Desa Terdampak Kekeringan di Jawa semakin Meluas


Penulis: Djoko Sardjono - 14 July 2019, 08:15 WIB
MI/Djoko Sardjono
 MI/Djoko Sardjono
BPBD Klaten droping air bersih di desa kawasan lereng Gunung Merapi.

LUAS wilayah yang mengalami kekeringan akibat terdampak kemarau kian bertambah.  Seperti terjadi di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, kekeringan telah merambah 11 dari 24 desa yang terancam.

Untuk meminimalkan dampak kekeringan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten telah menetapkan status siaga kekeringan sejak 1 Juni hingga 31 Oktober 2019. Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Klaten, Sri Yuwono Haris Yulianto, mengatakan 11 desa yang mengalami kekeringan telah diberikan bantuan air bersih total sebanyak 136 tangki.

Desa yang mengalami kekering­an tersebut, antara lain Kendalsari, Sidorejo, Tegalmulyo, dan Bale­rante di Kecamatan Kemalang, serta Bandungan, Socokangsi, Beteng, dan Temuireng di Kecamatan Jatinom.

Tahun ini BPBD Klaten menyiapkan anggaran sebesar Rp200 juta untuk pendropan air sebanyak 800 tangki. Namun, jika kekeringan meluas, instansi itu akan menggunakan dana siaga lainnya sebesar Rp500 juta.

Terpisah, Pemerintah Kabupaten Garut melalui BPBD Garut telah menetapkan status siaga bencana kekering­an setelah banyak lahan pertanian mengalami kekeringan. Kekeringan itu telah melanda 42 kecamatan di Kabupaten Garut.

“Pemerintah daerah sudah membentuk tim reaksi cepat untuk menanggulangi masalah air bersih dan kebakaran hutan,” kata Kepala Pelaksana BPBD Garut, Dadi Zakarya, kemarin.

Menurutnya, penetapan status siaga bencana kekeringan disebabkan banyaknya lahan pertanian yang telah mengalami kekeringan dan bisa berdampak pada krisis air bersih.

Kebakaran lahan
Kekeringan berkepanjangan telah mengakibatkan meluasnya kebakaran hutan  dan lahan (karhutla) di Kabupaten Flores Timur (Flotim), Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Tercatat kebakaran meluas di ­beberapa wilayah hingga mencapai ratus­an hektare. Sejumlah titik kebakaran terdapat di wilayah daratan Tanjung Bunga, Pulau Solor, dan sebagian Pulau Adonara. Saat ini, di Pulau Solor, terpantau tersebar banyak titik api.

Warga Pulau Solor, Maksi Werang, ketika ditemui kemarin, ­mengatakan sempat panik saat melintas dan ­menyaksikan lokasi kebakaran hutan dan lahan yang terus meluas selama empat hari terakhir di Kecamatan Solor Timur.

Dia melanjutkan, meski api menyebar cepat, hingga kini belum ada upaya pemadaman. “Kemarin saya lewat dan melihat lokasi kebakaran di Desa Mananga, Kecamatan Solor ­Timur. Ada juga titik api di sekitar Desa Nuhalolon, Solor Barat. Hutan padang yang sebagain besar ditumbuhi ilalang hangus terbakar dan semakin meluas karena angin cukup keras selama musim kemarau ini,” ujar Maksi.

Dia mengatakan diperkirakan sekitar seratus hektare lahan telah terbakar selama empat hari terakhir. Saat ini, lanjutnya, asap masih terlihat membubung.

Setiap tahun, lanjutnya, di lokasi itu memang sering terjadi karhutla.

Ketika kebakaran terjadi, warga  sulit memadamkan api karena akses ke lokasi sukar dijangkau. Maksi bersama warga sekitar hanya menggunakan perlatan seadanya untuk menjinakkan api. Namun, upaya mereka tidak efektif karena api cepat membesar dan meluas. (AD/FR/N-3)

BERITA TERKAIT