14 July 2019, 07:15 WIB

Rekonsiliasi Berawal di Kursi MRT


Dero Iqbal Mahendra | Politik dan Hukum

MI/PIUS ERLANGGA
 MI/PIUS ERLANGGA
Presiden Joko Widodo (kanan) berbincang bersama Prabowo Subianto (kiri) saat berada dalam gerbong MRT Jakarta.

STASIUN MRT Lebak Bulus kemarin pagi hiruk pikuk tidak seperti biasa. Puluhan petugas keamanan berjaga  di sudut-sudut bangunan yang berada 30-an meter di atas permukaan tanah tersebut.

Ratusan calon penumpang dikejutkan dengan keberadaan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang mengenakan kemeja putih di seberang lift. Tidak lama, dari dalam lift muncul Presiden Joko Widodo dengan warna kemeja yang sama.

Sontak para pengunjung pun histeris begitu kedua negarawan tersebut berjabat tangan, berpelukan, dan cipika-cipiki. Inilah momen pertemuan pertama mereka setelah gelaran Pilpres 2019.

“I love you, Bapak,” teriak salah seorang pengunjung.

Jokowi dan Prabowo lalu beranjak ke MRT menuju Stasiun Senayan untuk menggelar konferensi pers bersama.

“Saya terima kasih atas pengaturan sehingga kami bisa bertemu Pak Prabowo. Kini tidak boleh ada lagi penyebutan 01 ataupun 02. Tidak boleh lagi ada lagi penyebutan cebong dan kampret karena yang ada ialah Garuda Pancasila,” kata Jokowi.

“Dikatakan beliau (Jokowi) kita bersahabat, memang seperti itu. Saya setuju enggak ada cebong-cebong, enggak ada kampret-kampret. Semua Merah Putih. Selamat bekerja. Saya ucapkan selamat tambah rambut putih, Pak. Kami siap membantu untuk kepentingan rakyat,” timpal Prabowo.

Ketua TKN Joko Widodo-Ma’ruf Amin, Erick Thohir, berharap pertemuan Jokowi-Prabowo menjadi momentum sirnanya sekat politik selama ini.

“Pak Jokowi dan Prabowo memperlihatkan jiwa kesatria merangkul seluruh elemen bangsa demi Indonesia maju. Program yang ditawarkan Jokowi dan Prabowo memiliki landasan sama, yakni membangun manusia Indonesia yang andal, sejahtera, berdaulat, dan mandiri,” ujar Erick.

Wakil Sekjen Partai Gerindra Andre Rosiade sependapat dengan Erick. Pertemuan kedua tokoh utama ini bertujuan agar Indonesia kembali bersatu. “Intinya pertemuan dua negarawan untuk kebangsaan. Bukan untuk deal-deal sama sekali. Saatnya kita kembali guyub untuk membangun bangsa setelah kompetisi selesai.”

Dalam penilaian mantan Ketua MK, Mahfud MD, seusai pertemuan Jokowi dan Prabowo ada pekerjaan yang harus segera dilakukan oposisi.

“Apakah mau menjadi lembaga kontrol dan penyeimbang di parlemen. Kalau mau bergabung di dalam pemerintahan, juga boleh. Yang penting fair dan terbuka. Semua ingin mengabdi kepada bangsa,” kata Mahfud kepada Metro TV, kemarin.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanudin Muhtadi, berharap pertemuan Jokowi dan Prabowo menurunkan tensi politik yang belum mereda pascapemilu.

“Tentu ada implikasi bagi 01. Kalau Gerindra masuk, otomatis ada kalkulasi ulang,” tandas Burhanudin.

Di sisi lain, mantan cawapres Sandiaga Uno menegaskan dirinya tetap menjadi oposisi. “Saya akan menjadi mitra kritis dan konstruktif. Pemerintah membutuhkan oposisi yang memberikan masukan untuk menjadikan Indonesia adil dan makmur.” (Uta/Uca/Pro/Pol/Ins/Ant/X-3)

BERITA TERKAIT