07 July 2019, 06:40 WIB

Perempuan Aisyiyah Jadi Duta Pengurangan Sampah


(WJ/N-2) | Nusantara

MI/Widjajadi
 MI/Widjajadi
Dua peserta dari 629 kader Aisyiyah mengikuti kegiatan jambore di Bumi Perkemahan Umbang-Umbang Tawangmangu

ADA yang berbeda pada gelaran Jambore Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana Aisyiyah di Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Sabtu (6/7).

Selain belajar teori dan pengetahuan soal menjaga lingkungan dan sampah, peserta dalam kegiatan yang dimotori Direktorat Pengelolaan Sampah, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan itu juga mempraktikkannya secara langsung.

Sebagai bentuk praktik, di antaranya, selama jambore berlangsung, Jumat-Sabtu (5-6/7), peserta membatasi produksi sampah, terutama plastik. Untuk minum tidak ada air mineral kemasan plastik. Mereka menggunakan wadah dan air isi ulang.

Saat makan pun, mereka selalu prasmanan atau dibungkus dengan kemasan organik, seperti daun pisang. Tidak ada kotak nasi dari bahan plastik atau kardus.

Seusai jambore, 629 peserta yang merupakan kader Aisyiyah dari 35 pengurus daerah di Jawa Tengah itu dibekali sejumlah bibit tanaman keras. Mereka diminta menanamnya di lingkung­an masing-masing.

“Tujuan dari digelarnya jambore oleh Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana Aisyiyah Jateng bekerja sama dengan  Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan ini ialah meningkatkan pemahaman mengenai pentingnya peran perempuan dalam pengelolaan lingkungan hidup dan pengurangan risiko bencana,” tutur Ketua Pengurus Wilayah Aisyiyah Jawa Tengah, Ummul Baroroh, saat membuka Jambore di Bumi Perkemahan Umbang-Umbang, Tawangmangu.

Menurut dia, Jawa Tengah merupakan wilayah yang sangat rentan bencana, yakni gempa bumi dan longsor karena kerusakan lingkungan dan produksi sampah plastik berlebih. Kondisi itu harus mendapat perhatian serius dari seluruh anak bangsa, terutama perempuan.

Perempuan Aisyiyah, lanjutnya, tepat diposisikan sebagai srikandi tangguh. Selama ini, mereka sudah mengambil peran dalam mengelola lingkungan sehingga Jawa Tengah menjadi tangguh dalam menghadapi bencana.

Pada kesempatan itu, Kepala Sub-Direktorat Pengelolaan Sampah Spesifik dan Daur Ulang, Ari Sugasri, menambahkan bahwa ancaman sampah plastik sangat mengerikan karena baru bisa diurai satu juta tahun. “Di Indonesia, dari produksi sampah 620 juta ton per tahun, 15% di antaranya merupakan sampah plastik.”

Karena itu, lanjutnya, para ibu Aisyiyah diajak berperan aktif memerangi sampah plastik, di antaranya dengan mendaur ulang plastik menjadi barang yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Pemerintah menargetkan pada 2025 ada pengurangan sampah rumah tangga hingga 30% di sumbernya. Sejumlah kegiatan digelar dalam jambore itu, di antaranya knowledge sharing, workshop, kajian fikih kebencanaan, fikih air, dan tadabur alam. (WJ/N-2)

 

BERITA TERKAIT