16 July 2019, 21:19 WIB

Mengenang Jejak Manusia Pertama di Bulan


Ihfa Firdausya | Internasional

 (Photo by HO / NASA / AFP)
  (Photo by HO / NASA / AFP)
Tiga kru  Apollo 11 (dari kiri ke kanan) Neil A. Armstrong, Michael Collins, dan Edwin E. "Buzz" Aldrin.

SEBELUM abad ke-20, Bulan hanya digambarkan dalam bait-bait indah puisi yang ditulis para pujangga. Salah satunya "Hym to Moon" karya penulis Inggris Lady Mary Wortley Montagu (1689-1762).

Tidak jelas, siapa yang pertama kali menulis tentang benda bulat yang kerap terlihat di langit malam ini ke dalam puisi. Namun, yang pasti, manusia pertama yang menjejakkan kakinya di sana adalah Neil Armstrong.

Lima puluh tahun lalu, Armstrong bersama rekannya, Edwin Buzz Aldrin dan Michael Collins bertolak ke Bulan. Ketiga astronot Amerika Serikat ini memang bukan orang pertama yang berpetualang ke luar angkasa. Tujuh tahun sebelumnya, Uni Soviet (Rusia) telah mengirim Yury Gagarin ke jagad raya di luar bumi.

Namun, di kemudian hari, misi yang dilakukan AS inilah yang menguak tabir dan mengubah cara kita melihat tempat umat manusia di alam semesta ini. Modul (semacam kapsul) dari Apollo 11 (nama pesawat luar angkasa yang mereka pergunakan ketika itu) dikenal dengan nama "Eagle", menyentuh permukaan Bulan pada 20 Juli 1969. Lalu Armstrong keluar beberapa jam setelahnya, disusul Aldrin. Armstrong menjadi manusia pertama yang menjejakkan kakinya di sana.

Saat itu, Collins tetap berada di orbit bulan dalam modul komando bernama Columbia. Hal itu sebagai satu-satunya cara mereka agar dapat kembali ke Bumi."Mereka tahu, saya tahu, jika mereka tidak bisa turun karena suatu alasan, tidak ada lagi yang bisa saya lakukan," kata Collins kepada wartawan pada rangkaian acara pendaratan Apollo 11, di New York, Mei lalu. "Aku tidak punya pendaratan di Columbia, aku tidak bisa turun dan menyelamatkan mereka."

Berbeda dengan Collins, ucapan Aldrin relatif sulit dipahami. Walaupun begitu, ia tetap ambil bagian dalam beberapa acara, termasuk gala dinner Sabtu lalu di mana tiket termurah dijual dengan harga $1.000. Itu merupakan awal dari rangkaian acara peringatan Apollo 11 selama seminggu penuh.

Walaupun telah sepuh, Aldrin masih aktif di Twitter. Ia juga selalu terlihat mengenakan kaus kaki bermotif bintang dan strip merah—lambang bendera AS. Pada Selasa (hari ini WIB), ia akan menjadi bintang acara sebagai orang kedua yang menginjakkan kaki di Bulan. Sejauh ini,  hanya empat dari 12 pria yang melakukannya dan tetap hidup.

Terlepas dari perayaan itu, baik AS maupun negara lain belum berhasil mengirim kembali manusia ke Bulan sejak 1972. Presiden George Bush berjanji untuk melakukannya pada tahun 1989 namun tak terlaksana. Begitu pun putranya, Presiden George W Bush gagal merealisasikan janjinya pada 2004, yang saat itu berjanji juga mengirim pesawatnya ke Mars. Mereka berdua berjibaku dengan kongres yang enggan mendanai proyek ini.

Kini, Presiden Donald Trump menggagas kembali perlombaan untuk menaklukkan Bulan dan Mars setelah ia mulai menjabat pada 2017. Efek langsung dari ambisi proyek ini adalah menciptakan kekisruhan dalam Badan Antariksa Amerika, NASA. Pekan lalu, administrator NASA Jim Bridenstine memecat kepala direktorat eksplorasi ruang angkasa Bill Gerstenmaier. Pemecatan tersebut disinyalir lantaran ketidaksetujuan atas titah Trump untuk kembali mengirim orang Amerika ke Bulan pada 2024.

"Kami tidak punya banyak waktu untuk disia-siakan. Jika kami akan memiliki pemimpin baru, itu harus terjadi sekarang," kata Bridenstine kepada CSPAN, pekan lalu.(A-2)

BERITA TERKAIT