13 July 2019, 23:20 WIB

Merajut Persatuan ala Relawan Milenial


Melalusa Susthira K | Politik dan Hukum

 MI/PIUS ERLANGGA
  MI/PIUS ERLANGGA
Tokoh Inspiratif Indonesia Erick Thohir (kiri) dan mantan cawapres Sandiaga Uno (kanan)

SETELAH dua tokoh bangsa, Joko Widodo dan Prabowo Subianto, melakukan pertemuan silaturahim sambil menjajal moda raya terpadu (MRT), kelompok milenial dari kedua kubu pun berkolaborasi menyerukan persatuan.

Kelompok milenial pendukung Jokowi yang tergabung dalam KitaSatu berkolaborasi dengan milenial pendukung Prabowo yang tergabung dalam Gerakan Milenial Indonesia.

Kebersamaan itu dikemas dalam forum Young Penting Indonesia ­bertema Future leader is coming di salah satu pusat perbelanjaan di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Sabtu (13/7).

Ratusan kalangan milenial pendukung paslon 01 dan 02 pada Pilpres 2019 membaur dalam ­balutan kostum merah putih. Mereka sepakat mengakhiri rivalitas selama pilpres dan merajut kembali persaudaraan demi pembangunan bangsa ke depan.

Hadir dalam acara tersebut mantan cawapres paslon 02 Sandiaga Uno serta Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi-Amin, Erick Thohir. Erick dan Sandi tidak lagi mengenakan kaus 01 dan 02, tapi sama-sama memegang bingkai kaus merah putih bernomor 03.  

Erick mengatakan saat ini merupakan momentum yang tepat bagi ­seluruh komponen bangsa untuk bersatu dan bergotong royong membangun bangsa.

“Kalau kita lihat ke depan, ini adalah saat yang tepat untuk kita bersatu, bangun bersama dan bergotong royong,” katanya.

Pada masa kampanye, kata dia, seluruh pihak sepakat menyatakan bahwa generasi muda merupakan ujung tombak bangsa ini. Apabila generasi muda mampu bersatu pada 1928 dan 1945, lanjutnya, generasi muda harus dapat pula bersatu pada 2019.

“Generasi muda mesti bisa menjalani, menghadapi tantangan luar biasa ke depan dengan mimpi 2045. Mulai saat ini generasi muda harus membangun kariernya masing-masing, baik menjadi pengusaha, profesional, maupun inovator,” jelas Erick.       

Ia menilai pertemuan antara Jokowi dan Prabowo serta kolaborasi kelompok milenial kedua kubu merupakan sejarah baru demi Indonesia yang satu padu ke depan.

“Saya dan Bang Sandi berharap acaranya enggak bubar hari ini. Mari tiap bulan kita bikin training positif, tentang entrepreneur dan sebagainya, saya dan Bang Sandi siap berkontribusi,” janji Erick disambut tepuk tangan hadirin.

Bersahabat
Sandi menyatakan pertemuannya dengan Erick kali ini bukanlah bentuk rekonsiliasi. Pasalnya, keduanya tidak pernah punya persoalan yang perlu direkonsiliasikan.

“Saya sama Pak Erick ini ­bersahabat, bahwa kita sama-sama mencintai Indonesia. Rekonsiliasi itu kalau ada permusuhan. Jadi saya sama Erick­ enggak perlu rekonsiliasi,” ujar Sandi yang dalam acara itu duduk berdampingan dengan Erick.

Meskipun demikian, Sandi tak memungkiri perbedaan pilihan politik antara dirinya dan Erick saat kontestasi Pilpres 2019. Menurutnya, perbedaan ialah suatu keniscayaan dalam demokrasi.

“Kita boleh berbeda, tapi tidak boleh bermusuhan. Kita berbeda pilihan kemarin, tapi pada intinya ­punya harapan yang sama, yaitu yang penting Indonesia,” terangnya.

Sementara itu, inisiator acara Young Penting Indonesia, Arief Rosyid­, mengatakan gerakan kolaborasi tersebut merupakan upaya konkret dari kelompok milenial untuk mengakhiri polarisasi yang sempat terjadi dalam pilpres lalu. “Kita harus bergerak dari tahapan kompetisi ke tahapan kolaborasi dengan bersama membangun bangsa,” cetusnya.

Sementara itu, Ketua Umum ­KitaSatu, Pradana Indraputra, menyatakan pertemuan itu menunjukkan generasi milenial memilih jalan demokrasi untuk memperkuat bangsa. (Ins/P-3)

BERITA TERKAIT