14 July 2019, 00:25 WIB

Kolaborasi Musik Lintas Genre di Prambanan Jazz


(AT/M-2) | Hiburan

MI/ARDI TERISTI HARDI
 MI/ARDI TERISTI HARDI
Aksi panggung Anggun membawakan lagu yang populer di era 1990-an, mampu mengajak penonton bernyanyi bersama

LAGU Tua-Tua Keladi menutup penampilan Anggun dalam sesi special show Prambanan Jazz 2019, Minggu (7/7). Energinya dalam membawakan lagu yang pernah populer di era 1990-an itu mampu mengajak penonton beranjak dari tempat duduk sambil bernyanyi bersama.

Walau jam sudah menunjuk hampir pukul 23.00 WIB, pesta musik malam itu belum usai. Begitu musik Anggun di panggung special show berhenti, Tulus bersama band pengiringnya langsung memainkan musik mereka. Animo penonton pun tidak surut. Semua hanyut dalam lagu-lagu Tulus yang berlirik dalam.

Prambanan Jazz Festival yang telah digelar kelima kalinya ini tampak semakin bersinar. Walau bertajuk festival jaz, musik-musik yang ditampilkan lintas genre, dari pop, balada, orkestra, rock, dan tentu saja jaz.

Tengok saja sederet nama besar musisi dunia yang tampil, seperti Yanni, Brian McKnight 4, Anggun, dan Calum Scott. Sementara itu, artis dalam negeri yang ikut menjadi bagian dari pergelaran ini, antara lain Andien, Tompi, Glenn Fredly, Ari Lasso, Tulus, Yura Yunita, GAC, Maliq & D’Essential, Yovie & His Friends, Rida-Sita-Dewi, Bali Lounge, JHF Jazz Version, hingga Tashoora.

Total sekitar 57 ribu pengunjung hadir dalam pergelaran festival musik tiga hari bertaraf internasional tersebut.

Menurut Andien, konsep kolaborasi dalam dengan menampilkan beragam genre musik sebagai salah satu cara untuk membuat dunia musik lebih menggeliat, termasuk musik jaz. Menurutnya, jika jaz dipresentasikan sama seperti puluhan tahun lalu, anak-anak muda tidak akan melirik.

“Sekarang musik, termasuk jaz, sudah lintas, dikolaborasikan dengan pop, dibawain sama DJ, dibawain rapper, dibawain secara hiphop,” kata dia.

Senada dengan Andien, Glenn Fredly menyebut, kekuatan musik itu ada dalam kolaborasinya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Musik tidak bisa menutup diri ataupun dimonopoli musikus tertentu agar industri musik tetap terus berjalan dinamis.

“Dalam musik, regenerasi penting. Enggak bisa dimonopoli atau isinya festival elu lagi-elu lagi,” kata dia.

Beberapa penonton yang hadir pun mengaku tidak tidak mempedulikan penyematan istilah jaz dalam festival tersebut. Mereka hanya melihat susunan artis yang tampil dan konsep acara yang disajikan.

Putri Zulva, misalnya, ia bersama temannya datang ke Prambanan Jazz karena melihat ada Tulus dalam jajaran artis yang bakal tampil.

Bagi penonton yang lain, Laila Lathifu, ada pengalaman baru ketika menonton gelaran musik di kawasan heritage. “Kalau di Jakarta, biasanya di kafe. Ini di tempat heritage,” kata perempuan muda yang bekerja di Jakarta ini. (AT/M-2)

BERITA TERKAIT