14 July 2019, 00:00 WIB

Impresi Sederhana Genre Nature Run Amok


Fathurrozak | Weekend

DOK. IMDB.COM
 DOK. IMDB.COM
 Luapan air bah turut membawa aligator ke rumah Haley.

OKTOBER tahun lalu, ­Negara Bagian Florida, Amerika Serikat, dilanda badai Michael yang ­mencapai kategori 4 dengan angin kencang berkekuatan mematikan 175 mph (281 km/jam). Michael ­melibas ­bangunan, menerbangkan atap ­rumah, dan memicu banjir bandang di salah satu negara bagian terkaya di ‘­Negeri Paman Sam’ tersebut.

Menonton Crawl, bak melihat kembali badai Michael yang me­ngacaukan Florida. Tampak hidup dan meyakinkan.

Film tersebut merupakan ­garapan terbaru sutradara ­Alexandre Aja (Piranha 3D), dan diproduseri Sam ­Raimi, sutradara orisinal Spider-Man.

Crawl berlatar pada peristiwa ­badai kategori 5 yang melanda Florida. Berpusat pada kisah Haley Keller (Kaya Scodelario) dengan ayahnya, Dave Keller (Barry ­Pepper), yang terjebak di tengah badai, di rumah lama mereka.

Keduanya bukanlah kategori manusia yang mengabaikan peringatan badai karena punya optimisme atau enggan mengungsi sebab tidak ingin tidak ada kepastian. Mereka memang benar-benar terjebak. Atau apesnya lagi untuk Haley, terpaksa menjemput ayahnya ketika semua warga tengah dievakuasi karena Dave tidak bisa dihubungi sejak ­peringatan datangnya badai disiarkan di televisi.

Dalam film thriller berdurasi 87 menit ini, relasi antara Haley dan sang ayah yang tengah retak diposisikan sebagai subplot yang menghantarkan penonton kepada horor yang menjadi inti film.

Meski ‘sekadar’ subplot, motivasi karakterisasi yang muncul terasa organik. Bangunan dialog dalam drama ayah-anak tersampaikan dengan wajar dan sebab-akibat dari peristiwa manusianya menjadi normal diterima.

Melegakan layaknya rollercoaster
Dikisahkan, luapan air bah turut membawa aligator ke rumah Haley. Bersama dengan Dave yang tengah terluka, Haley harus berjuang untuk menyelamatkan diri dari ancaman predator yang bersiap mengoyak tubuh mereka tersebut. Di saat yang sama, banjir di rubanah tempat mereka berada semakin meninggi seiring badai yang kian intens. Akankah mereka bertahap hidup atau mati tragis; tenggelam dan menjadi mangsa aligator?

Praktis, suspense menjadi berlipat. Kita akan merasakan ketegangan dari ancaman, merasa jijik sekaligus ngeri karena darah yang bercecer, dan upaya meloloskan diri dari maut meski selipan komedi sudah ditambahkan, seperti aksesori di mobil Haley yang memperlihatkan hiu menelan manusia dan menyisakan kakinya atau kabar dari radio yang menginformasikan ketinggian air seolah jadi retorik.

Setelah sebelumnya membesut Piranha 3D (2010), yang merupakan remake dari film produksi 1978 berjudul serupa, Aja kini kembali bermain-main dengan genre nature run amok/killer animal.

Subgenre horor tersebut lazim menghadirkan karakter hewan pembunuh, utamanya hiu raksasa macam Jaws-nya Steven Spielberg atau The Meg yang dibintangi Jason Sthatam. Ada pula Alligator (1980) yang menghadirkan kengerian sewujud Crawl atau burung-burung dalam The Birds yang disutradarai Alfred Hitchcock.

Film-film dengan latar manusia versus hewan demikian, boleh jadi berhasil atau gagal total. Crawl dengan sangat sederhana merepresentasikan bahwa ‘creature-future’ atau nature run amok itu sendiri mampu memberikan impresinya, tanpa harus berekspektasi tinggi. Kita cukup duduk, pasang sabuk pengaman, lalu menikmati sengatan adrenalin layaknya menaiki rollercoaster.

Seperti itulah menonton Crawl, kita tahu pada akhirnya akan ­melegakan meski selama film itu diputar, selalu ada sengatan teror yang menyentak kursi empuk penonton. (M-2)

BERITA TERKAIT