Budaya Lokal Antar-UMKM RI Tembus Pasar Dunia


Penulis: (Ata/J-3) - 13 July 2019, 22:20 WIB
MI/MOHAMAD IRFAN
 MI/MOHAMAD IRFAN
Pameran bertema Mendorong Pertumbuhan Melalui UMKM Go Export dan Go Digital tersebut menampilkan UMKM unggulan binaan Bank Indonesia.

TEUKU Dhahrul Bawadi, salah satu pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) binaan Bank Indonesia (BI) membagikan kiat suksesnya menembus pasar internasional. Pemuda asal Aceh itu menjadi salah satu pembicara dalam talk show bertajuk UMKM Menembus Pasar Internasional, dalam hajatan Karya Kreatif Indonesia 2019, di JCC, Jakarta, Sabtu (13/7).

“Sejak 2017 bergabung ke dalam UMKM BI, peningkatan produk sangat signifikan. Pada 2016 baru sekitar 4 ton. Setelah dibina BI menjadi 10 ton sampai 12 ton per tahun,” ungkap Dhahrul, pemilik Bawadi Coffee yang telah dirintisnya sejak 2014.

Dhahrul menceritakan, dengan bergabung di UMKM binaan BI, dirinya diberikan banyak pengarahan terkait dengan pengelolaan bisnis, administrasi, hingga strategi pemasaran.

Pengetahuan dan pengalamannya­ berbisnis, jelas Dharrul, dipadu dengan ilmu kekinian yang diajarkan dalam UMKM binaan BI membuatnya lebih terbuka tren dunia. “Kita modifikasi dengan sentuhan lokal, maka produk kita menjadi sesuatu yang unik di mata konsumen dunia,” ujarnya.  

Hal yang sama dikisahkan perajin kain asal Badui, Amir. Dirinya mengungkapkan sejak 2014 mulai bergabung menjadi UMKM binaan BI, dan berhasil mengembangkan bisnisnya hingga ke ranah internasional.

“Dengan adanya KKI, jadi bisa menjalin relasi dengan fashion designer. Produk dari kain lurik khas Banten ini akan diperagakan di Australia minggu depan,” paparnya.

Tercatat sebanyak 370 UMKM binaan BI memamerkan produknya di Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2019 selama tiga hari hingga 14 Juli 2019.

KKI merupakan acara tahunan yang diadakan Bank Indonesia sebagai wadah bagi pelaku UMKM potensial dari seluruh Indonesia. Mereka memamerkan karyanya dan menjual kepada masyarakat luas di ajang ini.

Diakui Kepala Departemen Pengembangan UMKM dan Perlindungan Konsumen BI Budi Hanoto, bahwa pihaknya menekankan para pelaku UMKM untuk menonjolkan karakteristik Indonesia pada setiap produk yang dihasilkan.
Pasalnya, potensi terbesar yang dimiliki Indonesia, yakni pada kekayaan alam dan budaya. Hal itu kemudian dapat menjadi nilai jual tersendiri di pasar internasional.

“Kita menekankan pada potensi kita. Kompetensi kita di keunikan, Teknik pengerjaannya, terus homemade. Itu luar biasa kalau cita rasa seninya tinggi, berapa pun harganya akan dibeli,” tutur Budi.

Budi mengungkapkan, dari 91 UMKM binaan BI yang sukses menembus pasar internasional, mayoritas, yakni produk dengan cita rasa Indonesia yang tinggi, seperti kain hingga kopi.

“Mayoritas itu ada kain, kerajinan, ada makanan dan minuman olahan, seperti kopi dan cokelat. Pokoknya produk dengan nilai keunikan yang hanya Indonesia yang miliki,” tuturnya.

Seperti diketahui, BI memiliki 898 UMKM binaan yang tersebar di seluruh Indonesia. BI berupaya meningkatkan daya saing  dan akses bagi UMKM mempromosikan barangnya ke dunia. Salah satunya ialah KKI ini. (Ata/J-3)

BERITA TERKAIT