14 July 2019, 10:00 WIB

Polos dan Cerianya Gadis Sultra


Suryani Wandari | Weekend

Dok. Ferry Sunarto
 Dok. Ferry Sunarto
Model menggunakan koleksi De Posuo karya desainer Ferry Sunarto, di Jakarta.

PADUAN siluet membentuk tubuh serta potongan halterneck dengan cutout di pundak untuk gaun selutut itu memang bukan hal baru. Namun, kesan berbeda muncul dari material yang digunakan. Kain adatinya mudah dikenali dengan adanya motif bidang geometris dan garis zig-zag. Material bermotif geometris itu digunakan di bagian halterneck yang menyambung ke median torso dan menyambung lagi ke rok.

Pada bagian tepi-tepi torso menggunakan material adati lainnya yang bermotif garis vertikal. Penggunaan dua material itu, sekaligus bidang memanjang di median, menghasilkan siluet merampingkan. Sementara itu, kesan centil dan seksi diperkuat dengan ruffle tile sebagai hiasan bahu.

Begitulah salah satu busana karya Ferry Sunarto yang diperagakan di The Tribrata, Jakarta, Rabu (3/7). Koleksi bertajuk De Posuo itu nyatanya memang menggunakan material tenun Sulawesi Tenggara (Sultra).

Posuo sendiri merupakan salah satu tradisi dari daerah tersebut. "Posuo adalah tradisi pingitan selama 8 hari untuk remaja yang akan beranjak dewasa. Jadi, busana ini akan menginterpretasikan kepolosan dan keceriaan para gadis Sulawesi Tenggara lewat warna dan siluet," kata Ferry.

Mengolah kain adati memang bukan hal baru bagi Ferry. Selama ini ia juga sering mengeksplorasi batik dan tenun Bali.

Kali ini, ia sengaja memilih tenun asal Sultra demi memompa semangat kebangkitan setelah bencana banjir besar di Konawe. “Saya ingin menjadikan momen ini juga sebagai langkah bangkit masyarakat Sulawesi Tenggara yang memiliki kain cantik,” ujarnya.

Seperti pada koleksi-koleksi sebelumnya yang juga dipamerkan di Rusia, begitu pula untuk koleksi De Posuo. Koleksi berkonsep busana siap pakai itu akan dibawa ke Festival Indonesia Moskow (FIM), bulan depan. Itu merupakan tahun keempat bagi Ferry mendapat kesempatan ambil bagian oleh Kedutaan Besar RI di Moskow.

 

 

Sederhana tapi rumit

 

Dari tiga kali keikutsertaan sebelumnya, Ferry mengaku telah memahami karakter fesyen masyarakat Moskow. Mereka dinilai menyukai tampilan busana yang simpel meski sebetulnya juga kaya detail dan filosofis.

Ketika sisi filosofis telah ia masukkan lewat inspirasi tradisi Posuo, ia pun memilih potongan yang cukup sederhana tapi dibuat atraktif dengan permainan material dan aplikasi.

"Simpel dengan cuttingan sederhana, tapi dibuat dengan teknik yang cukup rumit,” katanya.

Tak hanya itu, menurutnya, orang Rusia juga menyukai warna-warna pastel jika dibandingkan dengan warna cerah untuk busana. "Ini seperti kebetulan karena memang signature kita pun lebih pada romantis dengan warna lembut, seperti butter yellow, mint green, dusty pink, dan lavender" lanjutnya.

Dalam peragaan itu, warna lembut terlihat dalam dua busana berwarna butter yellow dengan konsep two pieces. Satu di antaranya memakai celana model palazzo yang memiliki motif garis, atasannya dibuat dari perpaduan dua kain, yakni tenun dan tile untuk bagian bahu dan lehernya.

Busana lainnya, memiliki tampilan hampir sama, tapi dipadukan dengan rok ramping selutut. Atasannya pun dibuat dari velvet berbelahan dada rendah. Seluruh koleksi ini dipercantik dengan aksesori buatan Rinaldy A Yanuardi.

Ferry menambahkan, peragaan di Moskow direncanakan dilakukan di atas jembatan ikonik di Krasnaya Presnya Park dengan target pengunjung mencapai 150 ribu orang. Ia berharap penjunjung tahun ini akan lebih banyak dari tahun sebelumnya yang juga terus meningkat. (M-1)

BERITA TERKAIT