Merefleksikan Persatuan dalam Sambatan


Penulis: GALIH AGUS SAPUTRA - 14 July 2019, 02:05 WIB
MI/Ebet
 MI/Ebet
Ilustrasi

ADA kesibukan yang terjadi di kampung saat penulis pulang. Pagi itu terlihat orang-orang di luar rumah mulai sibuk dengan tenda dan kursi. Salah satu di antaranya juga sudah kembali dari makam di dekat rumah dan mengabarkan bahwa ada sejumlah tetangga yang sudah mengukur dan siap-siap menggali sepetak tanah di dekat makam almarhum nenek. Ini merupakan sepenggal cerita pada 11 Januari 2013 atau lebih tepatnya ialah hari kakek berpulang di Sanggrahan, yang merupakan sebuah kampung kecil di Ambarawa, Kabupaten ­Semarang, Jawa Tengah.   

Sementara itu, di lain tempat dan di lain waktu, ada seseorang bernama Sogol. Ia ialah seorang pria yang ditemui di daerah Wonolelo, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, saat ­bekerja sebagai fasilitator bantuan rumah tidak layak huni (RTLH) Kabupaten Magelang menjelang akhir 2018.

Sogol selama ini hidup di rumah yang atap dan dindingnya terbuat dari kayu serta bambu, sedangkan alasnya berupa tanah. Penghasilannya selama ini tidak cukup untuk memperbaiki rumah sehingga ia masuk daftar penerima bantuan walau belakangan sempat khawatir karena dana yang diberikan pemerintah sebesar Rp10 juta diperkirakan tidak cukup untuk memperbaiki rumah.

Beruntung, kekurangan itu sedikit banyak dapat teratasi karena pembangunan dapat dilakukan secara bertahap sembari menabung, pun tetangga di Wonolelo bersedia meluangkan waktu dan tenaga untuk membantu perbaikan rumahnya.

Dua kisah seperti di atas selama ini banyak ditemukan di daerah Jawa Tengah. Orang-orang kerap menyebutnya dengan sambatan yang berasal dari bahasa Jawa, yaitu kata sambat atau yang berarti mengeluh. Mengeluh, barang tentu memiliki kesan yang kurang enak didengar. Namun, sambatan sendiri nyatanya memiliki narasi yang cukup baik dan indah, apalagi jika ditelaah berdasarkan kacamata sosiolog, seperti yang hendak dijelaskan oleh Sri Suwartiningsih yang merupakan pengamat sosial sekaligus pengajar sosiologi dan hubungan internasional Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga, Jawa Tengah.   

Menurutnya, sambatan sangat mungkin terjadi karena pada dasarnya manusia selalu membutuhkan orang lain saat menjalani aktivitasnya masing-masing. “Manusia di satu sisi adalah mahluk individual, tapi di sisi lain ia juga mahluk sosial. Dalam hidupnya, manusia selalu butuh yang namanya tolong-menolong, tapi yang menarik dalam sambatan ini tolok ukurnya bukanlah materi,” tuturnya.

Sangkul sinangkul
Sambatan, lanjut Sri, dewasa ini telah menjadi salah satu kearifan lokal yang dimiliki masyarakat di Indonesia. Mereka, khususnya dalam masyarakat Jawa Tengah, sudah punya warisan nenek moyang berupa kebijaksanaan atau yang disebut sangkul sinangkul (baca: tolong-menolong).  

“Jadi, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing itu sebenarnya ­sudah sangat melekat dalam tatanan masyarakat kita. Nah, dalam perspektif sosiologi hal itu disebut dengan ‘sosiologi mekanis’.

Tetapi karena adanya perkembangan zaman atau modernisasi, kemudian sangkul sinangkul-nya itu sedikit banyak mulai luntur yang mana orang-orang kemudian menghitung tenaga dalam konteks upah. Transaksinya juga berubah menjadi transaksi organis, yang artinya jika si aku ini bekerja, si kamu harus punya duit hingga kemudian terjadilah transaksi ekonomi,” imbuh Sri.

Sosiologi mekanis sendiri, kata Sri, secara sederhana dapat digambarkan dengan tatanan masyarakat yang bekerja dengan cara mengisi kekosongan satu sama lain. Sementara itu, dalam sosiologi organis, orang-orang hanya bekerja seturut dengan tugasnya masing-masing atau yang sebagaimana terlihat dalam tatanan masyarakat yang mengenal struktur sehingga tidak memungkinkan satu sama lain untuk bekerja di luar fungsi strukturalnya.

“Padahal, pada zaman dulu masyarakat kita tidak seperti itu. Misalnya, jika saya ingin membangun rumah, tetapi saya tidak punya duit untuk membayar tukang, maka dari itu datanglah para tetangga untuk membantu sesuai dengan kemampuan dan kehendaknya masing-masing. Kalau ada yang bisa memasak, ya dia memasak untuk orang-orang yang membangun. Kalau ada yang punya hasil bumi, misalnya, singkong, ya dibawalah hasil bumi itu ke tempat orang yang punya sambatan. Jadi, berjalanlah sangkul sinangkul satu sama lain itu,” tutur Sri.

Sri selanjutnya menjelaskan bahwa dengan sambatan, bahkan orang-orang sebenarnya tidak perlu khawatir jika tidak punya uang. Itu karena uang hanyalah perangkat pertukaran yang sifatnya sekunder, sedangkan yang primer sebenarnya ialah tenaga manusia dan sumber daya alam di sekitarnya. Melalui sambatan, orang dapat menjalani hidup tanpa tekanan karena mereka bisa hidup dengan siklus tolong-menolong.

Berangkat dari kebijaksanaan itu pula, wajar rasanya jika dewasa ini kerap muncul anggapan dari orang-orang yang hidup di kota besar bahwa orang yang hidup di desa itu selalu terlihat bahagia walau gaya hidupnya serbasederhana. Namun demikian, hal itu juga patut diperhatikan karena rasa tolong-menolong itu sendiri dewasa ini sudah mulai luntur karena dikejar arus roda modernisasi.

“Ini sebenarnya menjadi tantangan generasi yang hidup di era digital dalam merawat kearifan lokal, yakni semuanya sudah ­transaksional seperti di negara maju sehingga mau tidak mau setiap orang harus survive dalam menjalani hidup. Mereka harus punya asuransi kesehatan, asuransi masa tua, dan segala macam. Karena apa? Kita sudah semakin tidak bisa mengandalkan orang lain. Semuanya sudah tertata,” terang Sri.

Melihat kenyataan tersebut, Sri selanjutnya menyarankan agar kearifan lokal di Indonesia harus betul-betul dijaga. Sambatan, sebagai salah satu kearifan lokal juga akan sangat berguna jika diimplementasikan dalam pembangunan nasional sebab dengan langkah seperti itu negara bisa mengehemat utang karena segala macam di dalamnya dapat digarap secara ‘berbarengan’.

Sambatan sendiri, kata Sri, dewasa ini sebenarnya tidak hanya berlaku di Jawa Tengah. Banyak masyarakat di luar Pulau Jawa yang mengamini nilai dalam kebijaksanaan tersebut, sekalipun namanya berbeda-beda di setiap daerahnya. Sambatan berjalan dengan ‘bahasanya masing-masing dan dapat ditemukan di daerah, misalnya, NTT, Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatra. Atau dengan kata lain, setiap daerah di Indonesia selalu memiliki kearifan yang menggerakkan masyarakatnya masing-masing untuk hadir dan saling menolong tanpa dibayar karena berjalan dengan asas kesukarelaan. (M-4)

BERITA TERKAIT