21 July 2019, 15:55 WIB

Pendidikan Kesehatan Reproduksi pada Remaja masih Kurang


Indriyani Astuti | Humaniora

ANTARA
 ANTARA
Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo 

KEPALA Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo mengatakan bahwa pengetahuan tentang kesehatan reproduksi di kalangan remaja masih kurang. Ia mendorong agar pendidikan mengenai kesehatan remaja bisa digencarkan di sekolah-sekolah.

Hasto menjelaskan kesehatan reproduksi pada remaja masih dipandang sebagai pendidikan seksual dan terkesan tabu di masyarakat. Padahal, kesehatan reproduksi penting dikenalkan sejak dini.

Ia mencontohkan, bahwa remaja perempuan akan menjadi calon ibu pada masa depan, mereka harus teredukasi dengan baik agar jangan sampai menikah pada usia anak-anak atau remaja.

"Saya pingin dibikin jargon baru untuk anak anak milenial program BKKBN substansinya kesehatan reproduksi supaya mereka mengerti  bahayanya kawin dibawah 17 tahun," ujar Hasto seusai membuka kegiatan Gerakan Pengasuhan Anak dalam rangka Hari Anak Nasional di Taman Burung, Taman Mini Indonesia Indah,  Jakarta Timur, Minggu (21/07).


Baca juga: Adaptasi Kukuhkan Kehadiran Media Massa


Hasto menjelaskan sebelum usia di atas 20 tahun, organ reproduksi perempuan belum siap untuk hamil. Selain itu, remaja perempuan yang sudah melakukan hubungan seksual sejak dini berisiko lebih tinggi terkena kanker serviks (mulut rahim). Ia juga menyoroti kehamilan yang tidak diinginkan dan kerap kali terjadi pada remaja karena kurangnya edukasi mengenai kesehatan reproduksi.

Padahal, kehamilan harus dipersiapkan. Kondisi janin sangat ditentukan sejak awal kehamilan termasuk kesiapan calon ibu dalam memberikan asupan nutrisi pada janinnya. Ia menjelaskan para yang baru hamil atau hamil muda  hanya punya waktu 4 bulan untuk membuat plasenta bagus. Plasenta yang bagus sangat menentukan kecerdasan otak bayi dan itu bisa didapatkan dari konsumsi asupan nutrisi yang baik.

"Kalau telat menstruasi seminggu, ibu tidak minum asam folat cukup otomatis plasentanya jelek. Tapi sering ibu hamil makan yang kecut-kecut. Gizinya tidak diperhatikan saat awal hamil," papar Hasto.

BKKBN, tegasnya, ingin mengajak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk membuat modul mengenai kesehatan reproduksi pada remaja. Modul tersebut, kata Hasto, harus dibuat bersama-sama antara pemerintah, tokoh agama, dan para pakar kesehatan supaya materinya dapat diterima dan mudah disosialisasikan pada semua kalangan remaja. (OL-1)

 

BERITA TERKAIT