Mella Jaarsma: 21 Tahun Reformasi


Penulis:  (Jek/M-4) - 14 July 2019, 01:15 WIB
ANTARA/DOTO KARUNDENG
 ANTARA/DOTO KARUNDENG
Seniman asal Belanda yang menempuh pendidikan kesenian di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta,

BEBERAPA pekan setelah meletusnya tragedi 1998, di pinggiran jalanan Yogyakarta ada sekumpulan ‘londo’ yang mengundang perhatian masyarakat. Mereka menggoreng katak untuk disantap bersama. Seniman di balik karya performance bertajuk Pribumi-Pribumi itu ialah Mella Jaarsma.

Mella merupakan seniman asal Belanda yang menempuh pendidikan kesenian di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, dan telah lama menetap di Indonesia.

Mella merupakan salah satu seniman yang turut menyaksikan masa transisi Indonesia sekaligus menuangkannya dalam karya-karyanya. Ia seorang Belanda yang merekam Indonesia dari Yogyakarta.

Pada awal kedatangannya untuk menempuh studi tersebut, pada 1984, Mella diminta untuk menandatangani perjanjian oleh pemberi beasiswa pendidikan saat itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, agar ia tidak terlibat dalam tiap gerakan politik.

Pribumi-Pribumi (1998) merupakan respons atas realitas yang Mella lihat, ketika situasi di masyarakat saat itu begitu kacau, dan menemukan fenomena ketika semuanya tiba-tiba harus mengaku ‘pribumi’ akibat terdesaknya kaum minoritas.

Lewat karya itu, ia ingin menjadikan karya sebagai medium diskusi mengenai sesuatu yang masih bisa diperdebatkan sebab katak bagi warga muslim dianggap tidak boleh dimakan. Namun, swike, katak goreng juga merupakan kelaziman bagi masyarakat di Jawa.

“Kita sangat memanfaatkan karya untuk berhubungan dengan isu politik. Pada bulan terakhir Soeharto, saya merasa harus turun ke jalan. Punya ide untuk bikin sesuatu yang bisa mendiskusikan mengenai isu minoritas di Indonesia. Kaget situasi seperti itu pada zaman itu, banyak yang melindungi toko-toko mereka dengan pasang tanda.

Kok ada rasisme seperti itu,” kenang Mella saat berdiskusi di Museum MACAN, Jakarta Barat, Sabtu (11/5).

Proses penciptaan Pribumi-Pribumi memakan waktu satu setengah bulan setelah terjadi kerusuhan. Menurutnya, ia memerlukan waktu untuk mengolah berita. Ia melanjutkan, “Saya sebagai orang Belanda, adalah bagian dari sejarah ini. Lewat menggoreng katak, saya ingin ada diskusi. Makanan sebagai idiom untuk membangun komunikasi.”

Nama Mella mulai lebih berdenting ketika ia mendirikan Rumah Seni Cemeti di Yogyakarta pada 1988. Ia bersama suaminya, Nindityo Adi­purnomo menggunakan Cemeti sebagai medium untuk berjuang sekaligus berekspresi. Pada saat awal pendiriannya, rumah kebudayaan itu bernama Galeri Cemeti.

Menurut Mella, pada era 1980 hingga 1990-an, para seniman relatif bebas dalam menciptakan swasensor agar karya yang dibuat tidak diberedel pemerintah kala itu. “Kita mencari cara, dulu pameran pun harus ada izin untuk karyanya dulu, tetapi di Cemeti, kita pakai izin usaha, hahaha. Seniman bisa mencari cara dan jalan keluar.”

Relevansi publik
Karya-karya Mella lekat dengan materi tubuh, busana, dan figur-figur yang tertutup. Mella juga saat ini turut menyertakan karyanya dalam pameran Dunia Dalam Berita di Museum MACAN yang berlangsung hingga Juli.

Beberapa karya yang ditampilkan, di antaranya I Eat You Eat Me (2002). Pada kesempatan itu pula, Mella kembali menginisiasi karya performance tersebut dengan meminta pengunjung yang ingin berpartisipasi harus memesankan makanan dan menyuapi ke salah seorang lainnya.

Sebagai seniman kontemporer, Mella mengaku ia selalu mengejar relevansi yang dikerjakannya. Ia tak ingin hanya terjebak pada estetika karya dan melupakan fungsi seni sebagai mediumnya.

“Apa yang kita lakukan harus relevan, ruang untuk mengkritisi. Agar ketika orang melihat karya mereka harus berpikir, jangan hanya indah. Selalu berangkat dari posisi publik, bicara pada siapa karya saya.

Publik lebih besar, menarik. Sebagai seniman juga harus berkembang dan kreatif, serta punya kepedulian. Aktualitas, bergabung dengan publik, harus bertanya kembali apa yang relevan dan nyambung.” (Jek/M-4)

 

BERITA TERKAIT