22 July 2019, 08:15 WIB

Orang Bahagia Mencari Orang Asing, Orang Sedih Cari Teman


Galih Agus Saputra | Weekend

123rf
 123rf
Orang sedih akan mencari teman mereka, sedangkan orang bahagia lebih memilih bertemu orang asing.

Manusia pada dasarnya ialah mahluk sosial. Dalam berbagai kesempatan dan kondisi, mereka selalu membutuhkan orang lain untuk mengobrol atau bertukar pikiran demi menjaga kesehatan mental.

Namun sebuah penelitian dari Havard University mengungkapkan ‘orang bahagia’ cenderung lebih terbuka untuk bertemu dengan orang asing. Sementara mereka yang sedih cenderung akan lebih menyempatkan diri untuk bertemu teman.

Dalam penelitian itu, sebagaimana dilansir Daily Mail, sejumlah ahli mengamati lebih dari 30ribu orang–kebanyakan dari Perancis–selama sebulan. Mereka diperiksa secara acak menggunakan sebuah aplikasi yang memberikan pesan teks berupa pertanyaan terkait perasaan, aktivitas, dan dengan siapa mereka menghabiskan waktu jika tidak sendirian.

Melalui metode itu, para ahli dapat melihat bagaimana mereka menghabiskan waktu dan pengaruhnya terhadap perasaan masing-masing. Sebagai bagian dari analisis para peneliti juga memperhitungkan tingkat kesenangan di setiap kegiatan yang dilakukan para peserta sepanjang hari. Termasuk hal-hal kecil dalam kepribadian mereka, seperti apakah mereka cenderung menjadi lebih baik karena suatu hal tertentu dan lain sebagainya.

Para peneliti juga menemukan fakta mereka yang merasa sedih akan lebih banyak menghabiskan untuk menjangkau teman-teman dan koneksi terdekat. Waktu yang berkualitas bersama orang yang dicintai adalah suatu bentuk kenyamanan tersendiri.

Sebaliknya, orang yang bahagia bersedia pergi untuk mencari situasi yang kurang menyenangkan. Mereka akan memilih 'jenis hubungan sosial’ yang mungkin kurang menyenangkan, namun menjanjikan imbalan jangka panjang.

Psikolog memiliki banyak teori untuk menjelaskan emosi dan bagaimana perilaku sosial seseorang seperti yang dapat dilihat dari dua fenomena di atas tadi. Apa yang mereka lakukan tadi juga selaras dengan teori atau prinsip ‘hedonis-fleksibilitas'.

Pada prinsipnya seseorang tidak hanya melakukan apa menurutnya baik karena ada hal-hal yang harus dilalui meskipun tidak menyenangkan. Ketika kita tidak bahagia, orang perlu waktu untuk bertemu teman-teman dan orang-orang terkasih untuk mendapatkan kembali rasa bahagianya. Sebaliknya, ketika sudah bahagia orang akan siap menerima satu atau dua pukulan saat menjalankan kegiatan atau aktivitasnya masing-masing. (M-3)

BERITA TERKAIT