Aja Cedhak Kebo Gupak


Penulis: ONO SARWONO - 14 July 2019, 02:30 WIB
MI
 MI
Ilustrasi

JUDUL di atas ialah pitutur kuno di Jawa, yang berarti jangan berdekatan dengan kerbau kotor. Maknanya, dalam bergaul, carilah teman (orang) yang baik, hindari berteman dengan orang yang tidak baik.  

Dalam dunia politik, tidak jarang orang (politikus) atau elite di negeri ini yang baik, pintar, potensial, dan prospektif, akhirnya suram namanya karena tergelincir, bergabung dengan orang atau golongan (kelompok) yang bergaris politik ugal-ugalan.

Pertanyaannya, kenapa ada yang dikenal publik akan segala kebaikannya, tetapi mendekati ‘kerbau kotor’? Barangkali, ini yang tampak, karena alasan pragmatisme, iming-iming jabatan atau kekuasaan. Akibatnya, bukan kemuliaan yang didapat, melainkan sinar potensi dirinya meredup, bahkan lenyap.

Dalam dunia wayang, fenomena paradoks itulah yang terjadi pada Karna Basusena. Kesatria, yang dari bibit dan bobotnya sangat berkualitas, menjadi sia-sia kiprahnya di dunia karena berada pada kubu zalim.    

Berguru ke Ramaparasu
Karna lahir dari rahim Kunti, dari benih yang ditanam dewa Kahyangan Ekacakra, Bathara Surya. Karena kelahiran yang tidak dikehendaki dan terutama karena dianggap mempermalukan nama baik keluarga besarnya, Prabu Basukunti (Raja Mandura), orok Karna yang diletakkan dalam gendaga (kotak) dilarung (dihanyutkan) di Sungai Gangga.

Bayi itu kemudian ditemukan Adirata, kusir kereta milik Adipati Drestarastra di Kerajaan Astina. Ketika itu, Adirata bersama istrinya, Rada, sedang laku prihatin di pinggir sungai memohon anugerah dewa agar dianugerahi putra setelah sekian lama tidak memiliki anak.

Betapa kagetnya Adirata ketika melihat bayi yang baru saja ia temukan telah mengenakan serupa pakaian perang. Pikirnya, ini pertanda bahwa sang bayi bakal menjadi senapati perang. Adirata kemudian memberi nama bayi itu Basusena. Kelak namanya menjadi Karna Basusena.  

Di Kadipaten Petapralaya, Adirata dan Rada bersama-sama membesarkan Karna dengan penuh kasih sayang seperti anak kandungnya sendiri.

Pada suatu ketika, saat beranjak dewasa, Karna ikut ayahnya seba (sowan) ke Istana Astina. Di sana, ia melihat para pangeran Astina, Kurawa dan Pandawa, sedang bergeladi berbagai ilmu di bawah asuhan serta komando sang guru, Bambang Kumbayana alias Durna.

Karna tertarik ingin ikut belajar dan menjadi murid Durna di Padepokan Sokalima. Namun, impiannya kandas. Ia ditolak Durna karena statusnya dianggap berderajat sudra sampali (jelata). Padahal, sejatinya Karna ialah trahing kusuma rembesing madu atau berdarah biru alias keturunan kaum ningrat, bahkan juga anak dewa.

Karna kecewa dengan penolakan itu. Namun, itu tidak sampai membuatnya mutung (patah hati). Ia belajar dan berlatih sendiri berbekal ilmu yang ia ‘curi’ dari Durna ketika mendidik Kurawa-Pandawa.

Merasa masih belum percaya diri, Karna kemudian berguru kepada Resi Ramaparasu dalam suatu periode tertentu.

Karna kemudian menjadi pemuda tampan dan sakti mandraguna. Salah satu keistimewaannya, ia mahir memanah dan bahkan mampu menyaingi kepintaran Arjuna, murid terbaik Durna.

Kehebatannya memanah itu secara diam-diam ia tunjukkan ketika Pandawa dan Kurawa melaksanakan ujian pendadaran siswa Sokalima. Semua terkesima, termasuk Durna. Bahkan, Arjuna sempat tersulut emosinya karena merasa diremehkan sehingga sempat terjadi perkelahian.

Durna marah dan mengusir Karna untuk meninggalkan tempat jika tidak ingin menerima hukuman negara. Namun, atas saran Sengkuni, sulung Kurawa, Duryudana, malah merekrut Karna sebagai saudara Kurawa.   

Adirata kecewa
Bukan hanya itu, Duryudana yang kemudian menjadi raja di Astina memberikan Karna wilayah Awangga. Di daerah yang masih di bawah kekuasaan Astina itu, Karna menjadi pemimpin bergelar Adipati Karna.

Pada suatu ketika, Karna yang telah lama meninggalkan bapak dan ibu angkatnya kembali ke rumah di Petapralaya. Di depan orangtuanya, Karna menyatakan terima kasih atas didikan mereka hingga akhirnya menjadi penguasa di Awangga atas kebaikan hati Duryudana.

Di luar dugaannya, Adirata bukanlah bangga, melainkan malah marah besar. Bahkan, ia meluapkan kekecewaannya. Itu karena tidak sesuai dengan impiannya agar Karna menjadi kesatria sejati. Bukan malah kepincut dengan kedudukan sehingga menggadaikan harkat dan martabatnya.

Menurut Adirata, Karna seharusnya tidak bergabung, apalagi menjadi bagian dari Kurawa (Duryudana). Hematnya, Kurawa ialah keluarga (rezim) zalim. Kurawa menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekuasaaan di Astina. Padahal, takhta hak Pandawa sebagai ahli waris.

Adirata meminta Karna untuk mengundurkan diri atau berpisah dengan Kurawa bila masih mengaku dirinya sebagai orangtuanya. Bila tidak, dirinya akan mengusirnya. Karna merasa ancaman keras Adirata itu bagai geledek menyambar kepalanya.   

Karna memang bukan lagi anak kecil. Ia juga pribadi yang keras kepala, apalagi dalam memegang prinsip. Singkat cerita tidak ada titik temu antara dirinya dan sang bapak. Pada akhirnya, Karna meninggalkan Petapralaya dan tetap memilih mengabdi kepada Duryudana.

Sikapnya itu dilatarbelakangi sumpahnya yang telah terucap di depan Duryudana. Ia menyatakan menghibahkan jiwa raganya bagi rezim Kurawa di bawah kepemimpinan Duryudana. Karena itu pula, Duryudana mengangkatnya sebagai senapati agung Astina.

Sejujurnya, Karna menyadari rezim Kurawa zalim. Namun, ia merasa berutang budi atas kebaikan Duryudana. Di sini dilematiknya. Demi martabatnya, Karna akhirnya tetap membela Kurawa hingga pecah perang Bharatayuda, meski sejak awal disadari betul bahwa dirinya akan hancur.

Bak angin lalu
Karna roboh dan gugur di Kurusetra setelah lehernya terpagas panah pasopati yang dilepas adiknya lain ayah, Arjuna. Perang kakak-adik ini dalam dunia pakeliran tersua dalam lakon Karna Tanding.

Poin dari kisah ini ialah Karna yang kodratnya merupakan kesatria pilih tanding (sulit dicari tandingannya), tapi menjadi sia-sia pengabdiannya di marcapada karena bergaul (bergabung) atau berpihak pada Kurawa yang gupak, yang nyata-nyata zalim.

Dalam kisahnya, Karna sebenarnya senantiasa memengaruhi Duryudana (Kurawa) untuk bertindak dalam garis-garis keutamaan. Namun, akibat ambisi kekuasaan, suara-suara Karna diabaikan, bak angin lalu.
Realitas suram inilah yang sejak semula tidak diinginkan Adirata.  Tidak ada gunanya kesatria sakti mandraguna kalau itu dipersembahkan atau untuk mendukung kezaliman. (M-2)

BERITA TERKAIT