15 July 2019, 23:15 WIB

Saat Perhelatan Comic-Con tidak Seintim Masa Lalu


Tesa Oktiana Surbakti/X-11 | Internasional

CHRIS DELMAS / AFP
 CHRIS DELMAS / AFP
Seorang cosplayer berpose untuk di foto saat pergelaran Comic-Con International 2018 di San Diego, AS.

PENGGEMAR komik pasti akrab dengan perjalanan Peter Parker bersama laba-laba radioaktif hingga kisah Superman melarikan diri dari Planet Krypton yang meledak. Sekitar 135 ribu geek dan kutu buku kini akan menginvasi San Diego, Amerika Serikat, pekan depan untuk menghadiri Comic-Con yang ke-50.

Perayaan budaya pop terbesar di dunia itu akan menjadi topik perbincangan yang hangat. Perhelatan konvensi ini menarik bintang papan atas Hollywood seperti Arnold Schwarzenegger, Patrick Stewart, dan para pemeran Game of Thrones ke dalam berbagai panel yang heboh, di mana waralaba bernilai jutaan dolar diluncurkan.

Comic-Con yang pertama, buah karya seorang pengoleksi komik berusia 36 tahun dan lima pengikutnya yang masih remaja, hanya menarik perhatian 100 orang ke lantai bawah tanah sebuah hotel kumuh di era 1970. Golden State Comic-Con pertama kali dirancang sebagai cara untuk menghubungkan para penggemar dan bertemu pahlawan mereka yakni para pencipta buku komik. Ketika genre itu satu juta mil jauhnya dari arus utama.

"Kami tidak pernah berpikir akan menjadi sebesar ini. Kami tidak pernah berpikir akan bertahan sampai 50 tahun. Mereka adalah orang pertama yang benar-benar melihat komik sebagai seni," tutur Kepala Pemasaran Comic-Con, David Glanzer, kepada AFP.

Perkembangan Comic-Con selanjutnya mengalami tahapan yang luar biasa. Bahkan melampaui sejumlah komik serta memenuhi layar film dan televisi berikut genre lain seperti fiksi ilmiah. Sutradara pemenang Oscar, Frank Capra, adalah bintang arus utama pertama yang memperhatikan.

"Akan tetapi, bisa dibilang titik kritis muncul pada 1976, ketika penerbit Lucas Film mengirim sebuah tim yang membawa poster dan pelat kaca untuk mempromosikan film kecil yang disebut Star Wars," ujar Glanzer.

Upaya itu membuahkan hasil. Para eksekutif studio besar mulai berdatangan. Mereka mengenakan setelan bisnis untuk menyelesaikan kesepakatan lisensi besar di beberapa restoran kelas atas San Diego.

Pada era 90-an, studio dan jaringan meluncurkan para bakatnya, termasuk pemeran dan sutradara bertabur bintang, membuat media tradisional langsung melirik. Francis Ford Coppola, misalnya, datang untuk mempromosikan Dracula.

"Dulu kami harus membagikan 2 ribu-3 ribu tiket lewat radio karena sepi peminat. Sekarang, tiket terjual habis dalam waktu satu jam," kenang Glanzer.

Resep dapurnya menjadi begitu terkenal sehingga tiruan dan spin-off Comic-Con bermunculan di penjuru dunia, mulai dari New York hingga Arab Saudi.

Berubah

Namun, bagi sebagian pihak, pertumbuhan eksponensial tersebut mengorbankan sesuatu.

Perhelatan yang dulu begitu intim, sekarang dipenuhi ribuan penggemar bermata merah, mengenakan kostum monster dan alien, yang sibuk mengantre jauh sebelum fajar menyingsing demi untuk bisa masuk ke ruang pameran yang penuh sesak.

Banyak pula yang meratapi kenyataan bahwa larisnya dunia film Hollywood dan video gim menyebabkan buku-buku komik turun ke posisi terbawah. (Tesa Oktiana Surbakti/X-11)

BERITA TERKAIT