14 July 2019, 15:30 WIB

Bosccha Rayakan 50 Tahun Pendaratan Manusia ke Bulan


Depi Gunawan | Humaniora

MI/Depi Gunawan
 MI/Depi Gunawan
 Observatorium Bosscha  menggelar open house dalam merayakan 50 Tahun pendaratan manusia ke bulan, Sabtu (14/7). 

DILUNCURKAN pada 16 Juli 1969 pagi dari Pusat Antariksa Kennedy, Florida, Amerika Serikat, roket Saturn V membawa tiga astronot dalam perjalanan menuju pendaratan pertama manusia di permukaan bulan. Misi ini merupakan seri ke-11 dari Proyek Apollo, setelah lima misi berawak dan lima misi tak berawak  5 misi tak berawak dalam rangka pengujian roket dan modul pendaratan.

Selain melakukan pendaratan, para astronot yang terdiri dari Neil Armstrong, Michael Collins, dan Buzz Aldrin juga ditugaskan untuk melakukan beberapa eksperimen sains untuk mempelajari gerak dan komposisi permukaan bulan.

Pada 21 Juli 1969, Armstrong dan Aldrin akhirnya berhasil menjadi manusia pertama yang menginjakkan kaki di bulan. Dalam rangka memperingati 50 tahun pendaratan pertama di bulan dan 100 tahun International Astronomical Union (IAU), Observatorium Bosscha ikut serta merayakan sejarah ini dengan menggelar open house di Observatorium Bosscha Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu (13/7) sore.

Kepala Observatorium Bosscha, Premana W Permadi mengungkapkan tujuan utama kegiatan open house yaitu untuk mengenalkan kepada generasi muda khususnya anak-anak, tentang peristiwa manusia pertama yang menginjakan kaki di bulan.

"Kalau diperhatikan, kebanyakan generasi muda tidak mengalami. Waktu pendaratan pertama manusia di bulan, mereka belum lahir. Pertama bisa mendarat di bulan, suatu prestasi besar sekali untuk peradaban science, teknologi dan ambisi," kata Premana.

Sehingga kegiatan ini, terang dia mengingatkan kepada siapa pun baik yang sudah tahu maupun yang belum, bahwa untuk bisa mendaratkan manusia di bulan dan kembali lagi ke bumi butuh perjuangan yang luar biasa. Ditambah tekad serta semangat yang tak luntur walaupun banyak sekali kendala dan tantangan.

"Anak-anak sekarang apa-apa sudah tersedia, tidak melihat perjuangan itu. Sehingga memupuk rasa bahwa mimpi dan lain-lain itu perlu diperjuangkan dengan upaya dan belajar. Ilmu pengetahuan tidak otomatis tersedia," jelasnya.

Tujuan lainnya, lanjut dia, bumi sebagai tempat tinggal manusia sangat erat sekali hubungannya dengan bulan. Akan tetapi, pengetahuan tentang satelit alami di tata surya itu masih minim. Mulai dari hal sederhana yang dipelajari di sekolah, seperti gerhana, fase bulan, penentuan awal bulan Ramadan dan Syawal serta lainnya.

"Ternyata pengetahuan orang itu masih boleh dibilang rendah. Nah ini jadi upaya untuk menambah apa yang sudah dipelajari di sekolah dengan cara yang lebih nyaman. Enggak dipaksa, enggak harus menghapal tapi sambil bermain," tuturnya.

baca juga: Mayoritas Incenerator Rumah Sakit di Kalsel Tidak Berizin

Banyak kegiatan yang melibatkan anak-anak agar mereka mengenal tentang bulan. Mulai dari menyusun gambar bulan dengan puzzle, membaca poster, teknologi peroketan, hingga bagaimana strategi mendarat di bulan. Tidak hanya itu, rangkaian acara juga diisi dengan ceramah bertopik tentang bulan, penjelasan fasilitas teropong bintang Bosscha, fasilitas-fasilitas yang tersedia, pekerjaan penelitian di Bosscha hingga pemantauan bulan dan planet jupiter melalui teropong pada malam hari.Dengan cara-cara seperti ini, dia berharap, ingatan anak-anak terhadap ilmu astronomi bisa bertahan di pikiran dalam jangka waktu yang lama. (OL-3)

 

BERITA TERKAIT