15 July 2019, 11:05 WIB

Apresiasi Perry kepada Mirza Adityaswara


Atalya Puspa | Ekonomi

 ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
  ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
Gubernur BI Perry Warjiyo

GUBERNUR Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo secara khusus memberikan apresiasi kepada wakilnya, Deputi Gubernur Senior BI, Mirza Adityaswara, karena dianggap telah berkontribusi secara signifikan terhadap perumusan kebijakan Bank Sentral.

Dalam sebuah seremonial karya kreatif di Jakarta, Jumat (12/7), Perry juga mengucapkan selamat datang kepada penerus Mirza, anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Destry Damayanti, yang dia sebut sebagai kawan lama.

Untuk diketahui Mirza akan purnajabatan sebagai orang nomor dua di Bank Sentral pada 24 Juli 2019.

"Kontribusi Mirza di BI tidak hanya soal pandangan dari sisi pasar keuangan, tapi Mirza juga memiliki pandangan dan analisis yang tajam," ujar Perry.

Di luar perumusan kebijakan moneter, Perry menyanjung Mirza karena telah membangun tata kelola yang baik di internal Bank Sentral.

Mirza dinilai sebagai sosok pemimpin yang mampu membangun hubungan baik antara kantor pusat dan kantor perwakilan BI di daerah dan juga luar negeri.

Jabatan Mirza sebagai orang nomor dua di BI akan segera digantikan Destry Damayanti.

Komisi Keuangan dan Perbankan di DPR telah secara resmi memberikan persetujuan kepada Destry sebagai DGS Bank Indonesia untuk periode 2019-2024.

Posisi Destry di Bank Sentral tinggal menunggu sidang paripurna DPR dan pengucapan sumpah jabatan di Mahkamah Agung.

Perry mengharapkan Destry agar cepat beradaptasi dengan ranah kebijakan Bank Sentral jika nanti sudah dilantik Mahkamah Agung (MA).

Perry yakin kemampuan dan integritas Destry mampu memenuhi tanggung jawabnya di BI.

"Kami sudah sering komunikasi sejak lama dan dia itu kawan lama. Selamat datang sebagai Deputi Gubernur Senior BI," tandas Perry.

Izin pamit

Dalam sebuah diskusi yang digelar dengan sejumlah media massa pada akhir bulan lalu, Mirza sempat melontarkan pernyataan berpamitan sebagai Deputi Gubernur Senior BI.

Mirza sudah melaksanakan tugasnya dalam mengawal perekonomian Indonesia, khususnya mengawal rupiah, selama 5 tahun 10 bulan.

Sambil selalu tersenyum, dia bercerita tentang yang dilakukannya pada awal tugasnya Oktober 2013. Bagi dia, itu ialah masa-masa perjuangan dalam mengawal rupiah yang tengah digoyang cukup keras oleh dolar AS sejak Mei 2013.

Kebijakan yang tidak populer pun dilaksanakan seperti menaikkan suku bunga acuan karena pada saat itu defisit transaksi berjalan dan defisit anggaran harus dikendalikan.

Subsidi pada saat itu dikurangi dan Bank Indonesia juga harus mengurangi defisit transaksi berjalan karena sudah lebih dari empat persen dari produk domestik bruto (PDB) pada triwulan II-2013. Kurs rupiah anjlok dari 10.000 menjadi 13.000 per dolar AS.

Sementara itu, cadangan devisa turun sampai US$92 miliar. Baru pada 2015 defisit transaksi berjalan dan inflasi mulai terkendali. Defisit transaksi berjalan mulai turun ke arah 3% dan inflasi di level 3%-3,5% pada 2015-2017.

Pengetatan yang dilakukan BI pada 2013 itu bisa dibalikkan jadi pelonggaran pada 2016-2017 sehingga secara angka-angka fundamental, ekonomi kembali normal.

Sebagai negara yang sedang berkembang, Indonesia selalu membutuhkan dana dari luar negeri.

"Karena itu, kita memang harus mengelola ekonomi ini secara prudent,"tandasnya. (Ant/E-1)

BERITA TERKAIT