21 July 2019, 09:00 WIB

Logika atau Persepsi


Suprianto Annaf Redaktur Bahasa Media Indonesia | Weekend

Dok. Pribadi
 Dok. Pribadi
Suprianto Annaf Redaktur Bahasa Media Indonesia

TAK jarang konsep logika dan persepsi ini dipahami­ terbolak-balik. Maksudnya sedang berlogika, malah yang muncul persepsi. Sebaliknya, yang dimaksudkan persepsi malah menjadi logika.

Kondisi ini terlihat kuat dari isu perebutan kursi pimpinan dewan dan kabinet Presiden Jokowi. Semua partai seolah berjasa dalam mengurusi negeri. Karena itu pula, kini mereka berebut mengincar kursi penting di segala lini.

Saat berpersepsi membidik kursi ketua MPR periode ini, Partai Gerindra pun berlogika bahwa posisi itu tepat mereka tempati untuk menciptakan parlemen ideal dalam ­semangat rekonsiliasi. Mereka pun menilai kombinasi ideal akan tercipta bila ketua DPR diisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan sesuai ­perolehan suara pemilu ter­tinggi, ­kemudian kursi ketua MPR oleh Gerindra sebagai partai oposisi peraih suara tertinggi.

Tentu saja dasar yang kuat dalam menetapkan komposisi dua kursi MPR dan DPR di atas bukanlah semata karena alasan logika, melainkan persepsi belaka. Cara pandang ini sesungguhnya berangkat dari persepsi, bukan logika. Berdiri atas anggapan dari sebuah respons. Dalam persepsi ini yang muncul ialah subjektivitas, naluri, dan keakuan. Sebaliknya, logika mengedepankan kaidah dan jalan pikiran yang masuk akal.

Pada konteks lain, persepsi dan logika terjadi dalam menggunakan kata menyebabkan dan mengakibatkan. Saat peristiwa Yy, 14, di Bengkulu, yang mengalami kekerasan seksual, muncul kalimat-kalimat tak berlogika seperti (1) internet mengakibatkan tindakan asusila terhadap anak-anak dan perempuan, (2) kemiskinan­ ­mengakibatkan anak-anak putus sekolah, dan (3) kontrol orangtua yang lemah pada anak-anak mereka akan ­mengakibatkan pergaulan bebas.

Apa yang saya sebut tak berlogika dalam kalimat di atas? Bila dibaca sepintas, tentu saja ketidaklogisan itu tidak akan terlihat. Cobalah baca sekali lagi! Yang intinya tertukar pemaknaan kata menyebabkan dan mengakibatkan. Dalam konteks kalimat (1-3) di atas, yang seharus tertulis ialah kata menyebabkan bukan mengakibatkan. Mengapa?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata akibat berarti ‘sesuatu yg merupakan akhir atau hasil suatu ­peristiwa’, sedangkan sebab ‘hal yg ­menjadikan timbulnya sesuatu; lantaran; karena; (asal) mula’.

Lain lagi aspek logika dan persepsi dalam konteks kedalam­an air atau ketinggian air. Tak jarang awak media (baik cetak maupun elektronik) menyebut ‘­Ketinggian debit air di Bendung Katulampa mencampai angka 200 cm’.

Di lain kesempatan, berita menyebut ‘Kedalaman banjir mencapai 200 cm’. Kembali lagi dua contoh itu membenturkan logika dan persepsi.

Secara logika, pengukur­an debit air dilakukan dari atas ke bawah (ke dasar sungai, danau, kolam, atau ­bendungan). Artinya, si pe­ngukur tidak perlu menyelam untuk mengetahui kedalaman air tersebut. Cukup menjejakkan meteran. ­Hasilnya pun akan segera diketahui. Cara seperti ini lazim dilakukan dan tentu saja berlogika.

Hal di atas senada juga ­dengan kedalaman sumur dan kedalaman laut. Semua dijejak dari permukaan menuju bawah. Tidak pernah sebaliknya. Kalaupun ada, itu hanya dapat dilihat di area bendungan­. Biasanya sudah terpasang ­ukuran meter di sisi tembok bendungan untuk memudahkan pengukuran kedalaman air. Bila terlihat deretan angka semakin ke atas semakin besar, itu semata bahwa titik dasar (baca nol) ada di bawah dan yang terlihat di permukaan angka berikutnya. Aneh bila dibalik arahnya.

Paparan ini menandakan betapa paniknya kita dalam berbahasa. Sering berbahasa seke­nanya, tetapi sudah dianggap berterima. Padahal, itu berlewah lema dan memutar akal saja. Aneh, ya!

BERITA TERKAIT