15 July 2019, 16:00 WIB

Krisis di Masa Lalu Harus Dijadikan Pelajaran


Andhika Prasetyo | Ekonomi

ANTARA
 ANTARA
Boediono

KISAH keterpurukan Indonesia pada masa 1980-an harus dijadikan pelajaran berharga bagi seluruh pemangku kebijakan saat ini. Demikian diungkapkan Wakil Presiden Republik Indonesia periode 2019-2014, Boediono, saat menghadiri Peringatan Hari Pajak, di Kantor Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (15/7).

Kala itu, tepatnya sepanjang periode 1970-1980, merupakan masa kejayaan Tanah Air karena didorong meledaknya harga minyak bumi di level global. Penerimaan negara dari sektor tersebut pun sangat positif.

Baca juga: Presiden Minta RAPBN 2020 Disesuaikan dengan Kondisi Global

Berdasarkan data Reforminer Institute, pada medio itu, sektor migas memberikan sumbangan 62,88% terhadap penerimaan negara.

Namun, hasil baik yang diraih itu membuat para pejabat negara menjadi terlena, enggan melakukan inovasi, hanya bertumpu dan mengandalkan migas semata. Hingga pada akhirnya, krisis terjadi pada pertengahan 1980. Booming minyak mulai berakhir dan membuat pemerintah kelabakan. Saat itu, setelah krisis terjadi, pemerintah baru bergerak mencari jalan keluar, mencari sumber pemasukan selain migas.

"Ini harus menjadi pelajaran. Kita tidak boleh terninabobokan oleh keadaan walaupun tengah mengalami tahun-tahun yang bagus. Kita harus terus melangkah lebih maju lagi secara fundamental," ujar Boediono.

Jangan sampai, sambungnya, Indonesia mengalami krisis terlebih dulu, baru para pemimpin sibuk mencari solusi. Aksi pencegahan harus disiapkan sedini mungkin terhadap risiko apapun yang mungkin saja dapat menimpa Indonesia di masa mendatang.

"Kita harus selalu melakukan refleksi, melihat ke belakang, menjadikan itu pelajaran dan memasukkan pertimbangan untuk melangkah ke depan," ucap pria yang juga pernah menjabat sebagai Menteri Keuangan itu. (OL-6)

BERITA TERKAIT