09 July 2019, 00:20 WIB

Berkah Osing Menggaet Turis Asing


Teguh Nirwahyudi | Nusantara

MI/TEGUH NIRWAHYUDI
 MI/TEGUH NIRWAHYUDI
Deputi Gubernur Senior BI, Mirza Adityaswara (kanan), bersama warga memukul lesung di Desa Adat Kemiren, Banyuwangi.

KEBUDAYAAN menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi, Jawa Timur (Jatim), untuk menambah isi pundi penerimaan daerah dari sektor pariwisata. Dengan mengedepankan budaya lokal, lima tahun terakhir kunjungan turis lokal maupun mancanegara ke kabupaten di ujung timur Jawa ini meningkat signifikan.

Berdasarkan data Pemkab Banyuwangi, pada 2014 jumlah pelancong ke Banyuwangi sekitar 1,4 juta. Tahun lalu jumlahnya melonjak menjadi 5,1 juta, yakni dari mancanegara 127 ribu dan domestik 5 juta.

"Mempertahankan budaya Osing merupakan strategi kami. Salah satunya, kami minta semua hotel ikut menghargai budaya melalui arsitektur. Setiap bagian dari interior hotel dipercantik ornamen lokal. Pemda juga menyubsidi para pemilik rumah khas Osing sebesar Rp10 juta per rumah agar mereka menjaga dan merawat bangunan tersebut," kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas dalam diskusi bertajuk Mendorong Pertumbuhan Ekonomi melalui Pengembangan Pariwisata, di Desa Adat Kemiren, Kabupaten Banyuwangi, Sabtu (6/7) malam.

Di samping arsitektur, Pemkab Banyuwangi merangkul para seniman agar mengeksplo-rasi kesenian Osing menjadi atraksi yang memikat wisatawan untuk datang kembali ke Tanah Blambangan tersebut.

"Kami punya puluhan festival seni, kuliner, maupun olahraga yang rutin terselenggara setiap tahun. Semuanya melibatkan masyarakat. Ini menjadi pemikat bagi wisatawan untuk selalu berkunjung ke sini," lanjut Anas.

Kedatangan wisatawan sudah barang tentu mengangkat perekonomian masyarakat. Setiap wisatawan asing membelanjakan dana sekitar Rp3,7 juta per kunjungan. Adapun pelancong domestik sebesar Rp1,6 juta. Apabila ditotal dalam setahun, belanja wisatawan mencapai kisaran Rp8,7 triliun pada 2018. Untuk biaya promosi wisata hanya menelan anggaran sebesar Rp19 miliar.

"Orientasi dan konsep (pembangunan) kami bermula dari pariwisata. Sejak 10 tahun silam, dengan sadar kami memilih pariwisata sebagai lokomotif perekonomian. Pemda lain memilih industri. Kini, sekitar 60% wisatawan yang datang ke Banyuwangi mengaku tertarik dengan budaya kami," ujar Azwar Anas.

Berkah pariwisata yang kini dirasakan Banyuwangi ialah berkurangnya jumlah orang miskin. Pada 2010 jumlah penduduk miskin mencapai 20,9% dari populasi sebesar 1,5 juta, sedangkan tahun tahun lalu menurun menjadi 7,8% dari populasi 1,7 juta.

"Dulu kantong-kantong kemiskinan berada di pinggiran hutan dan di kawasan pantai. Dengan pariwisata, pelan tapi pasti kami bisa menekan jumlah orang miskin di kawasan tersebut," ungkap Bupati.

Contoh nyata

Dalam penilaian Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara, saat ini perekonomian nasional memerlukan topangan dari sektor pariwisata untuk menambah penerimaan negara.

"Banyuwangi ialah contoh nyata sebuah kabupaten yang berhasil melakukan transformasi di sektor pariwisata sebagai penggerak ekonomi," kata Mirza dalam diskusi itu.

Mirza mengakui Bupati Banyuwangi berhasil meyakinkan pemerintah pusat, anggota dewan, dan masyarakat untuk menjadikan pariwisata sebagai penggerak ekonomi daerah. "Hasilnya, tahun lalu pertumbuhan ekonomi Banyuwangi mencapai 5,8%. Lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,5%," jelasnya.

Pada Juli ini Kabupaten Banyuwangi dimeriahkan 13 event yang telah dimulai dengan Festival Sastra pada3 Juli lalu. Hari ini festival film pendek juga mulai digelar, yang diisi dengan workshop tentang film hingga lomba film pendek dalam beragam tema. (UA/N-1)

BERITA TERKAIT