersama Snoop Dog menjadi heboh setelah dikomentari Soleh Solihun dan banyak orang yang menyangka foto itu asli. Dari situlah, Agan terus membuat karya-karya dengan memanfaatkan foto-foto para selebritas dan tokoh dunia.

Setelah itu, Agan menangkap pula fenomena kebanggaan orang Indonesia ketika ada selebritas dunia datang ke Indonesia ataupun menggunakan produk-produk Indonesia. Lagi-lagi dengan digital imaging, ia membuat karya yang menangkap fenomena tersebut dan membuatnya hiperbola, misalnya gambar Justin Bieber dipenjara di Polres Bantul hingga Kim Kardashian kena razia Satpol PP.

Karya Agan kembali membuat geger ketika Metallica datang ke Indonesia pada 2013. Saat itu, orang-orang, istilah Agan, mendadak metal dengan mengunggah hal-hal berbau Metallica. Ia pun mengunggah karya tentang kedekatan dirinya dengan para personel Metallica dilengkapi dengan narasi agar lebih menarik. Respons netizen pun awalnya sangat bagus. Namun, setelah ketahuan foto tersebut hasil editan, bully pun bermunculan.

Tidak melulu yang berhubungan dengan superhero dan selebritas, Agan juga membuat karya lain. Dia membuat karya-karya bernuansa politik yang tujuannya untuk mencairkan suasana. Sekitar sebulan yang lalu, ketika suasana politik tidak kunjung mencair setelah Pemilu 2019, Agan pun kembali membuat karya dengan gambar, Joko Widodo mengacungkan dua jari, sedangkan Prabowo Subianto mengacungkan dua jari.

Pada Prambanan Jazz 2019, Agan Harahap menjadi seniman yang memajang karyanya. Sebuah poster besar dipasang di tengah-tengah arena. Para artis, dari Yani, Brian Mc Knight, Anggun, Tulus, hingga Ari Lasso ditampilkan dalam karyanya. Jika selama ini image artis yang ada itu yang heboh dan keren, dalam karyanya Agan membuat artis-artis tersebut menjadi manusia umumnya yang ada, dari penjual angkringan, ibu-ibu rumah tangga dengan daster, hingga model periksa mata gratis.

Agan mengaku, karya-karyanya lahir merespons fenomena sosial yang ada di masyarakat. Banyak karyanya memang sengaja dipajang di media sosial karena ada interaksi berbeda ketika ditampilkan. (AT)

BERITA TERKAIT