15 July 2019, 22:26 WIB

Jumlah Penduduk Miskin di NTB Turun 0,07%


MICOM | Nusantara

ANTARA
 ANTARA
Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTB Najamuddin Amy saat menghadiri agenda rilis di BPS NTB. Senin (15/07).

BADAN Pusat Statistik (BPS) menyebut bahwa persentase penduduk miskin terhadap total penduduk atau P0 di Provinsi Nusa Tenggara Barat pada Maret 2019 sebesar 14,56%. Angka itu menurun 0,07% poin ketimbang September 2018 yang sebesar 14,63%.

Pemerintah Provinsi NTB pun merespon laporan BPS tersebut dengan menyebut bahwa mereka selama ini memang tetap konsen pada upaya untuk menurunkan angka kemiskinan di daerahnya.

Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTB Najamuddin Amy mengatakan, Provinsi NTB pascagempa sering diasumsikan sebagai daerah yang terpuruk dari sejumlah sektor, terutama masalah kemiskinan. Namun berdasarkan perhitungan yang dilakukan BPS NTB dari September 2018 – Maret 2019, persentase penduduk miskin terhadap total penduduk di NTB justru menurun meskipun tipis.

Pendekatan kebutuhan dasar untuk menghitung kemiskinan adalah kebutuhan dasar makanan dan kebutuhan dasar nonmakanan. Terkait dengan hal ini, masyarakat NTB pascagempa banyak menerima bantuan makanan dan nonmakanan dari berbagai kalangan, sehingga terhindar dari kekurangan makanan yang bisa berpengaruh pada naiknya angka kemiskinan.

“Kita memiliki daya tahan. Karena pasokan makanan dan non makanan selama pascagempa tetap mengalir dari banyak pihak. Sehingga angka 0,07 persen ini harus disikapi sebagai optimisme kita. Saat kita terpuruk pun kita masih bertahan di angka 0,07 persen poin itu,” kata Najamuddin Amy, Senin (15/7).

Ia mengatakan, optimisme pemerintah daerah untuk terus menurunkan angka kemiskinan di NTB tetap dibangun. Intervensi anggaran dari APBD terutama di sektor-sektor yang menjadi penyusun garis kemiskinan ini akan dilakukan dalam rangka menurunkan angka kemiskinan secara berkelanjutan.

Sementara itu, Kabid Statistik Sosial BPS Provinsi NTB, Arrief Chandra Setiawan mengatakan, selama September 2018 – Maret 2019, garis Kemiskinan naik sebesar 3,03%, yaitu dari Rp373.566,- per kapita per bulan pada September 2018 menjadi Rp384,880,- per kapita per bulan pada Maret 2019.

“Peranan komoditi makanan terhadap garis kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan. Pada Maret 2019, komoditi makanan menyumbang sebesar 74,54 persen pada garis kemiskinan,” kata Arrief.

Jumlah penduduk miskin di Provinsi NTB pada Maret 2019 tercatat sebesar 735,960 orang (14,56%). Pada September 2018, jumlah penduduk miskin di NTB sebesar 735,620 orang (14,63%). Memang terlihat angka kemiskinan naik tipis 340 orang selama periode tersebut karena adanya penambahan jumlah penduduk. Namun jika dilihat dari persentase penduduk miskin terhadap total penduduk selama periode September 2018 – Maret 2019 yaitu ada penurunan sebesar 0,07% poin.

Terkait dengan Gini Ratio, pada Maret 2019, tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk NTB yang diukur oleh Gini Ratio tercatat sebesar 0,379. Angka itu mengalami penurunan sebesar 0,011 poin jika dibandingkan dengan Gini Ratio September 2018 yang sebesar 0,391. Sementara itu jika dibandingkan dengan Gini Ratio Maret 2018 yang sebesar 0,372, Gini Ratio Maret 2019 naik tipis sebesar 0,007 poin.

Distribusi Gini Ratio 34 provinsi se-Indonesia, dari nilai yang paling tinggi ke nilai paling rendah, maka Provinsi NTB berada diurutan ke 9 tertinggi yaitu 0,379. Angka ini lebih rendah daripada Gini Ratio secara nasional yang berada di angka 0,382. “Kita masih berada di bawah angka nasional. NTB masih untung karena secara nasional yaitu 0,382,” kata Najamuddin Amy. (RO/A-6)

 

BERITA TERKAIT