14 July 2019, 16:30 WIB

Perlindungan Kura-Kura Leher Ular Rote Diperkuat


Dhika Kusuma Winata | Humaniora

MI/Mohamad Irfan
 MI/Mohamad Irfan
Kura-kura leher ular rote (Chelodina mccordi)

PEMERINTAH Nusa Tenggara Timur menetapkan Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) Lahan Basah sebagai habitat kura-kura leher ular rote (Chelodina mccordi) di Kabupaten Rote Ndao. Penetapan itu diapresiasi sebagai upaya melindungi habitat kura-kura leher ular rote yang saat ini sulit ditemukan lagi di berbagai ekosistem perairan Pulau Rote.

"Penerbitan SK tersebut merefleksikan komitmen pemda untuk melindungi kura-kura leher ular rote yang saat ini tidak dapat ditemukan lagi di berbagai ekosistem perairan Pulau Rote, yang menjadi habitat alami satwa endemik dan ikonik pulau itu," kata Direktur Wildlife Conservation Society (WCS) Indonesia Noviar Andayani, Minggu (14/7).

Dalam keputusan tersebut ditetapkan tiga habitat terakhir yang masih layak yakni Danau Peto, Danau Lendoen, dan Danau Ledulu. Penetapan KEE, sebut Noviar, merupakan awal dan batu loncatan bagi upaya pemulihan kembali populasi kura-kura rote di alam. Masih diperlukan upaya-upaya konkret dan berkesinambungan untuk dapat mencapai tujuan tersebut.

"Komitmen pemerintah daerah dan berbagai stakeholder menunjukan masa depan yang baru bagi kura-kura endemik rote ini," ucapnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan NTT Ferdy J Kapitan menyatakan pengelolaan ekosistem hewan langka tersebut ke depan juga mwngarah untuk destinasi wisata alam baru di NTT. Sebagai penjabaran lebih lanjut dari keputusan tersebut, pengelolaan KEE ke depan akan dilaksanakan intensif berkolaborasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Pemerintah Kabupaten Rote Ndao, perguruan tinggi, masyarakat setempat, WCS dan instansi terkait lainnya.

"Bagi kami, menjaga dan melestarikan kura-kura leher ular rote yang merupakan spesies endemik ini tidak hanya sebuah kewajiban atau keharusan, tetapi menjadi suatu kebutuhan yang akan terus berlangsung dari generasi ke generasi, baik pemerintah, swasta maupun masyarakat," jelasnya.

Sementara itu, Kepala BBKSDA NTT Timbul Batubara menyampaikan kura-kura leher ular rote merupakan satwa endemik rote yang keberadaanya kini sudah sulit di alam. Spesies ini telah masuk daftar dilindungi berdasarkan Permen LHK Nomor 106 Tahun 2018.

"Penerbitan SK Gubernur mengenai KEE ini merupakan jembatan dalam pengelolaan habitat kura-kura leher ular rote yang harus dilakukan secara terintegrasi antara berbagai pemangku kepentingan," jelas Timbul.

baca juga: Pascapertemuan Jokowi-Prabowo, Investor tidak Lagi Wait and See

Menurut Timbul, BBKSDA dan Balitbang LHK Kupang didukung oleh WCS Indonesia dan Wildlife Reserves Singapore (WRS) telah mulai menginisiasi program reintroduksi kura-kura leher ular rote sejak 2016. Sebagai upaya pengembalian populasi satwa dari kepunahan lokal.

WRS berkontribusi untuk meningkatkan populasi kura-kura leher ular rote melalui program pembiakan agar dapat direpatriasi dan diintroduksi kembali ke Pulau Rote. Kura-kura leher rote juga menjadi salah satu bagian dari koleksi Singapore Zoo sebagai bagian penyadartahuan konservasi spesies tersebut kepada publik. (OL-3)

 

 

BERITA TERKAIT