14 July 2019, 11:30 WIB

Film 'Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi' Tayang Pekan Depan


Eni Kartinah | Humaniora

MI/Eni Kartinah
 MI/Eni Kartinah
Penulis cerpen Seno  Gumira Ajidarma dan para pemain film Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi. 

GELIAT perfilman Indonesia kian hari kian menarik. Para sineas termasuk sineas muda sudah mulai terstimulasi untuk mengeksplor karya-karya mereka tanpa takut terbentur pada ramuan khas box office yang diinginkan pasar. Berbagai genre baru selain horor terus bermunculan. Dari segi kualitas film dan ceritanya pun terus terjadi peningkatan.

Penikmat film Indonesia kini ibaratnya tidak perlu khawatir dengan sajian monoton di bioskop-bioskop. Salah satunya adalah film produksi Himaya Studio berjudul Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi (DMDM) garapan John de Rantau yang segera rilis di pekan depan atau mulai 18 Juli 2019.

Film DMDM ini berangkat dari sebuah cerita pendek (cerpen) karya penulis Seno Gumira Ajidarma yang  terkenal dan ceritanya amat menarik untuk diketahui. Cerpen ini sempat mencuat karena kisahnya yang mewakili zamannya pada saat itu di era 90-an. Cerita ini berkisah tentang Sophie, gadis cantik.

Sophie datang ke  sebuah Kampung Lapak yang dihuni  orang-orang yang bertolak belakang dengan sosoknya. Pemukiman berhimpit yang dihuni warga multietnis dari berbagai latar belakang. Namun kehadiran Sophe seakan sebagai sosok  'dari luar angkasa'. Ia pun mendadak 'mengubah' kehidupan mereka, terutama kaum wanita di kampung Lapak.

Kehadiran Sophie yang membutuhkan studi langsung untuk menyelesaikan tesisnya ini rupanya menjadi sumber petaka bagi gerombolan istri. Sosok sophie yang aduhai menjadi godaan dan hiburan bagi para suami dan laki-laki baik tua maupun muda.

Sayangnya di antara mereka mungkin ada yang kebablasan, mungkin juga tidak, tetapi Sophie sudah keburu menjadi kambing hitam warga. Kehadirannya seketika membuahkan peperangan asumsi  yang mana bumbu-bumbu negatif lebih mendominasi situasi.

Himaya Studio amat jeli untuk mengangkat kembali karya Seno Gumira Ajidarma tersebut  ke dalam film di era millenial. Era dengan asumsi bahwa  masih sering menjadi senjata peperangan baik di dunia nyata maupun dunia maya. Dalam iklim digital biasanya kabar-kabar beraroma asumsi yang belum terbukti faktanya ini dikenal dengan hoaks.

Kehebohan warga akan kehadiran Sophie membuat hidup mereka gonjang-ganjing dan nyaris berubah 180 derajat. Film ini seolah menjadi cermin akan kebiasaan masyarakat Indonesia yang suka menyalahkan atau mengkambinghitamkan sosok baru di dalam lingkungan atas masalah yang dia alami dalam hidupnya. Komedi satir diramu sangat apik dan menggelitik oleh sutradara John de Rantau.

Selain memiliki komposisi cerita yang kuat,  tokoh-tokoh di film ini pun diperankan oleh sederet artis senior seperti Mathias Muchus, Yurike Prastika, Yan Widjaya, Inggrid Widjanarko, Anna Tarigan, Ricki Malau, wan Gardiawan, Anne J.Cotto, Anisa Sheban, J. Sebastian dan masih banyak lagi. Sementara itu, sosok Sophie diperankan mantan finalis putri Indonesia 2014, Elvira Devina.

Elvira Devina merasa bangga dipercaya memainkan karakter sophie yang kuat dan berkelas. Apalagi debut kemunculannya didampingi oleh artis-artis senior lainnya. Film Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi akan ditayangkan secara serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai tanggal 18 Juli 2019.

Sepertinya harapan film Indonesia akan menjadi tuan rumah di negerinya sendiri sudah bukan hayalan semata. Hal ini terbukti dari seringnya film-film apik dan bergenre baru masuk dalam jajaran film box office Indonesia. Bravo untuk Film Indonesia dengan seenap sineas dan para penikmatnya.(OL-09)

 

BERITA TERKAIT