11 July 2019, 18:36 WIB

Surat untuk Gie dan Badil


Adiyanto, Wartawan Media Indonesia | Opini

dok.MI
 dok.MI
adiyanto

BUKU kecil kumal itu teronggok di kasur. Judulnya Catatan Seorang Demonstran. Sewaktu mahasiswa, buku itulah yang menemani saya di pembaringan. Kadang cuma satu dua halaman, cukup sebagai pengantar lelap. 

Buku itu sendiri berkisah tentang aktivitas keseharian (almarhum) Soe Hok Gie, aktivis mahasiswa dan pendiri organisasi mahasiswa pecinta alam Universitas Indonesia (Mapala UI) di era 60-an. Saking berkesannya, hampir semua tokoh yang disebut di buku itu, saya ingat hingga kini. Maria, Rina Bekti, Sunarti, Herman, Arief Budiman, Ci'il (Syahrir), hingga Badil. 

Saya membayangkan, betapa menariknya pergaulan mereka saat itu. Kuliah, demonstrasi, naik gunung, ramai-ramai nonton teater di Taman Ismail Marzuki, hingga terlibat asmara kecil-kecilan. Saya ingin seperti mereka.

Belakangan, saya mengenal beberapa di antara tokoh-tokoh di buku itu. Badil (lengkapnya Rudy David Badil), saya kenal melalui tulisan-tulisannya di Kompas (sarjana antropologi itu berkarier sebagai wartawan di harian tersebut hingga pensiun) dan sempat bersua di beberapa kesempatan. Sedangkan Rina (nama aslinya Luki Sutrisno), kebetulan pernah satu kantor dengan saya di Media Indonesia (kini dia juga telah purna tugas).  Menurut cerita Luki, mereka masih bersahabat dan kerap bertemu. Sebagian opa-oma ini, bahkan sesekali masih suka mendaki gunung.

Secara tidak langsung, dari merekalah saya belajar tentang pentingnya merawat pertemanan, dedikasi pada profesi, serta cara-cara dalam menulis. Hok Gie yang kadang bergaya melankolis, Luki dengan bahasanya yang terstruktur rapi, serta Badil yang jenaka (selain dalam tulisan, bakat ngocolnya dia wujudkan dengan membentuk warkop bersama mendiang Dono, Kasino, Nanu, dan Indro).

Kini, warung kopi banyolan itu kian sepi dan cuma menyisakan Indro. Kamis (11/7) pagi ini, Badil, si wartawan jenaka dan pendaki tangguh itu telah pergi. Tak ada lagi ransel butut disandangnya, juga celoteh-celoteh segar (kadang nyerempet jorok), yang kerap dilontarkannya saat mendaki gunung.

Terima kasih Om Badil. Selamat meniti nirwana. Titip juga catatan kecil ini untuk Gie di sana. (X-12)

BERITA TERKAIT