14 July 2019, 07:05 WIB

Federer Akui Djokovic Solid


Despian Nurhidayat | Olahraga

Daniel LEAL-OLIVAS / AFP
 Daniel LEAL-OLIVAS / AFP
Petenis Serbia Novak Djokovic

PETENIS putra terbaik dunia, Novak Djokovic, sudah tahu bagaimana mengalahkan Roger Federer di laga pemungkas ajang bergengsi Wimbledon, malam ini. Sebaliknya, Federer menyampingkan usia untuk merengkuh trofi grandslam ke-21 sepanjang karier.

Djokovic membuka asa mempertahankan gelar Wimbledon setelah di semifinal mengalahkan petenis Spanyol, Roberto Bautista Agut, dengan 6-2, 4-6, 6-3, 6-2, Jumat­ (12/7) malam, sedangkan Federer mencapai final grand slam ke-31 melalui penampilan terbaik dengan mengalahkan unggulan kedua asal Spanyol, Rafael Nadal, dengan 7-6(3), 1-6, 6-3, 6-4 yang berlangsung selama tiga jam 20 menit, Sabtu (13/7).

“Dengar, ini bukan pertama kalinya bermain melawan Federer di lapangan utama,” kata Djokovic yang unggul 25-22 sepanjang bentrok dengan Federer.

“Saya sudah memiliki pengalaman itu lebih dari sekali. Seperti yang saya katakan, saya tahu apa yang harus dilakukan,” tandas bintang asal Serbia yang mengejar trofi grand slam ke-16 itu.

“Aku siap dan bertarung dan memberikan semuanya. Ini final Wimbledon. Ini pertandingan yang selalu saya impikan sebagai anak-anak. Saat saya bermain raket tenis, bermimpi menjadi bagian laga final,” kata Djokovic.

Di sisi lain, Federer mengakui Djokovic tampil konsisten di Wimbledon. “Novak ialah juara bertahan dan dia telah menunjukkan hal itu minggu ini,” tambah Federer.

“Dia benar-benar solid. Saya akan mencoba dan mengalahkannya, tetapi itu akan sulit karena tidak sia-sia dia pemain nomor satu dunia,” tandas Federer, 37, yang menjadi semifinalis tertua ajang grand slam sejak Jimmy Connors pada AS Terbuka 1991.

Federer juga menjadi petenis pria ketiga tertua di final tenis grand slam. Tercatat Ken Rosewall menjadi finalis Wimbledon dan AS Terbuka pada 1974 saat berusia 39 tahun.

Federer yang lima tahun lebih tua, tidak merasa usia menghalangi­ untuk menjadi juara Wimbledon. Kendati ini menjadi final yang berjarak 16 tahun dari saat dia pertama kali menjadi kampiun di grand slam lapangan rumput itu pada 2003 dengan mengalahkan petenis Australia, Mark Philippoussis.

“Bagi saya, itu bukan sesuatu yang pernah saya harapkan. Memenangi gelar pada 2003 itu ialah sesuatu yang begitu nyata. Senang bisa kembali ke final lain. Ini sangat berarti bagi saya,” tegas Federer.

Federer sudah tiga kali bentrok dengan Djokovic di Wimbledon. Memenangi semifinal di 2012, sedangkan Djokovic unggul pada 2014 dan 2015. Secara keseluruhan Djokovic unggul 9-6 pada duel di ajang grand slam.

Tidak maksimal
Di bagian lain, Rafael Nadal mengaku tidak mengeluarkan aksinya secara maksimal takluk dari Roger Federer. Mencetak 10 ace, 32 winners dengan hanya 25 kesalahan, tetapi statistik yang mengesankan tak cukup membuat petenis Spanyol itu melampaui peringkat tiga dunia Federer.     

“Sayangnya, saya tidak merasa hebat seperti hari-hari sebelumnya. Ketika mulai memukul bola, saya merasa tidak bisa menguasai lapangan,” tutur peringkat dua dunia berusia 33 tahun itu melalui atptour.com, kemarin.    

Nadal yang unggul 24-16 di rekor pertemuan kedua petenis, harus berbesar hati menyerahkan kursi ke final kepada Federer, yang tampil menghasilkan 51 winners hanya dengan 27 kesalahan sendiri. Terlebih Federer tercatat telah memenangi tiga dari empat kali bentrok di lapangan­ rumput.

Nadal yang bulan lalu meraih grand slam Prancis Terbuka untuk kali ke-12, harus memupus asa mengulang prestasi 2008 dan 2010, yakni ketika mampu juata di Prancis Terbuka dan Wimbledon.

Kendati demikian, Nadal memiliki persiapan untuk menghadapi musim lapangan keras Amerika Serikat. Selain itu, ia juga menjadi pemain pertama yang lolos ke Final Nitto ATP tahun ini, yang diadakan di London, Inggris, 10-17 November. (AFP/R-2)

BERITA TERKAIT